Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

3 Hal yang Bikin Mahasiswa Semarang Iri Berat sama Mahasiswa Solo

Rahul Diva Laksana Putra oleh Rahul Diva Laksana Putra
7 April 2025
A A
3 Hal yang Bikin Mahasiswa Semarang Iri Berat sama Mahasiswa Solo solo raya, surakarta, kota solo

3 Hal yang Bikin Mahasiswa Semarang Iri Berat sama Mahasiswa Solo (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai anak Boyolali yang sehari-hari hidup di Semarang karena kuliah, saya sebenarnya nggak asing-asing amat sama Solo. Jarak dari rumah ke pusat Kota Solo cuma selemparan sandal dari gerbang desa. Dari kecil saya sudah akrab dengan suasana Manahan, jalan-jalan sore di Sriwedari, jajan di Galabo, dan nongkrong lesehan di bawah flyover Purwosari. Maka, waktu saya pindah ke Semarang buat kuliah, saya pikir ini saatnya jadi anak kota yang keren.

Tapi ternyata, jadi anak kota itu nggak selalu seglamor yang dibayangkan. Semarang itu kota besar yang seru, iya. Tapi juga panasnya naudzubillah, macetnya kadang kayak Jakarta kecil, dan biaya hidupnya bisa bikin dompet mahasiswa menangis di pojokan.

Dari situlah rasa iri itu muncul. Iri dengan mahasiswa Solo. Bukan cuma karena mantan saya sekarang kuliah di Solo dan udah punya gandengan baru, tapi karena Solo itu sendiri terlalu nyaman untuk tidak dicintai. Berikut ini adalah tiga hal yang bikin saya, mahasiswa Semarang asal Boyolali, merasa hidup di Solo jauh lebih enak.

Biaya hidup di Solo lebih bersahabat daripada Semarang

Di Semarang, kos standar saja bisa menyentuh angka Rp700 ribu per bulan, bahkan di dekat kampus saya rata-rata bayarnya pertahun. Kalau mau yang deket kampus dan nggak horor, ya siap-siap bayar lebih. Itu belum sama biaya makan, bensin, print tugas, kuota, dan jajan biar nggak stres. Akhir bulan? Siap-siap jadi fakir mie instan.

Sementara teman-teman saya di Solo bisa hidup dengan lebih damai. Mereka bayar kos cuma Rp450 ribu, dapat kasur empuk, WiFi, dan ibu kos yang suka ngasih gorengan. Makan juga gampang, warteg murah, angkringan di mana-mana. Uang Rp10 ribu di Solo cukup buat beli nasi, sate usus, gorengan, dan teh hangat. Di Semarang? Itu baru cukup buat nasi kucing doang.

Solo itu nggak cuma murah, tapi juga manusiawi. Di sana, mahasiswa nggak harus kerja freelance 3 tempat cuma buat bayar sewa kos. Mereka punya ruang buat hidup, bukan cuma bertahan.

Cuaca lebih kalem, nggak bikin emosi

Saya pernah bangun pagi di Semarang dan merasa kayak udah hidup di dalam oven. Baru jam 8, tapi matahari udah menyinari kayak jam 12 siang. Jalan kaki dari kos ke kampus cuma 10 menit, tapi keringat mengalir kayak habis maraton. Rasanya tiap hari dikejar suhu, bukan jadwal kuliah.

Semarang itu panasnya nggak sopan. Angin jarang mampir, apalagi pas musim kemarau. Dan kalau udah siang bolong, jalanan bisa silau kayak cermin. Nggak heran kalau mahasiswa di sini lebih gampang emosi—bukan karena tugas, tapi karena cuaca.

Baca Juga:

Ironi UNNES Semarang: Kampus Konservasi, tapi Kena Banjir Akibat Pembangunan yang Nggak Masuk Akal

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

Di Solo beda. Udara lebih adem, jalanan lebih rindang, dan angin sering mampir. Bahkan siang hari pun masih enak buat jalan kaki. Di sekitar kampus UNS atau UMS, suasana tenang, banyak pohon, dan adem banget. Badan lebih segar, pikiran juga lebih ringan.

Sebagai anak Boyolali yang terbiasa dengan sejuknya hutan mini di desa, Semarang tuh kayak dunia lain. Mandi air dingin jadi tantangan, dan jalan siang hari harus siap dengan handuk kecil atau tisu di tas.

Kehidupan sosial dan budaya Solo terasa lebih akrab

Solo itu kota yang ramah. Mau nongkrong di angkringan, duduk di taman, atau sekadar beli teh poci, selalu ada kemungkinan buat ngobrol sama orang baru. Suasananya santai, nggak terburu-buru. Orangnya juga nggak gengsian. Di Solo, ngobrol ngalor-ngidul sambil lesehan itu udah jadi budaya.

Tempat nongkrong di Solo juga nggak harus mahal. Banyak ruang publik gratis yang nyaman. Sementara di Semarang, ruang seperti itu masih kurang. Nongkrong seringnya di kafe, yang kadang harga kopinya bisa buat makan dua kali di Solo.

