Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Alasan PNS Enggan Disebut Buruh

Ahmad Arief Widodo oleh Ahmad Arief Widodo
1 Januari 2024
A A
Alasan PNS Enggan Disebut Buruh (Odua Images:Shutterstock.com)

Alasan PNS Enggan Disebut Buruh (Odua Images:Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai abdi negara, saya mengakui bahwa PNS itu buruh. Saya tidak bisa mengelak hal tersebut. Bahkan, saya kerap mengemukakan pendapatan ini ke khalayak ramai. Termasuk ke rekan-rekan sejawat saya.

Sayangnya, pendapat saya ini ditolak oleh mayoritas rekan sesama PNS. Mereka berpendapat PNS itu bukan buruh. Tentu diiringi berbagai argumen yang melatarbelakanginya.

Berangkat dari penolakan tersebut, saya jadi tau alasan kebanyakan PNS nggak mau disamakan dengan buruh. Mau tahu apa aja alasannya? Simak sebagai berikut:

Stigma negatif buruh

Harus diakui, di masyarakat umum, istilah buruh lekat dengan stigma negatif. Salah 1 stigma negatif yang paling umum adalah buruh itu pekerja kasar. Seperti kuli panggul di pasar dan tukang bangunan.

Gara-gara stigma negatif itu, banyak rekan sejawat saya yang enggan disebut buruh. Padahal, menurut saya sendiri, istilah buruh tidak ada negatifnya sama sekali. Mengingat saya ini asli Cikarang, yang sudah biasa menggunakan kata buruh dalam percakapan sehari-hari.

PNS dianggap profesi terbaik

Masyarakat kita terlalu mengkultuskan profesi abdi negara. PNS dianggap sebagai profesi idaman mertua. Dan, banyak orang tua yang menganggap abdi negara sebagai profesi terbaik bagi anaknya.

Lantaran terlalu dikultuskan, banyak PNS yang tak mau disebut buruh. Sampai-sampai ada oknum abdi negara yang menganggap bahwa profesi mereka lebih baik dari pekerjaan lain. Padahal, bagi saya, semua profesi (yang halal) itu terhormat. Tak ada yang lebih baik atau lebih buruk.

Bukan kerja di sektor swasta

Ada rekan yang memiliki argumen unik dalam menolak pendapat saya terkait PNS sama dengan buruh. Dia berpendapat yang disebut buruh itu hanya para pegawai swasta. Kayak pekerja pabrik di Cikarang.

Baca Juga:

Bukan Jakarta, Tempat Paling Cocok untuk Memulai Karier Adalah Cilegon. Ini Alasannya!

4 Alasan Pegawai P3K Baru Harus Pamer di Media Sosial

Terus terang, ketika mendengar argumen tersebut, saya menahan tertawa. Sambil menahan diri untuk tidak mengumpat goblok. Pasalnya, setahu saya, status buruh bukan tergantung sektor pekerjaannya.

Digajinya bukan oleh pengusaha

Ada lagi argumen penolakan PNS itu buruh yang tak kalah kocak. Katanya, alasan PNS bukan buruh karena yang memberikan gaji itu negara. Bukan para pengusaha, layaknya pekerja di sektor swasta.

Lagi-lagi saya tegaskan, PNS dianggap sebagai buruh bukan karena asal gajinya. Mau dari mana pun gajinya, orang yang digaji itu namanya buruh. Sebesar apapun gajinya, akan tetap disebut buruh.

Standarisasi upahnya beda dengan buruh

Standarisasi pengupahan PNS dengan buruh memang berbeda. Buruh, biasanya, menggunakan standarisasi Upah Minimum Kabupaten (UMK). Atau, Upah Minimum Provinsi (UMP) kalau di DKI Jakarta.

Sementara, standarisasi gaji pokok PNS menggunakan peraturan pemerintah. Kenaikan gaji kami juga tergantung pemerintah. Bahkan, gaji kamu itu tak selalu naik tiap tahunnya. Layaknya yang dialami pekerja swasta.

Atas dasar itu rekan saya menyangkal pernyataan bahwa PNS itu buruh. Kemudian saya bilang bahwa standarisasi upah nggak ada hubungannya dengan status buruh atau bukan. Kuli panggul di pasar sama pekerja SCBD standarisasi upahnya beda, tapi sama-sama buruh, karena digaji.

Nggak bisa demo

Jadi PNS itu harus nrimo ing pandum. Sesuai arah kebijakan pemerintah, PNS harus manut. Tidak bisa tidak. Mau menuntut haknya dengan demo? Emang PNS bisa? Eh, pertanyaannya salah. Emang ada PNS yang berani demo pemerintah? Pihak yang memberikan kerja dan menggaji mereka.

