Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

The Heritage Palace di Sukoharjo Perlu Dirombak. Nggak Sesuai Ekspektasi!

Affan Hasby Winurrahman oleh Affan Hasby Winurrahman
4 Juli 2023
A A
The Heritage Palace di Sukoharjo Perlu Dirombak. Nggak Sesuai Ekspektasi!

The Heritage Palace di Sukoharjo Perlu Dirombak. Nggak Sesuai Ekspektasi! (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Pada liburan panjang Iduladha kemarin saya berkesempatan mengunjungi The Heritage Palace di Sukoharjo bersama keluarga. Kami berangkat ke sana dengan tujuan mencari spot bersejarah untuk menyegarkan pikiran dari kemelut kerjaan sehari-hari. Syukur kalau bisa mendapatkan ilmu baru di situs cagar budaya.

Sebelum masuk, saya cukup bersemangat. Dari jalan raya sudah menjulang kokoh bangunan Belanda yang cukup terawat dengan gimik yang saya sukai seperti kafe-kafe dengan nama brand ejaan Belanda dan ejaan jadul di sekitarnya. Nuansa sejarah dan persilangan era kontemporer begitu terasa, yang mana sangat saya nikmati. Nggak heran kalau tempat ini mendapat bintang 4,4 dari 12 ribu review di Google Review. Rasanya saya sudah nggak sabar untuk mengarungi suasana kembali ke masa lalu menyelami fakta sejarah dari bangunan kuno tersebut.

The Heritage Palace tak sesuai ekspektasi

Sayangnya setelah memasuki area parkir dan melewati pintu masuk The Heritage Palace, nuansa itu perlahan-lahan berubah. Saya nggak menyangka ekspektasi saya meleset total. Ternyata seluruh bangunan cagar budaya yang sarat sejarah ini hanya digunakan sebagai spot-spot foto buatan. Sejujurnya saya nggak mempermasalahkan penggunaannya, namun dari seluruh spot yang ada, nggak ada satu pun yang didedikasikan untuk fakta sejarah dari bangunan tersebut.

Saya mencoba berpikiran positif, mungkin ada tema sejarah tertentu di dalam yang berhubungan dengan bangunan eks pabrik gula di Sukoharjo ini. Namun pikiran positif itu tergerus ketika saya melihat jajaran bendera negara random di dalam ruang pabrik gula ditemani wallpaper 3D yang kotak pixel-nya kelihatan, replika mobil antik, dan satu spot bermain anak-anak. Sebuah pemandangan yang menurut saya sangat absurd.

Ruang yang luas itu terasa begitu kosong. Perpaduan warna-warni wallpaper serta bendera yang nggak beraturan gagal menghiasi oldschool-nya interior pabrik gula. Bapak dan ibu saya santai memasuki ruang sambil berbisik, “Ngapain ya ada bendera kayak negara sepak bola di sini?”

Akhirnya saya meninggalkan kedua orang tua saya untuk mencari sisi lain dari The Heritage Palace. Ayolah, penuhi ekspektasi saya setidaknya sedikit saja, batin saya.

Area outdoor sama saja

Memasuki area outdoor, mata saya cukup dimanjakan dengan taman yang dipenuhi patung putih ala zaman Romawi kuno dan tenda live music. Ada kursi taman juga di sana, namun cuaca saat itu begitu terik sehingga nggak memungkinkan bagi saya untuk duduk di situ.

Lagi-lagi saya harus menahan kecewa ketika melihat di pinggir gedung berjejer banyak bendera negara lagi. Saya nggak tahu apa obsesi pengelola terhadap bendera-bendera tersebut. Mungkin memang konteksnya seperti sepak bola seperti kata bapak dan ibu saya. Tapi, buat apa sih dipasang tanpa konteks di gedung cagar budaya kita? Bukankah harusnya bangunan bersejarah seperti ini memperbanyak wawasan kebangsaan dan budaya lokal?

Baca Juga:

Purwokerto dan Purwakarta: Nama Mirip Beda Provinsi yang Bikin Paket Nyasar, Ongkir Membengkak, dan Kurir Ekspedisi Kena Mental

Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas

Terkesan hanya untuk memenuhi kebutuhan eksis di media sosial

Melanjutkan berkeliling sambil membawa perasaan kesal, tak banyak yang bisa saya nikmati di The Heritage Palace. Tempat ini terkesan hanya untuk memenuhi kebutuhan eksis di media sosial.

Secara penampilan di lokasi, museum 3D dan transportasinya nggak terlihat meyakinkan. Nggak ada informasi apa-apa di museum transportasi yang berisi kendaraan antik, hanya ada—lagi-lagi—wallpaper 3D untuk berfoto ria.

Di ujung ruang bangunan pabrik gula yang dikotak-kotakkan oleh triplek wallpaper 3D ada Omah Kwalik, properti rumah yang dipasang terbalik. Tentu bagi saya ini adalah sarana yang menjanjikan bagi pengunjung yang ingin eksis di media sosial. Namun, hiburan seperti ini bisa dibangun di mana pun, sehingga pemanfaatan cagar budaya tetap jelas pada koridornya.

