Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

5 Hal yang Tidak Ditemukan di Malioboro Jogja. Baca Ini Sebelum Berkunjung!

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
18 Oktober 2023
A A
5 Hal yang Tidak Ditemukan di Malioboro Jogja. Baca Ini Sebelum Berkunjung!

5 Hal yang Tidak Ditemukan di Malioboro Jogja. Baca Ini Sebelum Berkunjung! (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Apa yang terlintas di otak ketika mendengar nama “Jogja?” Pasti Malioboro. Kalau yang terlintas adalah mantan, mending Anda cuci muka.

Malioboro memang jadi landmark utama Jogja. Lokasinya benar-benar di jantung kota, dan punya keunikan yang istimewa. Tentu destinasi wisata utama sekelas Malioboro punya segala yang dicari dan dibutuhkan wisatawan.

Ternyata nggak juga. Ada banyak hal yang tidak dimiliki Malioboro. Maka sebelum mengunjungi jalanan sepanjang dua kilometer ini, Anda harus tahu apa saja yang tidak ada di jalan ini. Daripada Anda overestimate dan berakhir kecewa pada sepenggal jalan penuh cita, cinta, dan lara ini.

Tidak ada toilet umum yang layak di Malioboro Jogja

Sebagai destinasi wisata utama, tentu Malioboro menyediakan toilet umum yang cukup dan layak. Harusnya sih gitu. Tapi, kenyataan berkata lain.

Meskipun ada ribuan orang wira-wiri setiap hari, Malioboro malah minim fasilitas vital ini. Tidak ada fasilitas toilet umum dan layak selain harus numpang masjid atau pusat perbelanjaan.

Pada akhirnya, banyak orang buang air sembarangan di jalan yang harusnya romantis ini. Bahkan sampai memunculkan mitos gang bertaburan bunga makam demi mengusir tukang kencing sembarangan.

Toilet umum layak yang bisa ditawarkan hanya ada dua: di Taman Parkir Abu Bakar Ali dan depan Bank Indonesia. Keduanya ada di ujung Malioboro. Jadi sebelum Anda mengunjungi Malioboro, saya sarankan untuk buang air besar dan kecil dulu. Malioboro memang memanjakan mata Anda, tapi tidak memanjakan kandung kemih dan rektum yang penuh dan muntup-muntup.

Tidak ada tempat parkir di sepanjang jalan Malioboro Jogja

Yang di bayangan Anda pasti kira-kira begini: sebagai landmark Jogja, Malioboro pasti punya akses yang nyaman.

Baca Juga:

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

Ah, hentikan mimpi itu. Akses menuju pusat kota Jogja ini cukup ruwet dan macet. Tapi yang lebih menyebalkan adalah perkara tempat parkir. Sepanjang jalan Malioboro memang steril dari lahan parkir. Beberapa pusat perbelanjaan memang menyediakan  tempat parkir. Tapi tentu jadi prioritas pengunjung pusat perbelanjaan tersebut.

Ada sih lahan parkir di dua ujung Malioboro, tapi jauh dan terbatas. Yang cukup dekat adalah parkiran liar. Tentu dengan konsekuensi dari harga mahal sampai risiko rusak dan hilang. Lagipula, tentu Anda tidak mau memelihara praktik ilegal ini kan?

Tidak ada PKL yang dulu jadi ciri khas

Salah satu nilai jual Malioboro Jogja pada masanya adalah jejeran PKL di sepanjang trotoar. Para penjaja oleh-oleh ini membuat “terowongan Malioboro” punya nuansa ala bazaar. Dari kaos, gantungan kunci, sampai miniatur becak yang bisa digenjot ada di sini. Tentu harganya terjangkau dan bisa ditawar. Sebuah keunikan melihat pedagang dan pembeli saling bertahan dalam proses tawar menawar.

Tapi kisah ini tinggal kenangan. Para PKL telah direlokasi di Teras Malioboro yang berlokasi di masing-masing ujung jalan legendaris ini. Yah, harganya masih sama-sama terjangkau dan bisa ditawar. Tapi nuansa yang memorable tadi kini hanyalah cerita lama.

Tidak ada kesenian rakyat seperti era Rendra

Jika Anda berpikir Malioboro Jogja hanyalah sentra belanja oleh-oleh, Anda salah. Malioboro adalah tanur seni yang memproduksi banyak insan luar biasa. Sebut saja Umbu Landu Paranggi, WS Rendra, sampai Cak Nun. Trotoar Malioboro Jogja pernah jadi panggung seni rakyat yang artistik dan juga progresif. Pernah ya, karena kini sudah tidak ada lagi. Panggung seni ini kini direnggut oleh birokrasi dan seni yang “lebih terstruktur.” Biasa, dalihnya adalah kerapian sesuai dengan keinginan segelintir pemangku jabatan.

