Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Kalau Mau Cari Uang Jangan Jadi Guru, Terus Mereka Mau Makan Apa? Tenaga Dalam?

Mukhamad Bayu Kelana oleh Mukhamad Bayu Kelana
7 September 2025
A A
Guru SD Cuma Manusia Biasa tapi Dituntut Serba Bisa. Jangan Menaruh Ekspektasi Berlebihan pada Kami

Guru SD Cuma Manusia Biasa tapi Dituntut Serba Bisa. Jangan Menaruh Ekspektasi Berlebihan pada Kami (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Baru saja kemarin kita disuguhi oleh statemen Menteri Keuangan, Sri Mulyani, yang dengan enteng bilang soal gaji guru dan dosen yang kecil “Semuanya harus negara yang tanggung?” Ucapan itu bikin banyak orang geleng-geleng kepala. Belum reda obrolan soal itu, eh sekarang giliran Menteri Agama Nasaruddin Umar yang ikut menyumbang kalimat kontroversial, “Guru itu tujuannya mulia, bagaimana memintarkan anak orang itu tujuannya, bukan cari uang. Kalau mau cari uang jangan jadi guru, jadi pedagang lah,”

Lengkap sudah, guru di negeri ini seperti jadi bulan-bulanan dua kementerian sekaligus.

Memang, profesi ini sering dipuja-puji sebagai profesi mulia. Tapi pujian itu terasa seperti slogan kosong ketika keseharian mereka masih diwarnai keresahan soal gaji pas-pasan, tunjangan tak menentu, dan beban kerja yang tak ada habisnya. Guru tetaplah manusia biasa yang butuh makan, bayar listrik, dan mencicil motor.

Lalu ketika pejabat minta guru hanya berpikir amal jariyah dan kemuliaan, pertanyaan paling sederhana yang muncul adalah kalau mulia saja nggak cukup buat beli beras, terus mereka-mereka ini mau makan apa?

Dipuji mulia, digaji biasa-biasa saja

Sudah bertahun-tahun profesi guru disanjung dengan istilah pahlawan tanpa tanda jasa, profesi mulia, bahkan kini ditambah embel-embel “Nabi kecil” dari Menteri Agama Nasaruddin Umar. Kalimat itu memang manis diucapkan, tapi getir di perut ketika realitasnya jauh berbeda. Guru tetap saja berjibaku dengan gaji yang pas-pasan. Bahkan ada yang honornya lebih kecil daripada uang jajan anak SMA di kota besar.

Yang membuat miris, setiap kali isu gaji guru mencuat, jawaban pejabat selalu sama: harus ikhlas. Padahal, ikhlas itu urusan pribadi, bukan kewajiban negara. Ketika ikhlas dijadikan tameng, nasib guru akhirnya hanya berhenti di pujian seremonial tanpa ada peningkatan kesejahteraan yang nyata. Guru diberi sebutan mulia, tapi anggaran yang disiapkan untuk mereka sering kali tak ikut dimuliakan.

Pemerintah seolah lupa bahwa tanpa kesejahteraan, sulit bagi guru untuk sepenuhnya fokus mengajar. Bagaimana mau konsentrasi mendidik generasi kalau pikiran terus terbagi ke masalah bayar kontrakan, biaya sekolah anak, atau cicilan motor? Jadi, alih-alih meminta guru untuk menerima keadaan dengan lapang dada, bukankah lebih bijak bila negara berusaha menghapus alasan-alasan yang membuat mereka harus terus berlapang dada?

Amal jariyah mengalir, tapi dapur tetap perlu ngebul

Tidak ada yang menolak bahwa mendidik adalah amal jariyah. Tapi, sekuat apa pun iman seorang guru, amal jariyah tidak bisa dipakai untuk membayar listrik, beli beras, atau top up saldo e-wallet. Nasaruddin Umar mungkin benar ketika menyebut guru harus punya niat tulus. Namun, niat tulus saja tidak cukup ketika kenyataan di lapangan membuat mereka harus kerja ekstra di luar jam mengajar hanya untuk menutup kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga:

8 keresahan guru agama, pekerjaan tidak maksimal karena dianaktirikan Kemendikdasmen 

Di Balik Sekolah Elit yang Eksploitatif dan Manipulatif Ada Guru yang Menderita karena (Terpaksa) Jadi Ojek dan ART untuk Yayasan 

Guru les privat, yang nyambi jualan online, atau yang bahkan harus kerja kasar di luar sekolah bukanlah fenomena asing. Itu bukan semata pilihan, melainkan kebutuhan untuk bertahan hidup. Databoks Katadata bahkan mencatat rata-rata gaji guru di Indonesia hanya sekitar Rp2,4 juta per bulan. Jauh lebih rendah dibanding Malaysia atau Thailand yang bisa dua sampai empat kali lipatnya.

Lebih getir lagi, status guru honorer juga masih menggantung. Dari target satu juta pengangkatan, baru sebagian yang terealisasi. Jadi wajar kalau banyak guru akhirnya cari jalan lain demi dapur tetap ngebul.

Ketika negara terus menuntut mereka untuk fokus pada kemuliaan profesinya, rasanya tak adil jika negara sendiri masih pelit dalam memberi penghargaan yang setimpal. Amal jariyah memang mengalir sampai mati, tapi slip gaji tetap harus datang tiap bulan.

