Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Upah Minimum Jogja Memang Naik, tapi Bukan Berarti Buruh Nggak Boleh Protes, Ini Bukan Perkara Upah Semata, Bolo!

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
22 November 2023
A A
Upah Minimum Jogja Memang Naik, tapi Bukan Berarti Buruh Nggak Boleh Protes, Ini Bukan Perkara Upah Semata, Bolo! UMP Jogja, gaji Jogja, frugal living ump jogja yogyakarta, bandung

Upah Minimum Jogja Memang Naik, tapi Bukan Berarti Buruh Nggak Boleh Protes, Ini Bukan Perkara Upah Semata, Bolo! (Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sah, upah minimum Jogja (Daerah Istimewa Yogyakarta) naik 7,27%! Upah minimum daerah yang (katanya) istimewa ini kini menjadi Rp2.125.897. Dengan kenaikan UMP Jogja yang lumayan, kok masih banyak pihak yang bersungut-sungut? Apakah rakyat Jogja tidak bisa bersyukur dan selalu protes?

Sebenarnya apa saja yang dipermasalahkan para buruh Jogja? Apakah kenaikan UMP belum mampu memuaskan hasrat para buruh? Atau kenaikan UMP belum cukup?

Percayalah, kenaikan upah setiap tahun tidak akan memuaskan para pekerja. Sebab, masalah pengupahan dan perburuhan tidak pernah sesepele itu. Kenaikan upah bukan berarti aspirasi didengar. Sampai para buruh hidup layak dan aman, protes akan terus berkumandang. Memekakkan telinga penguasa dan konglomerat sampai seluruh buruh sejahtera.

Kenaikan upah minimum Jogja tidak menjawab kebutuhan buruh

Upah minimum ditetapkan dengan formula berikut: upah minimum tahun berjalan ditambahkan dengan hasil perkalian antara upah minimum tahun berjalan dengan penjumlahan tingkat inflasi nasional tahun berjalan dan tingkat pertumbuhan produk domestik bruto tahun berjalan. Idealnya, formula ini akan mengakomodir peningkatan biaya hidup buruh setiap tahun.

Tapi, realitasnya pahit. Sebab, formula berdasarkan UU Cipta Kerja ini dipandang tidak realistis. Kenaikan upah melupakan unsur penting menurut kelompok buruh: angka Kriteria Hidup Layak (KHL). Dengan formula baru ini, kebutuhan hidup buruh tidak lagi menjadi faktor penentu kenaikan upah.

Bahkan ketika formula lama berdasar KHL digunakan, penentuan hidup layak ini juga jadi masalah. Angka KHL berdasarkan survey pemerintah dan kelompok pengusaha dipandang tidak realistis. Terutama ketika menaksir harga produk kebutuhan hidup. Misal harga celana dalam yang tidak sampai 10 ribu per potong, sampai biaya kos di bawah 500 ribu. Besar nilai KHL yang diajukan oleh kelompok buruh jelas di atas itu, bahkan sampai dua kali lipat. Anda bisa menebak KHL mana yang dipakai.

Ketika penghitungan dengan formula lama saja bermasalah, bagaimana formula baru bisa menyejahterakan buruh? Ketika inflasi lebih penting dari hidup layak, maka protes yang menjadi tanggapan. Protes pada kenaikan upah minimum Jogja bukan berarti buruh tidak bersyukur. Lagi pula, apa yang bisa disyukuri dari upah yang belum cukup untuk hidup layak?

Subsidi bukan solusi!

Lalu bagaimana cara menjawab tuntutan para buruh tentang upah minimum Jogja? Apakah subsidi bisa menjawab? Jika Anda berpikir demikian, Anda cocok jadi pejabat negara, karena cara pandangnya kelewat simpel seperti para wakil rakyat.

Baca Juga:

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi 

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Saya tidak akan mengerdilkan subsidi. Bahkan saya menilai bahwa subsidi diperlukan para buruh Jogja. Tujuannya adalah membantu para buruh Jogja untuk bertahan hidup ketika upahnya belum mencukupi. Pertanyaannya: sampai kapan hidup buruh disubsidi?

Jika subsidi menjadi solusi, pemerintah harus menggelontorkan dana dari APBD untuk itu. Dana yang seharusnya lebih tepat untuk peningkatan infrastruktur maupun dana sosial lain. Lebih penting dari itu, pemerintah harus membayar agar buruh bisa hidup lebih layak. Sebuah tanggung jawab yang seharusnya dilakukan oleh perusahaan.

Pemerintah bisa saja memberi subsidi sembari mendorong kenaikan upah minimum Jogja yang layak. Sehingga buruh tetap hidup layak selama proses memperjuangkan hak ini. Namun bukan berarti pemerintah mengambil alih peran yang seharusnya dilakukan perusahaan.