Kalau saya analogikan kira-kira begini. Seorang cucu yang menemukan senjata peninggalan kakeknya pasti ingin mendengarkan cerita perjuangan kakeknya. Interaksi ini tentu murni dan begitu intim di tengah kehangatan keluarga dan rasa nasionalisme mereka. Namun yang saya rasakan begitu memasuki The Heritage Palace bak seorang cucu yang menghias dan bermain-main dengan senjata sang kakek tanpa mengetahui esensi cerita perjuangan di balik senjata itu.

Saran untuk pengelola The Heritage Palace

Saya memiliki saran untuk pengelola The Heritage Palace agar pengunjung yang datang dengan ekspektasi berlebih seperti saya nggak perlu merasakan kekecewaan begitu tiba di tempat ini.

Bagaimana kalau pengelola mengundang sejarawan dan ahli Belanda untuk mengonsep ulang The Heritage Palace? Buatlah spot yang mengangkat sejarah operasional pabrik gula, atau sejarah Sukoharjo dan masyarakat pada zaman itu. Cobalah untuk menyelipkan sedikit kisah dinamika Belanda pada era dulu, mereview arsitektur pabrik gula dan membandingkannya dengan pabrik gula di daerah lain, dll.

Saya melihat masih banyak spot kosong yang sebenarnya bisa dimanfaatkan pengelola untuk menyisipkan area khusus sejarah. Padahal spot-spot kosong tersebut bisa jadi area khusus untuk memberi informasi mengenai sejarah bangunan cagar budaya itu. Dengan begitu, pengunjung yang datang nggak sekadar berfoto-foto ria, tapi juga bisa sambil belajar sejarah.

Memang nggak ada salahnya bersenang-senang di cagar budaya. Tapi, jangan sampai kita sebagai bangsa kehilangan jati diri yang ironisnya kita hilangkan di situs bersejarah milik kita.

Penulis: Affan Hasby Winurrahman
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Sukoharjo, Kabupaten Indah yang Terasa Nanggung.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 Juli 2023 oleh

Tags: cagar budayajawa tengahpabrik gulasukoharjoThe Heritage Palace
Affan Hasby Winurrahman

Affan Hasby Winurrahman

Owner Rumah Makan di Mojokerto, lulusan Magister FISIP. Suka mengamati isu sosial-budaya, bisnis, dan perintilannya. Hobi menulis musik dan main game.

ArtikelTerkait

Magelang Nggak Pantas Menyandang Status Kota Sejuta Bunga (Unsplash)

Julukan Kota Sejuta Bunga Sudah Tidak Cocok Lagi bagi Magelang, Seharusnya Julukan itu Kini Melekat ke Bandungan, Kabupaten Semarang

29 April 2024
Purwokerto Selatan, Kecamatan Paling Ideal di Banyumas yang Sering Disepelekan

Purwokerto Selatan, Kecamatan Paling Ideal di Banyumas yang Sering Disepelekan

9 Maret 2024
Jadi Tempat Pameran Seni, Jalan Gatot Subroto Solo Nggak Kalah sama Jalan Malioboro Jogja, bahkan Lebih Bagus!

Jadi Tempat Pameran Seni, Jalan Gatot Subroto Solo Nggak Kalah sama Jalan Malioboro Jogja, bahkan Lebih Bagus!

5 Juli 2024
Kedu, Kecamatan Paling Strategis di Kabupaten Temanggung dan Jadi Tempat Tinggal Terbaik

Kedu, Kecamatan Paling Strategis di Kabupaten Temanggung dan Jadi Tempat Tinggal Terbaik

8 Maret 2024
Bandeng Presto Asalnya dari Pati, Terkenal Jadi Oleh-oleh Semarang Terminal Mojok

Bandeng Presto: Asalnya dari Pati, Terkenal Jadi Oleh-oleh Semarang

10 Januari 2022
Surakarta Semakin Mirip Jogja Semakin Tidal Ideal untuk Pensiun (Unsplash)

Kenaikan Tingkat Kriminalitas dan Semakin Semrawut, Surakarta Sudah Bukan Lagi Tempat yang Ideal untuk Pensiun seperti Jogja

1 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

14 Januari 2026
Kebohongan Pengguna iPhone Bikin Android Jadi Murahan (Pixabay)

Kebohongan Pengguna iPhone yang Membuat Android Dianggap Murahan

18 Januari 2026
Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

17 Januari 2026
8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg

8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg

15 Januari 2026
5 Camilan Private Label Alfamart Harga di Bawah Rp20 Ribuan yang Layak Dibeli Mojok.co

5 Camilan Private Label Alfamart Harga di Bawah Rp20 Ribu yang Layak Dibeli 

13 Januari 2026
6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet Mojo.co

6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet

13 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.