Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Serbuan Plat Luar Jogja di Kala Musim Liburan, Ujian Kesabaran dan Fenomena yang Bikin Dilema Warga Jogja

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
1 April 2025
A A
Plat AB Meresahkan Jalanan Jogja karena Tidak Punya Empati (Pexels)

Plat AB Meresahkan Jalanan Jogja karena Tidak Punya Empati (Pexels)

Share on FacebookShare on Twitter

Setiap musim libur Lebaran, Jogja mendadak jadi kota penuh ujian. Bukan ujian hidup seperti ditanya “kapan nikah?” di acara kumpul keluarga, tapi ujian kesabaran di jalan raya. Bukan hanya karena volume kendaraan meningkat tajam, tapi karena ada satu fenomena yang sudah jadi momok tahunan: munculnya plat luar daerah.

Siapa pun yang tinggal di Jogja pasti paham betul. Ada dua musim yang harus dihadapi setiap tahun: musim hujan dan musim kendaraan plat luar menginvasi. Begitu masuk minggu Lebaran, plat-plat B, L, D, F, dan kawan-kawannya mulai membanjiri jalanan Jogja, membawa serta potensi drama dan cerita absurd di tiap lampu merah.

Jogja itu kecil, tapi…

Jogja itu sebenarnya kota yang ramah dan santai. Tapi, ketika kendaraan plat luar mulai menyerbu, semua berubah. Jalanan yang biasanya masih bisa dinikmati mendadak jadi arena survival. Para pemudik yang ingin bernostalgia atau sekadar wisata kuliner mendadak kehilangan kemampuan membaca Google Maps dengan benar. Tiba-tiba ada yang berhenti mendadak di tengah jalan, ada yang belok tanpa lampu sein, ada yang jalannya pelan banget seolah menikmati view Malioboro di tengah kemacetan.

Yang lebih parah? Yang asal putar balik di tengah jalan, bikin yang di belakang hampir kena serangan jantung dadakan.

Sebagai warga lokal, kita tahu ada kode etik tidak tertulis dalam berkendara di Jogja. Seperti kalau lampu merah di simpang empat Gejayan nyala, ya tetap jalan aja kalau nggak ada polisi. Tapi sepertinya, kode etik ini tidak pernah sampai ke luar daerah. Makanya, setiap musim liburan, kita mendadak harus siap menghadapi berbagai aksi yang bisa membuat jiwa sabar kita diuji maksimal.

Fenomena “ugal-ugalan vs bingung sendiri”

Yang bikin unik, kendaraan plat luar ini biasanya terbagi jadi dua tipe ekstrem. Pertama, yang ugal-ugalan seolah jalanan ini milik kakek buyutnya. Mereka nyelip sana-sini, ngegas seenak jidat, dan sering kali membuat orang lokal hanya bisa menghela napas panjang. Kedua, yang kebingungan sendiri, berjalan sangat pelan di jalur cepat, atau tiba-tiba berhenti di perempatan tanpa alasan yang jelas. Fenomena ini sering terjadi di perempatan Tugu, simpang empat Gejayan, atau di sekitar UGM. Kalau sudah begitu, suara klakson jadi semacam backsound wajib di jalanan.

Kadang saya berpikir, apakah sebelum masuk Jogja mereka mendapat briefing khusus dari komunitasnya? “Oke, kalau masuk Jogja, jangan ragu bikin warga lokal geregetan. Mau berhenti mendadak? Gas! Mau belok tanpa sein? Hajar! Mau ngebut di jalan kampung? Cobain aja!”

Efek liburan dan sentimen warga lokal Jogja

Kenapa ini terjadi? Beberapa analisis ngawur dari pengamat lalu lintas amatir seperti saya menyimpulkan bahwa ada beberapa faktor. Pertama, Jogja selalu jadi destinasi favorit setiap libur panjang, sehingga jumlah kendaraan bertambah drastis. Kedua, wisatawan sering tidak terbiasa dengan karakter jalan di Jogja yang relatif kecil dan kadang membingungkan. Ketiga, euforia liburan membuat mereka lebih santai, terlalu santai malah, sampai lupa kalau mereka tidak sendirian di jalan.

Baca Juga:

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi 

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Belum lagi, di Jogja banyak jalan yang sistemnya one way. Nah, para pengendara plat luar ini biasanya tidak ngeh, baru sadar pas sudah kelewat jauh. Akhirnya, apa? Muter balik sembarangan di tempat yang nggak seharusnya. Kalau ada polisi, mereka langsung panik, belok ke gang kecil, lalu tersesat di pemukiman warga.

Sementara itu, warga lokal yang sudah lelah dengan ritme keseharian justru harus menghadapi invasi ini. Setiap tahun, timeline media sosial penuh dengan curhatan orang Jogja yang geregetan melihat aksi para pengendara plat luar ini. Ada yang bikin thread panjang di Twitter, ada yang curhat di Instagram Story, ada juga yang hanya bisa mengumpat dalam hati sambil meremas setang motor.