Dulu model panggung rakyat ini pernah bangkit ketika seniman angklung aktif beraksi di beberapa titik trotoar. Namun kini dilarang karena dinilai bukan budaya Jogja. Yah, saya pikir alasan ini agak memaksakan, karena Jogja adalah rumah bagi berbagai seni dan budaya, dari lokal sampai internasional.

Mungkin yang dianggap seni Jogja hanyalah pawai, flashmob, royal orchestra, dan hip-hop Jawa. Kalau yang lahir dari geliat seni dan bertahan hidup rakyat, itu bukan seninya Jogja.

“Tidak ada kemiskinan di sepanjang sumbu filosofis”

Kenapa saya beri tanda kutip? Karena yang bilang bukan saya. Tapi Pemda Jogja yang berjanji tidak ada kemiskinan di sepanjang sumbu filosofis, termasuk Malioboro. Sebuah janji yang indah dan penuh harapan. Dan pastinya, janji ini akan ditepati oleh para pemangku jabatan di daerah istimewa ini.

Nggak usah bicara masalah korban PHK massal, tunawisma yang tidur di teras toko, dan tukang becak meninggal mengenaskan di sekitar Malioboro. Sebab, memang tidak ada kemiskinan di sepanjang landmark Jogja ini. Ada perputaran uang milyaran setiap musim liburan. Ada bisnis yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Kalau yang tragis-tragis tadi, Cuma bumu realitas Jogja yang nggatheli saja. Pokoknya tidak ada kemiskinan di sepanjang sumbu filosofis, terutama Malioboro!

Itulah hal-hal yang tidak ada di Malioboro Jogja. Sebelum berkunjung, pikir lagi. Saya sih, nggak ada kata-kata melarang ya. Jadi jangan dipelintir. Tapi ya, hal-hal ini juga perlu dipikirkan sih.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Wajah Baru Jalan Malioboro dan Mereka yang Merasa Kehilangan Hal Berharga

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Oktober 2023 oleh

Tags: JogjaKemiskinanMalioboroparkir liarToilet Umum
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Menganggap Trans Jogja Nggak Berguna Adalah Pendapat Sesat. Bus Ini Memang Banyak Kekurangan, tapi Masih Dibutuhkan Warga Mojok.co

Menganggap Trans Jogja Nggak Berguna Adalah Pendapat Ngawur. Bus Ini Memang Banyak Kekurangan, tapi Masih Dibutuhkan Warga 

20 Maret 2024
IVAA, Hidden Gem Perpustakaan dan Arsip Seni di Jogja

IVAA, Hidden Gem Perpustakaan dan Arsip Seni di Jogja

10 Desember 2022
navigasi

Saya Buta Navigasi 4N (Ngalor-Ngidul-Ngetan-Ngulon): Emang Kenapa Sih?

15 Oktober 2019
3 Pekerjaan yang Bisa Bikin Kamu Kaya di Jogja Tanpa Jadi Budak Freelance pak ogah

3 Pekerjaan yang Bisa Bikin Kamu Kaya di Jogja Tanpa Jadi Budak Freelance

18 Agustus 2025
malioboro ditolak cinta mojok

Malioboro, Saksi Pahit Cinta Tak Terbalas. Kencan Amburadul #13

14 Februari 2021
5 Jajanan Pasar Khas Jogja yang Mulai Langka dan Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup

5 Jajanan Pasar Khas Jogja yang Mulai Langka dan Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup

2 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

1 Februari 2026
Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

2 Februari 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026
Saya Setuju Usulan Dedi Mulyadi, Teras Cihampelas Lebih Baik Dirobohkan Saja

Saya Setuju Teras Cihampelas Dirobohkan, dan Tata Lagi Jalan Cihampelas agar Jadi Lebih Menarik

28 Januari 2026
Lawson X Jujutsu Kaisen: Bawa Kerusuhan Klenik Shibuya di Jajananmu

Lawson X Jujutsu Kaisen: Bawa Kerusuhan Klenik Shibuya di Jajananmu

31 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik
  • Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”
  • Nelangsa Orang Tua di Desa: Diabaikan Anak di Masa Renta tapi Warisan Diperebutkan, Ortu Sehat Didoakan Cepat Meninggal
  • Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya
  • Orang Berkantong Tipis Pertama Kali Makan Donat J.CO, Dari Sinis Berujung Nangis
  • Karet Tengsin, Gang Sempit di Antara Gedung Perkantoran Jakarta yang Menjadi Penyelamat Kantong Para Pekerja Ibu Kota

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.