Guru diminta suci, tapi sistem pendidikan masih karut-marut

Ucapan Menteri Agama Nasaruddin Umar bahwa guru harus “suci di langit dan suci di bumi” terdengar agung, tapi di lapangan justru dibebani hal-hal yang sering membuat mereka jauh dari kata tenang. Administrasi seabrek, kurikulum yang sering gonta-ganti, hingga status honorer yang tak kunjung jelas. Mereka dituntut sempurna, tapi sistem pendidikan kita masih berantakan.

Yang lebih penting sebenarnya bukan menuntut mereka untuk jadi nabi kecil tanpa cela. Melainkan bagaimana negara menciptakan sistem yang memudahkan mereka menjalankan perannya. Guru tidak butuh diposisikan setinggi malaikat, mereka hanya butuh diakui sebagai manusia yang bekerja keras dan pantas mendapat gaji yang layak. Sesederhana itu, tapi entah kenapa masih terasa seperti kemewahan.

Kalau guru memang profesi mulia, ya muliakan juga kesejahteraannya

Ucapan Menteri Agama Nasaruddin Umar mungkin diniatkan untuk memotivasi, tapi tanpa perbaikan nyata, kalimat itu hanya terdengar seperti nasihat kosong. Sama halnya dengan ucapan Sri Mulyani sebelumnya, yang mempertanyakan kenapa gaji guru dan dosen harus ditanggung negara. Padahal, siapa lagi yang bertanggung jawab kalau bukan negara?

Guru bukan sekadar profesi, mereka adalah penopang masa depan bangsa. Kalau negara serius menyebut guru itu profesi mulia, maka kemuliaan itu harus diwujudkan juga dalam bentuk kesejahteraan yang layak. Bukan cuma lewat pujian dan slogan, melainkan lewat kebijakan konkret dan gaji yang manusiawi, sistem yang adil, dan perlindungan yang nyata. Karena mereka hanya bisa mengajar dengan sepenuh hati ketika perutnya tidak terus-menerus berdebat dengan isi dompet.

Penulis: Mukhamad Bayu Kelana
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sebaiknya Kita Berhenti Menganggap Guru Itu Profesi Mulia, agar Mereka Bisa Digaji Jauh Lebih Layak

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 September 2025 oleh

Tags: gaji guruguruGuru Honorerprofesi guruSri Mulyani
Mukhamad Bayu Kelana

Mukhamad Bayu Kelana

Mahasiswa Sarjana Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang.

ArtikelTerkait

pertanyaan di kelas

Alasan Kenapa Pelajar di Indonesia Suka Takut Nanya/Jawab Pertanyaan di Kelas

27 April 2020
Opini Goblok 2024 Sesat Pikir Anak Pasangan Guru Harus Cerdas (Unsplash)

Anak Pasangan Guru Harus Cerdas Adalah Sesat Pikir yang Menyiksa Anak

15 Januari 2024
Guru Honorer Minggat, Digusur Negara dan Guru P3K (Unsplash) dapodik

Cleansing Guru Honorer, Kado Pahit Guru pada Awal Tahun Ajaran Baru, “Dibasmi” Seakan Bukan Manusia

17 Juli 2024
Tujuan P5 Adalah Penanaman Nilai Pancasila, Bukan Bikin Pentas!

Tujuan P5 Adalah Penanaman Nilai Pancasila, Bukan Bikin Pentas!

28 November 2023
Dilema Jadi Anak ASN Tata Usaha: Mau Cari Beasiswa kok Statusnya Anak ASN, tapi Nggak Dapet Beasiswa ya Susah Juga Bayar Kuliahnya

Dilema Jadi Anak ASN Tata Usaha: Mau Cari Beasiswa kok Statusnya Anak ASN, tapi Nggak Dapet Beasiswa ya Susah Juga Bayar Kuliahnya

2 Oktober 2023
Kantin Sekolah Adalah Penyelamat Guru yang Gajinya Rata dengan Tanah

Kantin Sekolah Adalah Penyelamat Guru yang Gajinya Rata dengan Tanah

24 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dosen wajib S3 itu bagus, tapi akses beasiswanya bikin pengin istigfar

Dosen wajib S3 itu bagus, tapi akses beasiswanya bikin pengin istigfar

31 Juli 2026
Cipatat, kecamatan di Bandung Barat yang kontribusinya sering luput dari perhatian orang-orang Mojok.co

Kasihan Kecamatan Cipatat lebih sering diingat buruknya, padahal punya banyak kontribusi lain bagi Bandung Barat

31 Juli 2026
Meski terancam DO karena modal nekat, kuliah akan selalu menjadi keputusan paling bijak yang pernah saya ambil

Meski terancam DO karena modal nekat, kuliah akan selalu menjadi keputusan paling bijak yang pernah saya ambil

28 Juli 2026
Tarif parkir SCBD Jakarta bikin syok, bisa buat dua kali makan di kampung  Mojok.co

Tarif parkir SCBD Jakarta bikin syok, bisa buat dua kali makan di Jogja

27 Juli 2026
Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

30 Juli 2026
Naik Kereta Dhoho Penataran dari Surabaya ke Kediri: Mata Dimanjakan, tapi Punggung Tersiksa

Kalah war tiket kereta Dhoho Penataran artinya harus menderita, karena berdiri di kereta ini betul-betul menyiksa

29 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.