Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Hewani

Pelajaran Hidup yang Saya Dapat dari Memelihara Kura-kura

Eunike Dewanggasani W. S. oleh Eunike Dewanggasani W. S.
1 Juni 2023
A A
Pelajaran Hidup yang Saya Dapat dari Memelihara Kura-kura

Pelajaran Hidup yang Saya Dapat dari Memelihara Kura-kura (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Meski saya nggak bisa Kamehameha, tapi memelihara kura-kura ternyata memberi saya banyak pelajaran

Kalau membicarakan hewan peliharaan, kebanyakan di benak orang-orang mereka akan langsung terbayang kucing atau anjing. Valid sih, karena saya sendiri juga merasa dua binatang ini adalah yang paling populer dan banyak dipelihara di Indonesia. Sebagai seseorang yang terlahir dari keluarga pencinta hewan, sejak kecil saya sudah dikelilingi oleh anjing, kucing, dan hamster yang dipelihara di rumah. Bagi saya, hewan peliharaan adalah pelengkap jiwa dan penghibur. Bahasa kerennya sih, emotional support partner.

Karena harus tinggal di luar kota dan menetap di kos semasa kuliah, saya sering merasa kesepian karena tidak ada teman di kamar kos. Akhirnya di tahun ketiga berkuliah, saya memutuskan untuk mengadopsi jenis binatang yang belum pernah saya pelihara sebelumnya: reptil. Reptil yang saya pilih adalah kura-kura karena ukurannya kecil sehingga bisa mudah diurus di dalam kamar kos. Nah, berikut beberapa pelajaran hidup yang saya dapat setelah memelihara Kobugi (nama yang saya berikan untuk kura-kura saya) selama kurang lebih empat tahun ini.

Nggak, saya nggak bisa Kamehameha. Tolong banget.

Menjadi pawrent sama dengan free trial menjadi orang tua

Karena memiliki tanggungan makhluk hidup, otomatis Kobugi menjadi anak yang harus saya asuh dan perhatikan. Saya harus memperhatikan sandang (kebersihan tubuhnya), pangan, serta papan (akuarium) supaya kura-kura ini bisa hidup sejahtera. Tidak hanya itu, segala keputusan dan jadwal yang saya buat harus diambil dengan memikirkan dan memprioritaskan Kobugi. Contohnya, saya tidak bisa menginap lama-lama di luar kos karena Kobugi harus diberi makan dan diurus.

Saya sampai pernah mikir, wah, gini ya rasanya jadi orang tua? Cuma bedanya ini anak hewan. Kalau anak manusia mungkin akan lebih repot lagi karena saya harus memikirkan kebutuhan esensial lainnya yang jelas lebih menguras dompet.

Harus pintar mengelola finansial demi hewan kesayangan

Kalau orang seusia saya prioritas utamanya cuma menabung-investasi-keluarga-hidup, saya memiliki satu kategori lagi, yaitu ‘anak’. Biaya ini adalah uang untuk membeli turtle food; uang investasi untuk beli peralatan akuarium; serta dana untuk membawa Kobugi ke dokter hewan. Nah, di sinilah saya harus pintar-pintar mengelola uang. Contohnya saya mau tidak mau harus mengalah dan mengalokasikan dana yang awalnya ingin dibuat untuk berfoya-foya untuk ditaruh di dana khusus Kobugi.

Tidak semua hewan hidup memerlukan sosialisasi

Di rumah orang tua saya, kami memelihara dua ekor anjing. Keuntungan yang didapatkan juga banyak, contohnya rumah jadi lebih terjaga; ada penangkap tikus tambahan; dan rumah bisa ditinggal dalam jangka waktu lebih lama karena kedua anjing kami tidak sendirian (saling menemani). Nah, awalnya saya sempat berpikir apakah Kobugi ini tidak kesepian sendiri? Ternyata setelah banyak membaca, kura-kura tidak memiliki sifat sosial alami seperti anjing. Mereka hewan solitary yang justru lebih aman kalau hidup sendirian.

Baca Juga:

Tetangga yang Nggak Niat Mengurus Hewan Peliharaan Wujud Kehidupan Tanpa Adab: Kalau Nggak Niat Pelihara, Mending Nggak Usah

Pelajaran Hidup yang Saya Dapatkan dari Memelihara Burung Ciblek

Saya jadi lebih relate dengan Kobugi. Apalagi saat kuliah itu sedang masa-masa awal covid masuk Indonesia. Kami berdua masing-masing hidup sendirian tapi saling menemani dalam diam.

