Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Berhenti Meremehkan Kopi Saset, karena Penikmat Kopi Saset Butuh Ngopi dan Melek, Bukan Validasi dan Terlihat Intelek

Ahmad Nuryogi Ardiansyah oleh Ahmad Nuryogi Ardiansyah
16 Maret 2025
A A
Berhenti Meremehkan Kopi Saset, karena Penikmat Kopi Saset Butuh Ngopi dan Melek, Bukan Validasi dan Terlihat Intelek

Berhenti Meremehkan Kopi Saset, karena Penikmat Kopi Saset Butuh Ngopi dan Melek, Bukan Validasi dan Terlihat Intelek

Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu hal yang selalu menyatukan kita di tengah hiruk-pikuk kehidupan: kopi. Dari mahasiswa yang begadang karena tugas, pekerja kantoran yang dikejar deadline, sampai bapak-bapak ronda yang butuh teman di tengah malam, kopi adalah teman setia yang selalu hadir dalam berbagai situasi. Tapi di antara berbagai jenis kopi yang beredar di pasaran, ada satu kasta yang sering dipandang sebelah mata: kopi saset.

Kopi saset ini ibarat sandal jepit di dunia perkopian—sederhana, murah, tapi selalu bisa diandalkan. Namun, di era third wave coffee yang mengagungkan single origin, V60, dan latte art berbentuk hati, kopi saset sering kali dianggap sebagai pilihan inferior, sesuatu yang hanya dikonsumsi oleh mereka yang ‘tidak punya pilihan lain’. Tapi benarkah demikian? Apakah kopi saset memang pantas diremehkan?

Sebagai perwakilan dari kaum bokek yang setia dengan kopi ini, izinkan saya mengajukan pembelaan.

Hemat, praktis, dan tidak banyak drama

Mari kita mulai dari keunggulan paling jelas: harga. Kopi saset adalah penyelamat bagi dompet yang sudah kritis di akhir bulan. Dengan harga yang tidak sampai sepuluh ribu rupiah per bungkus isi sepuluh, kita bisa tetap menikmati kafein tanpa perlu merasa bersalah karena menghabiskan uang makan siang. Bandingkan dengan secangkir kopi di kafe yang bisa menguras saldo e-wallet dalam sekali seruput.

Selain murah, kopi ini juga praktis. Tidak perlu timbangan digital, tidak perlu grinder, tidak perlu teknik menuang air dengan presisi tinggi—cukup sobek bungkusnya, tuang ke gelas, seduh air panas, aduk, dan selesai. Tidak ada ritual rumit, tidak ada risiko gagal, hanya kepuasan instan dalam hitungan detik. Ini adalah bentuk demokratisasi kopi yang sesungguhnya: semua orang bisa menikmatinya tanpa perlu jadi barista dadakan.

Kopi yang tumbuh bersama kita

Bagi banyak orang, kopi saset bukan sekadar minuman, tapi bagian dari perjalanan hidup. Dari zaman sekolah yang penuh tugas, masa kuliah yang penuh begadang, hingga fase awal masuk kerja dengan gaji pas-pasan, kopi saset selalu ada di sana. Ini adalah kopi yang tidak pernah meninggalkan kita, meskipun hidup berkali-kali memberikan kejutan yang tidak diinginkan.

Sementara kopi fancy di kafe datang dan pergi mengikuti tren, kopi saset tetap setia. Kita mungkin pernah tergoda untuk mencoba espresso mahal atau latte dengan sirup hazelnut, tapi pada akhirnya, kopi saset tetap menjadi pilihan yang nyaman dan akrab. Seperti teman lama yang tidak banyak bicara, tapi selalu ada ketika kita membutuhkannya.

Dosa apa yang diperbuat kopi saset?

Tentu, para puritan kopi akan mengeluhkan kualitas kopi yang “tidak murni”, terlalu banyak gula, atau rasanya yang “kurang otentik”. Tapi pertanyaannya adalah, siapa yang menentukan otentisitas sebuah kopi? Jika kopi adalah soal kenikmatan, bukankah selera itu subjektif? Kalau kopi saset bisa memberikan kepuasan dengan harga yang terjangkau dan tanpa ribet, bukankah itu sudah cukup?

Baca Juga:

Kopi Saset Sering Dianggap Warga Kelas Bawah Dunia Perkopian, Para Pecinta Kopi Itu Terlalu Serius Menilai Lidah Orang

Alasan Saya Lebih Memilih Ngopi dengan Good Day Saset daripada Good Day Botol

Sebagian orang mungkin berkata, “Tapi itu bukan kopi asli, terlalu banyak campuran!” Tapi mari kita jujur, berapa banyak dari kita yang benar-benar bisa membedakan mana kopi robusta, arabika, atau liberika dalam sekali teguk? Pada akhirnya, banyak orang hanya mencari kopi yang bisa membangunkan mereka di pagi hari, bukan yang punya catatan rasa citrusy dengan hint dark chocolate.

