Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kebahagiaan Anak-Anak Desa di Malam Lebaran

Andrian Eksa oleh Andrian Eksa
4 Juni 2019
A A
malam lebaran

malam lebaran

Share on FacebookShare on Twitter

Jauh hari yang lalu saya baca postingan brengsek, seperti ini, “Alhamdulillah ya, 29 hari lagi lebaran.” Kini akhirnya saya menemukan tanda-tanda kalau lebaran hampir tiba dari tingkah anak-anak desa. Anak-anak di desa saya kalau menjelang lebaran, bahagianya nggak ketulungan. Ada aja tingkah lakunya yang bikin orangtua cekikikan.

Mengingat-ingat masa kecil saya dan mengamati fenomena yang ada, saya mencatat beberapa hal yang menjadi alasan kebahagiaan mereka. Mungkin catatan saya ini belum merangkum semuanya, tapi yang jelas inilah garis besar sumber kebahagiaan anak-anak di desa saya. Cek dis ot!

  1. Dibelikan baju baru

Baju baru seolah menjadi tradisi paling purba dalam penyambutan hari lebaran. Saya kira, begitulah yang terjadi di desa saya. Tidak sedikit orangtua yang membelikan baju baru untuk anaknya setahun sekali, menjelang lebaran ini.

Karena itu, anak-anak di desa saya begitu bahagia ketika lebaran tiba. Baju baru pasti akan didapatnya. Meskipun terkadang hasil utangan atau nyicil di tempat mindringan. Syukur-syukur sih dapat dari juragan atas nama tunjangan hari raya. Lumayanlah yhaaa~

Selain itu, kamu akan mulai mendengar anak-anak saling bertanya, “Baju barumu berapa? Beli di mana? Sama siapa? Di sana berbuat apa?” Atau kalau enggak, mungkin kamu bakal mendengar orangtua menyanyikan lagu ini untuk menghibur anaknya yang belum punya pacar baju baru.

Pacar baju baru alhamdulillah

Tuk dibawa dipakai di hari raya

Tak punya pun tak apa-apa

Baca Juga:

Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Itu Jahat dan Nirempati

Kapok Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Trauma dan Menderita

Masih ada pacar baju yang lama

  1. Dum-duman celengan

Anak-anak di desa saya, selama bulan Ramadan menabung bersama. Setiap sore, ketika datang ke musala untuk buka bersama, mereka tidak lupa menyisihkan uang jajannya. Setelah satu bulan menabung, mereka pun siap untuk menunggu pembagian hasil tabungan (dum-duman celengan).

Pada malam lebaran, bulan di atas kuburan anak-anak akan begitu bersemangat datang ke musala. Ada lo yang datang cuma untuk mengambil uang tersebut. Jadinya, pas selesai salat, mereka buru-buru menemui panitia, menuntut haknya. Setelah diberikan, wajahnya bertambah riang. Ada yang langsung membuka amplop dan menghitungnya. Tapi ada juga yang langsung menemui bapaknya, memberikan amlop itu kepadanya. Betapa mulia~

  1. Pesta petasan

Setelah ngempet sebulan tidak boleh main petasan, anak-anak meluapkan hasratnya di malam lebaran. Tadi kan sudah ndudah celengan. Jadi punya uang untuk jajan petasan. Anak-anak akan bergerombol merembug bebarengan mau beli dan dinyalakan di mana. Jangan sampai nanti dibubarkan secara paksa oleh orangtua yang tidak toleran dengan kebahagiaan mereka.

Nah, kalau sudah sepakat, mereka akan memberi aba-aba atau kode-kode cinta seadanya dan kemudian lari terbirit sambil teriak bahagia. Kalau mereka adalah kamu-kamu yang sudah remaja, saya menerka-nerka, kemungkinan kebahagiaannya bersumber dari jawaban “iya” dari tembakanmu kepada bribikan.

Anak-anak kemudian akan berkumpul lagi di satu tempat untuk menyalakan petasannya. Satu persatu akan mekar seperti bunga di angkasa. Anak-anak akan berbarengan meneriakinya tiada berkesudahan. Teriakan-teriakan yang menandakan bahwa besok sudah lebaran. Kalau pas tidak ada yang beli, mereka cukup bahagia mengamati petasan yang dinyalakan orang lain. Yang penting, teriaknya paling nyaring.

  1. Takbiran barengan

Malam lebaran tanpa bulan di atas kuburan, mungkin wajar belaka. Nyatanya yang seperti itu cuma Sitor Situmorang saja. Kalau malam lebaran tanpa takbiran, bisa jadi seperti kamu tanpa bayangan mantan. Mungkin ada, tapi sangat-sangat juarang sekali. Lah, keingetnya aja hampir setiap hari. Ups!