Ketika tanggung jawab dasar saja diambil alih pemerintah, pengusaha akan makin abai terhadap isu buruh. Ini adalah bencana, karena hari ini saja buruh masih bergelut dengan segunung masalah ketenagakerjaan. Percayalah, masalah kenaikan upah minimum Jogja hanyalah puncak gunung es.

Masalah buruh jogja tidak hanya upah

“Tapi pemerintah selalu menaikkan upah minimum buruh tiap tahun, kenapa protes terus?”

Kalau Anda punya pertanyaan seperti itu, mending pertanyaan macam itu disimpan dalam hati saja. Kalau sampai diucapkan, saya akan gebuki otak Anda dengan realitas yang memuakkan.

Ketika buruh Jogja melakukan protes, tuntutan kenaikan upah selalu jadi sorotan. Memang perkara upah ini jadi isu utama. Namun buruh bukanlah objek yang bisa dipuaskan dengan kenaikan upah 7 persen semata. Atau dimanjakan subsidi dari pemerintah. Tapi buruh adalah individu yang berhak untuk hidup layak dan aman. Dan masalah yang harus dihadapi dalam mencapai hidup layak dan aman masih sebesar Gunung Merapi.

Keamanan dan kenyamanan dalam lingkup kerja masih menjadi isu besar. Belum lagi pelanggaran terhadap UU Ketenagakerjaan yang makin dinormalisasi. Pemenuhan hak pekerja masih tidak seimbang dengan tanggung jawab yang dibebankan. Perlindungan atas PHK sepihak tanpa pemenuhan hak juga masih mengancam. Belum lagi masalah infrastruktur pendukung kerja.

Masalah di atas hanya sepotong kecil dari puncak gunung es, serta terjadi di berbagai daerah. Kalau saya diminta membahas seluruh permasalahan buruh, satu artikel tidak akan pernah cukup. Upah minimum memang jadi fokus utama kritik para buruh. Namun di balik isu kenaikan UMP Jogja, masih banyak isu lain yang diperjuangkan.

Jadi, apakah Anda bisa memaklumi kenapa buruh Jogja terus-menerus protes perkara kenaikan UMP Jogja? Selama upah layak belum tercapai, kenaikan belasan persen tidak akan memuaskan. Dan selama masih ada satu buruh yang tertindas, tidak ada buruh yang sejahtera.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kalau UMR Jogja Memang Serendah Itu, Kenapa Masih Banyak yang Bekerja di Jogja?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 November 2023 oleh

Tags: buruh jogjaisu buruhJogjakenaikan UMP jogjaumr jogjaupah minimum jogja
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Kuliah Merantau di Jogja, eh Dikira Klitih karena Pakai Scoopy (Unsplash)

Pengalaman Pahit Menjadi Mahasiswa Rantau di Jogja ketika Motor Scoopy Saya Disangka Motornya Pelaku Klitih

3 November 2025
ha milik tanah klitih tingkat kemiskinan jogja klitih warga jogja lagu tentang jogja sesuatu di jogja yogyakarta kla project nostalgia perusak jogja terminal mojok

Membandingkan Biaya Hidup di Jogja dengan Malang

11 September 2020
5 Tempat Minum Matcha Paling Enak di Jogja, Pencinta Matcha Wajib Coba!

5 Tempat Minum Matcha Paling Enak di Jogja, Pencinta Matcha Wajib Coba!

29 April 2025
Salah Kaprah Anggapan Jogja Serbamurah. Tabok Saja kalau Ada yang Protes! terminal mojok.co

Sobat Narimo ing Pandum Perlu Menerima Kritik Soal Upah Jogja yang Memang Rendah

13 Oktober 2020
6 Rekomendasi Kuliner Babi di Jogja yang Bisa Kalian Coba Saat Liburan Natal dan Tahun Baru

6 Rekomendasi Kuliner Babi di Jogja yang Bisa Kalian Coba Saat Liburan Natal dan Tahun Baru

4 Desember 2023
5 Aktivitas Seru yang Bisa Dilakukan di Underpass Kentungan Jogja Saat Banjir

5 Aktivitas Seru yang Bisa Dilakukan di Underpass Kentungan Jogja Saat Banjir

28 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN

Wajar kalau Masyarakat Nggak Peduli PNS Dipecat atau Gajinya Turun, Sudah Muak sama Oknum PNS yang Korup!

7 April 2026
Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

2 April 2026
Toyota Hiace, Mobil Toyota yang Nyamannya kayak Bawa LCGC (Unsplash)

Derita Pemilik Hiace, Kerap Menghadapi “Seni” Menawar Harga yang Melampaui Batas Nalar

8 April 2026
Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial yang Cerdas Mojok.co

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial Paling Cerdas

7 April 2026
4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Unsplash)

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan

8 April 2026
Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja Mojok.co

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

3 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Umur 30 Cuma Punya Honda Supra X 125 Kepala Geter: Dihina tapi Jadi Motor Tangguh buat Bahagiakan Ortu, Ketimbang Bermotor Mahal Hasil Jadi Beban
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.