Kopi saset dan identitas sosial

Menariknya, kopi juga bisa menjadi simbol status sosial. Minum kopi di kafe mewah dengan interior estetik bisa memberikan kesan “berkelas”, sementara menyeruput kopi saset di kos-kosan dianggap sebagai tanda keterbatasan ekonomi. Padahal, kalau dipikir-pikir, bukankah esensi dari minum kopi adalah menikmati rasa dan mendapatkan efek segarnya? Apakah kopi yang lebih mahal otomatis lebih nikmat? Atau kita hanya terjebak dalam ilusi branding?

Sama seperti pakaian mahal yang tidak selalu lebih nyaman daripada kaus oblong favorit, kopi mahal tidak selalu lebih enak dibanding kopi saset yang sudah menemani kita bertahun-tahun. Rasa nyaman, nostalgia, dan kepraktisan sering kali jauh lebih berharga daripada embel-embel eksklusivitas.

Saatnya berhenti meremehkan kopi saset

Kopi saset mungkin tidak akan pernah masuk ke daftar menu kafe hipster atau mendapatkan penghargaan dari komunitas pencinta kopi. Tapi bagi banyak orang, kopi tersebut adalah bagian dari keseharian yang sulit tergantikan. Ini adalah kopi yang selalu bisa diandalkan, kopi yang tidak menuntut banyak dari kita, dan yang paling penting, kopi yang tidak membuat kita merasa bersalah karena harganya yang ramah di kantong.

Jadi, jika ada yang masih meremehkan kopi saset, mungkin sudah saatnya mereka mencoba melihatnya dari perspektif lain. Karena pada akhirnya, kopi bukan soal harga atau status sosial, tapi tentang kenikmatan sederhana dalam setiap tegukan. Dan bagi kami, kaum bokek, kopi saset tetap menjadi juara sejati dalam dunia perkopian.

Selamat menyeruput kopi tanpa rasa minder!

Penulis: Ahmad Nuryogi Ardiansyah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Udah Nggak Usah Debat, Kopi Saset Terbaik Itu ya Nescafe Classic, Kopi Lain Baiknya Diam di Pojokan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Maret 2025 oleh

Tags: kopi premiumkopi sasetthird wave coffee
Ahmad Nuryogi Ardiansyah

Ahmad Nuryogi Ardiansyah

Mahasiswa semester 4 di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, yang suka menulis dan mengekspresikan ide-ide kreatif melalui tulisan.

ArtikelTerkait

Hasil Adu Antara Kopi Gadjah vs Kopi Kapal Api, Mana yang Lebih Unggul_ terminal mojok

Hasil Adu Antara Kopi Gadjah vs Kopi Kapal Api, Mana yang Lebih Unggul?

4 Mei 2021
Kopi Saset Dianggap Warga Kelas Bawah Dunia Perkopian (Unsplash)

Kopi Saset Sering Dianggap Warga Kelas Bawah Dunia Perkopian, Para Pecinta Kopi Itu Terlalu Serius Menilai Lidah Orang

30 Juni 2025
Good Day Freeze, Kopi Saset Terbaik yang Pernah Ada. Pendekar Kopi Nggak akan Tahu Rasanya

Good Day Freeze, Kopi Saset Terbaik yang Pernah Ada. Pendekar Kopi Nggak akan Tahu Rasanya

20 November 2023
6 Rekomendasi Kopi Saset Seenak Buatan Barista di Kedai Kopi terminal mojok.co

6 Rekomendasi Kopi Saset Seenak Buatan Barista di Kedai Kopi

10 Februari 2022
5 Rekomendasi Kopi Premium Enak dan Harganya Terjangkau yang Bisa Dibeli di Superindo

5 Rekomendasi Kopi Premium Enak dan Harganya Terjangkau yang Bisa Dibeli di Superindo

20 Maret 2025
Alasan Saya Lebih Memilih Ngopi dengan Good Day Saset daripada Good Day Botol Mojok.co

Alasan Saya Lebih Memilih Ngopi dengan Good Day Saset daripada Good Day Botol

27 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Aib Guci Tegal yang Membuat Wisatawan Malas ke Sana Mojok.co

Objek Wisata Guci Tegal Harus Bangkit karena Kabupaten Tegal Tak Ada Apa-Apanya Tanpa Guci

2 Februari 2026
Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026
Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

31 Januari 2026
Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026
5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam
  • Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.