Berbeda dengan buruh. Hak buruh untuk demo dan berserikat dijamin oleh negara. Nggak ada yang berani mengusik hal tersebut. Siapa pun itu, termasuk pucuk tertinggi pemerintahan sekali pun.

Karena ada beberapa hak yang membedakan kami dengan buruh, mendorong rekan saya beranggapan bahwa PNS itu bukan buruh. Lalu, saya tegaskan kembali, PNS dianggap buruh atau bukan, tidak bergantung pada haknya semata. Ada hal yang lebih mendasar dari itu, yakni digaji.

PNS tidak tahu konsep buruh secara utuh

Pada akhirnya, banyak rekan saya yang tak tahu konsep buruh secara utuh. Mayoritas dari mereka hanya tahu buruh itu pekerja kasar. Atau, orang yang bekerja di sektor swasta. Di luar itu, tak bisa dianggap sebagai buruh.

Kurangnya pemahaman terhadap konsep buruh secara utuh, saya curigai sebagai dalang yang membuat PNS enggan disebut buruh. Kembali saya tekankan, siapa pun orang yang bekerja untuk orang lain dan diberi upah, itu disebut buruh.

Mau setinggi apapun gajinya, para pemain bola yang gajinya ratusan juta rupiah per pekan juga termasuk buruh. Sebab, dia bekerja untuk klubnya dan diberikan upah.

Begitu sekiranya berbagai alasan PNS yang menolak disamakan dengan buruh. Terserah para PNS itu mau menganggap dirinya buruh atau bukan. Yang pasti dengan punya kesadaran sebagai buruh, kami bisa bersatu menuntut perbaikan upah dan hak-haknya yang lain kepada pemberi kerja. Bukan hanya sambat sendiri-sendiri gara-gara gaji pokoknya cuma naik saat tahun politik doang.

Penulis: Ahmad Arief Widodo

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Di Cikarang, Status PNS Tidak Terlihat Menarik

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 Januari 2024 oleh

Tags: abdi negaraBuruhpnsUMKump
Ahmad Arief Widodo

Ahmad Arief Widodo

Penulis lepas yang fokus membahas kedaerahan, dunia pemerintahan dan ekonomi. Stand like a hero and die bravely.

ArtikelTerkait

Wahai BKN dan Panitia CPNS, Percuma Ada Masa Sanggah CPNS kalau Tidak Transparan! soal TWK daftar cpns pppk pns

Pesan buat PPPK, Stop Merengek untuk Dijadikan PNS, Permintaan Kalian Itu Absurd dan Nggak Masuk Akal

24 Oktober 2025
Wahai Karyawan Startup, Dosen, dan PNS, Bergabunglah dengan Serikat Pekerja!

Prabu Yudianto Menjelaskan Cara dan Pentingnya Membangun Serikat Pekerja

20 April 2023
4 Hal Nggak Menyenangkan yang Dirasakan PNS Saat Naik Jabatan

5 Peringkat Teratas Topik Gibah PNS di Kantor Instansi Pemerintah

26 Maret 2022
peminat CASN menurun dibanding tahun sebelumnya mojok

Inilah Hal yang Membuat Pelamar CASN 2021 Menurun Dibanding Tahun-tahun Sebelumnya

3 Agustus 2021
Ritual Buka Bersama PNS yang Gitu-gitu Aja Terminal Mojok bukber

Ritual Buka Bersama PNS yang Gitu-gitu Aja

9 April 2022
4 Alasan Tokoh Utama Sinetron Azab Lebih Memilih Wirausaha daripada Jadi PNS

4 Alasan Tokoh Utama Sinetron Azab Lebih Memilih Wirausaha daripada Jadi PNS

30 Juni 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja Mojok.co

8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja

4 Februari 2026
4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik Mojok.co

4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik

7 Februari 2026
Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan Mojok.co jurusan pgpaud

Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

5 Februari 2026
Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026
5 Alasan Orang Kaya Ingin Terlihat Miskin (Unsplash)

5 Alasan Orang Kaya Ingin Terlihat Miskin, Menghindari Pajak Bukan Satu-satunya!

9 Februari 2026
Pantai Padang Adalah Tempat Wisata yang Sempurna di Kota Padang Seandainya Nggak Ada Parkir Liar Mojok.co

Pantai Padang Tempat Wisata yang Sempurna di Kota Padang Seandainya Nggak Ada Parkir Liar

8 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi: Jadi Tempat Ngopi, Jeda selepas Lari, dan Ruang Berbincang Hangat
  • Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!
  • Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata
  • Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 
  • Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba
  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.