Kehidupan budaya di Solo juga aktif banget. Dari festival seni, pertunjukan wayang, sampai diskusi sastra, semua ada. Sebagai mahasiswa sejarah, saya merasa Solo itu laboratorium budaya hidup. Nggak cuma teorinya yang bisa dipelajari, tapi praktik dan suasananya juga bisa langsung dirasain.

Saya pernah ikut diskusi budaya di taman kota Solo, ngobrol santai sama orang-orang dari berbagai kampus. Nggak ada sekat, nggak ada formalitas. Yang penting: kopi ada, obrolan jalan. Rasanya hangat dan dekat. Di Semarang? Hanya menemui forum forum diskusi santai biasanya hanya di sekitar kampus saya belajar dan itu pun hanya dari kalangan mahasiswa.

Akhir kata, meskipun saya sekarang hidup di Semarang, hati saya masih sering pulang ke Solo. Entah itu untuk sekadar beli cilok depan Benteng Vastenburg, ngopi santai di pinggir Jalan Slamet Riyadi, atau sekadar menikmati sore di Manahan. Solo itu bukan cuma kota, tapi suasana. Bukan sekadar tempat, tapi perasaan.

Saya nggak bilang Semarang buruk. Di sini saya banyak belajar, banyak berkembang, dan tentu saja banyak berpanas-panas ria. Tapi kalau disuruh milih tempat buat hidup lebih lama, mungkin saya akan jawab: Solo, kota mantan yang masih bikin saya susah move on.

Penulis: Rahul Diva Laksana Putra
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Saya Sudah Muak dengan Kota Solo yang Berhenti Nyaman dan Berhenti Menyenangkan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 April 2025 oleh

Tags: mahasiswa semarangmahasiswa soloSemarangsolo
Rahul Diva Laksana Putra

Rahul Diva Laksana Putra

Penulis jalanan sekaligus mahasiswa di Universitas Negeri Semarang. Peduli dengan berbagai keluh kesah publik ataupun isu sosial-politik.

ArtikelTerkait

Tawangmangu, Pilihan Jalur yang Tepat untuk Pulang Kampung ke Ponorogo dari Solo Mojok.co

Tawangmangu, Pilihan Jalur yang Tepat untuk Pulang Kampung ke Ponorogo dari Solo

20 Agustus 2024
Mengandaikan Rupa Semarang Jika UNDIP Tidak Pernah Ada: Ambyar!

Mengandaikan Rupa Semarang Jika UNDIP Tidak Pernah Ada: Ambyar!

25 April 2025
Stasiun Kudus, Kenangan yang Tertinggal di Rel Waktu (Unsplash)

Stasiun Kudus: Kenangan yang Tertinggal di Rel Waktu

30 Juni 2025
Banjarsari, Kecamatan Paling Overpower di Kota Solo, Semuanya Ada di Sini

Banjarsari, Kecamatan Paling Overpower di Kota Solo, Semuanya Ada di Sini

13 November 2025
Lagu “Go Go Kota Solo” Alasan Saya Suka Naik KRL Jogja-Solo Mojok.co

Lagu “Go Go Kota Solo” Alasan Saya Suka Naik KRL Jogja-Solo

24 Oktober 2024
Hargai Orang yang Belajar Bahasa Jawa, dong. Jangan Sedikit-sedikit Dibilang Nggak Pantas terminal mojok.co

Panduan Dasar Bahasa Jawa yang Solo Banget

11 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

BEM Unesa Gerombolan Mahasiswa Malas Kerja, Cuma Cari Muka (Ardhan Febriansyah via Wikimedia Commons)

Kuliah di Unesa Surabaya Itu Sangat Menyenangkan, asal Dosennya Betul-betul Ngajar, Bukan Ngebet Jurnal

20 Maret 2026
Lotek Khas Solo Bikin Pencinta Lotek Asal Jogja Culture Shock

Lotek Adalah Kuliner Favorit Warga Jogja yang Lebih Janggal dan Lebih Ganjil daripada Gudeg

20 Maret 2026
Soto Bandung: Kuliner Khas Bandung yang Rasanya Normal dan Pasti Cocok di Lidah Para Pendatang

Soto Bandung: Kuliner Khas Bandung yang Rasanya Normal dan Pasti Cocok di Lidah para Pendatang

15 Maret 2026
Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

Kritik untuk Kampus: Menulis Jurnal Itu Harusnya Pilihan, Bukan Paksaan!

19 Maret 2026
Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya Mojok.co

Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya

20 Maret 2026
KA Sri Tanjung, Juru Selamat yang Bikin Menderita para Pekerja (Wikimedia Commons)

KA Sri Tanjung Adalah Juru Selamat Bagi Kaum Pekerja: Tiketnya Murah dan Nyaman tapi Bikin Menderita karena Sangat Lambat

18 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.