Haruskah kita marah, atau justru kasihan?

Dilema terbesar warga Jogja setiap musim liburan adalah: marah atau memaklumi?

Di satu sisi, kita ingin protes karena jalanan jadi chaos. Tapi di sisi lain, kita sadar kalau mereka hanya ingin menikmati Jogja seperti kita juga menikmati kota mereka saat pergi ke luar daerah. Kita juga harus ingat, sektor pariwisata Jogja hidup karena wisatawan, jadi meski mereka bikin kesel, mereka tetap membawa rezeki bagi banyak orang.

Tapi tetap saja, ada batasnya. Kalau cuma jalan pelan sambil bingung cari lokasi, ya sudahlah, bisa kita pahami. Tapi kalau ngebut di jalanan kampung, berhenti sembarangan di tengah jalan, atau melanggar lampu merah dengan percaya diri, rasanya perlu ada “orientasi berkendara” dulu sebelum masuk Jogja.

Mungkin solusi terbaik adalah membentuk “Tim Adaptasi Lalu Lintas” khusus buat wisatawan. Sebelum masuk Jogja, mereka harus melewati tutorial dasar: cara belok pakai sein, cara membaca peta tanpa panik, dan cara tidak berhenti di tengah jalan tanpa alasan. Atau mungkin, cukup dengan memasang billboard besar di perbatasan Jogja dengan tulisan: “Selamat Datang di Jogja. Jangan Ugal-Ugalan, Jangan Bingung Sendiri.”

Akhirnya, meski kita geregetan setiap musim libur, kita tetap harus bertahan. Jogja memang bukan hanya milik kita, tapi juga milik mereka yang ingin menikmati keindahannya. Jadi, kalau nanti di jalan ada kendaraan plat luar yang bikin kesal, tarik napas, tersenyum, dan ingatlah: musim kendaraan plat luar hanya sementara. Setelah Lebaran usai, Jogja akan kembali damai. Sampai liburan berikutnya.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Derita Plat Nomor B, AA, AD, H, dan K yang Dibenci Pengendara

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 April 2025 oleh

Tags: JogjaLebaranplat luar jogjawisatawan
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

4 Alasan Saya sebagai Orang Jakarta Kecewa dengan Penjual Nasi Uduk di Jogja Mojok.co

4 Alasan Saya sebagai Orang Jakarta Kecewa dengan Penjual Nasi Uduk di Jogja

12 Maret 2025
ramadan di kampung halaman

Merindu Ramadan di Kampung Halaman

26 Mei 2019
Magelang Tempat Pensiun Terbaik di Jawa Tengah Mengalahkan Wonosobo

3 Pertanyaan Membingungkan tentang Magelang yang Bikin Saya Sakit Kepala

28 Agustus 2024
Gaji 18 juta di Jakarta vs Gaji 9 juta di Kota Asal, Pertanyaan Paling Mudah untuk Warga Jogja, Pilih Jakarta lah!

Gaji 18 juta di Jakarta vs Gaji 9 juta di Kota Asal, Pertanyaan Paling Mudah untuk Warga Jogja, Pilih Jakarta lah!

15 April 2025
Bantul Nggak Aneh! Sebagai Orang Kota Jogja, Saya Justru Iri pada Bantul

Bantul Nggak Aneh! Sebagai Orang Kota Jogja, Saya Justru Iri pada Bantul

27 Juni 2024
5 Aturan Tidak Tertulis yang Perlu Kamu Ketahui Jika Ingin Ngopi di Toko Kopi Tuku Jogja

5 Aturan Tidak Tertulis yang Perlu Kamu Ketahui Jika Ingin Ngopi di Toko Kopi Tuku Jogja

1 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Aerox Motor Yamaha Paling Menderita dalam Sejarah (unsplash)

Aerox: Motor Yamaha Paling Menderita, Nama Baik dan Potensi Motor Ini Dibunuh oleh Pengguna Jamet nan Brengsek yang Ugal-ugalan di Jalan Raya

8 April 2026
4 Hal yang Harus Penumpang Ketahui tentang Stasiun Duri, Si Paling Sibuk dan Melelahkan se-Jakarta Barat

Stasiun Duri Lebih Bikin Stres dari Manggarai: Peron Sempit, Tangga Minim, Kereta Lama Datang

9 April 2026
Mobil Honda Mobilio, Mobil Murah Underrated Melebihi Avanza (Unsplash)

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

5 April 2026
4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman Mojok.co

4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman

7 April 2026
Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

9 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Antropologi Unair Diremehkan dan Dianggap “Gampangan”, padahal Kuliahnya Nggak Main-main dan Prospek Kerjanya Luas
  • Evolusi Kelelawar Malam di Album “Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata
  • Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina
  • Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga
  • Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif
  • Sisi Gelap di Balik Naiknya Harga Gudeg Jogja Langganan yang Membuat Stigma Buruk Semua Gudeg Itu Mahal Makin Dihina Orang Tolol

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.