Anak-anak di desa saya pun punya tradisi sendiri dalam takbiran ini. Mereka bersama-sama keliling desa—sambil beli petasan tadi. Karena jarang sekali ada yang menyiapkan peralatan, seperti bedug atau kentungan, mereka memanfaatkan dapur ibunya. Ada yang membawa panci, wajan, sendok, garpu, sotil, dan bumbu.

Kebahagiaan anak-anak bukan hanya karena lebaran hampir tiba, tapi melihat teman sebayanya diam-diam memukul-mukul panci ibunya. Tidak terbayangkan bagaimana nasib panci sepulang dari takbiran. Pun tidak terbayangkan, nasib anak yang membuat pancinya penyok berantakan.

  1. Berburu uang lebaran

Poin terakhir pasti ditunggu-tunggu oleh anak-anak di mana pun, termasuk adik saya. Adik saya, seminggu sebelumnya malah sudah memprediksikan pendapatannya. Berapa rupiah yang akan diterimanya dari bude A, pakde B, bu guru C, pak dokter D, dan sebagainya. Adik saya bahkan berani memastikan kalau si E tidak akan memberi apa-apa, tapi si F akan memberinya, meskipun dua ribu rupiah saja. Kalau kamu, kapan berani memastikan perasaannya?

Pada saat-saat seperti ini, anak-anak akan membayangkan uangnya untuk membeli apa? Belinya di mana? Sama siapa? Di sana berbuat apa? Kalau semuanya jelas, mereka akan menceritakannya kepadamu. Cara berceritanya pun seringkali menggebu-gebu. Misalnya, mereka akan menghabiskan uangnya untuk yang-yangan di taman, jajan sambil pacaran, atau menertawakanmu yang sudah besar, tapi tidak punya uang dan gebetan.

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2022 oleh

Tags: Anak-AnakLebaranMalam Takbiran
Andrian Eksa

Andrian Eksa

Kelahiran Boyolali, 15 Desember. Saat ini menjadi seorang guru Bahasa Indonesia yang memilih tidak hanya sekadar mengajarkan kata, tapi juga merawatnya. Menyukai isu-isu terdekat di sekitarnya.

ArtikelTerkait

4 Tipe Orang yang Nggak Cocok Jadi Guru, Sebaiknya Cari Profesi Lain kalau Nggak Ingin Menyesal Seumur Hidup Mojok.co

4 Tipe Orang yang Nggak Cocok Jadi Guru, Sebaiknya Cari Profesi Lain kalau Nggak Ingin Menyesal Seumur Hidup

29 Mei 2024
Punya Anak Tantrum Saja Pusing, apalagi Punya Presiden yang Tantrum

Punya Anak Tantrum Saja Pusing, apalagi Punya Presiden yang Tantrum

12 Januari 2024
wonogiri

Merayakan Hari yang Fitri di Wonogiri

5 Juni 2019
THR PNS Cair, Ini 6 Hal yang Biasanya Harus Mereka Bayar Terminal Mojok.co

THR PNS Cair, Ini 6 Hal yang Biasanya Harus Mereka Bayar

19 April 2022
Ritual Memutari Ring Road Jogja, Wahana Pelepas Galau ala Muda-mudi Setempat terminal mojok.co

Jurus Nyidat Menghindari Kemacetan Saat Lebaran

12 Juni 2019
Cerita Rakyat Nusantara yang Sebenarnya Nggak Cocok untuk Anak-anak Terminal Mojok

Cerita Rakyat Nusantara yang Sebenarnya Nggak Cocok untuk Anak-anak

7 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu Mojok.co

4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu

12 Mei 2026
Kritik untuk Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY dan UAD, Terlalu Ndakik-Ndakik hingga Berjarak dari Realitas Terminal

Kritik untuk Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY dan UAD, Terlalu Ndakik-Ndakik hingga Berjarak dari Realitas

8 Mei 2026
Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Long Weekend Itu Memang Menyenangkan, kecuali untuk Warga Jogja

7 Mei 2026
Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung” yang Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman Mojok.co

Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung”: Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman

12 Mei 2026
Orang Jakarta Baperan: Panggilan ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar Mojok.co

Orang Jakarta Baperan: ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Panggilan dalam Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

8 Mei 2026
Jalan Keloran Selatan Bantul, Ujian Terberat Pengendara Bermata Minus seperti Saya

Bantul Selatan: Surga Tersembunyi buat Pekerja yang Malas Tua di Jalan dan Ogah Akrab sama Lampu Merah

12 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.