Hubungan emosional bisa tercipta walaupun kita tidak berkomunikasi dalam bahasa yang sama

Ciaaaakss…. subjudulnya kesannya romantis banget, hehehe. Tapi sama dengan anjing atau kucing, memelihara dan menyayangi hewan peliharaan berarti memiliki hubungan emosional dengan mereka. Walaupun saya tidak bisa berbahasa kura-kura dan Kobugi tidak bisa berbahasa manusia. Tapi, dia bisa merespons kalau saya panggil; saya tahu makanan dan tempat favoritnya; dan kami berdua saling menikmati menghabiskan waktu bersama-sama. Biasanya Kobugi tidur di samping laptop saya selagi saya mengetik skripsi.

Hidup manusia itu adalah pembelajaran tanpa henti

Karena sejak kecil terbiasa memelihara mamalia, waktu mengadopsi Kobugi, saya merasa seperti manusia idiot yang tidak tahu apa-apa. Wajar saja, toh memang saya tidak pernah memelihara reptil sebelumnya. Saya baru tahu kalau ternyata reptil memiliki suhu tubuh rendah dibandingkan hewan lain sehingga perlu berjemur di matahari/memakai lampu sinar UV.

Saya juga baru tahu kalau kura-kura tidak perlu diberi makan setiap hari, dan kalau sedang masa kawin, kura-kura akan mengalami prolapse. Intinya, seluruh pengetahuan saya mengenai memelihara mamalia selama 20 tahun saya hidup di bumi ini tidak bisa diterapkan mentah-mentah kepada Kobugi. Alhasil, saya ya memang harus belajar dari nol.

Nah, itu tadi hikmat yang saya dapat dari memelihara Kobugi. Kira-kira, menurut kalian lebih enak memelihara mamalia atau reptil? Atau jangan-jangan, ada yang mau memperkenalkan saya untuk memelihara binatang unggas untuk jadi ‘calon anak’ yang akan saya adopsi berikutnya? Hehehe.

Penulis: Eunike Dewanggasani W. S.
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Panduan Menjawab di Mana Letak Candi Borobudur agar Kalian Nggak Salah Tag Lokasi di Instastory

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 Juni 2023 oleh

Tags: hewan peliharaankura-kurapelajaran hidup
Eunike Dewanggasani W. S.

Eunike Dewanggasani W. S.

Mahasiswa tingkat akhir yang sedang malas bersosialisasi.

ArtikelTerkait

hari binatang sedunia

Hari Binatang Sedunia dan Cara Asik Merayakannya

4 Oktober 2019
Kritter Klub: Opsi Sarana Edukasi Biar Masyarakat Indonesia Nggak Begundal-Begundal Amat!

Kritter Klub: Opsi Sarana Edukasi Biar Masyarakat Indonesia Nggak Begundal-Begundal Amat!

17 Februari 2020
Alasan Kenapa Kucing Sangat Suka Duduk dan Tiduran di Atas Laptop Beragam Cara Klaim Wilayah: Dari Kasus Natuna Utara Sampai Kucing Rumahan

Alasan Kucing Sangat Suka Tiduran di Atas Laptop

29 Mei 2020
5 Macam Kepribadian Kucing Kompleks Berdasarkan Observasi Lapangan terminal mojok.co

5 Macam Kepribadian Kucing Kompleks Berdasarkan Observasi Lapangan

7 September 2020
Pelihara Primata buat Pamer di Medsos Nggak Semenyenangkan Itu terminal mojok

Pelihara Primata buat Pamer di Medsos Nggak Semenyenangkan Itu!

29 Juni 2021
Butuh Kesabaran Ekstra kalau Punya Tetangga yang Pelihara Ayam Kampung terminal mojok.co

Butuh Kesabaran Ekstra kalau Punya Tetangga yang Pelihara Ayam Kampung

26 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

9 April 2026
Rindu Kota Batu Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang Mojok.co apel batu

Senjakala Apel Batu, Ikon Kota yang Perlahan Tersisihkan. Lalu Masih Pantaskah Apel Jadi Ikon Kota Batu?  

10 April 2026
SGPC Bu Wiryo Tempat Makan Alumni UGM Sukses, Mahasiswa Aktif Nggak Sanggup Makan di Sana karena Mahal Mojok.co

SGPC Bu Wiryo Tempat Makan Alumni UGM Sukses, Mahasiswa Nggak Sanggup Makan di Sana karena Mahal

11 April 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN

Wajar kalau Masyarakat Nggak Peduli PNS Dipecat atau Gajinya Turun, Sudah Muak sama Oknum PNS yang Korup!

7 April 2026
Jalan Godean Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat Mojok

Jalan Godean yang Ruwet Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat

8 April 2026
Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga Mojok.co

Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga

9 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Nekat ke Jakarta Hanya Modal Ambisi sebagai Musisi, Gagal dan Jadi “Gembel” hingga Bohongi Orang Tua di Kampung
  • Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta
  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.