Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Makan Sate Padang Itu Pakai Ketupat, Bukan Lontong Apalagi Nasi

Dessy Liestiyani oleh Dessy Liestiyani
16 April 2023
A A
Makan Sate Padang Itu Pakai Ketupat, Bukan Lontong Apalagi Nasi

Makan Sate Padang Itu Pakai Ketupat, Bukan Lontong Apalagi Nasi (Sabjan Badio via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Dulu saya tak pernah memperhatikan hal ini, bahwasanya sate padang itu makannya pakai ketupat. Bukan dimakan pakai lontong, apalagi nasi. Dih.

“Halah, kan sama-sama terbuat dari beras!” Begitu saya mengartikannya waktu masih tinggal di Pulau Jawa. Namun saat ini, setelah sepuluh tahun menetap di Bukittinggi, di provinsi asalnya sate padang, saya sadar bahwa apa yang saya yakini selama ini tidak sesuai dengan apa yang saya amati di kota ini.

ADVERTISEMENT

Sebelumnya, mari kita samakan persepsi antara ketupat dan lontong. Keduanya sama-sama berbahan dasar beras yang dimasak dalam bungkus daun. Dari bentuk fisik, perbedaannya jelas terlihat. Ketupat terbungkus dalam anyaman daun kelapa (janur) berbentuk segi empat, sementara lontong berbentuk silinder panjang dalam balutan daun pisang.

Karena dibungkus dengan daun pisang ini pula biasanya lontong memiliki aroma yang lebih kuat dibandingkan ketupat. Belum lagi beras yang digunakan untuk mengisinya pun biasanya sudah diaron terlebih dahulu menjadi beras setengah matang. Sementara ketupat umumnya menggunakan beras atau kadang ketan, tanpa perlakuan sebelumnya.

Ketupat dan lontong sering digunakan sebagai komponen karbohidrat dalam banyak hidangan Nusantara

Beberapa jenis masakan memang menggunakan ketupat maupun lontong sebagai pelengkap komponen karbohidratnya. Makanan seperti gado-gado, lotek, karedok, dan sejenisnya, bisa saja menggunakan ketupat atau lontong. Demikian pula dengan beragam masakan ketupat/lontong sayur. Penggunaan ketupat dan lontong di makanan-makanan tersebut memang sejatinya “diarahkan” sebagai pengganti nasi. Jika kemudian gado-gado dimakan dengan nasi pun, ya masih sah-sah saja. Artinya, tidak akan mengubah kenikmatan ketika mengonsumsinya.

Akan tetapi beda kasusnya untuk sate padang. Makanan berupa potongan daging yang ditusuk, dibakar, dan kemudian disiram kuah kental pedas ini, hanya disajikan dengan ketupat. Bukan lontong.

Saya sering sekali membaca artikel terkait sate padang yang menyebutkan bahwa makanan khas Sumatra Barat ini bisa disantap dengan ketupat atau lontong. (((Atau))). Makna kata “atau” itu seakan menjelaskan bahwa lontong bisa saja menggantikan ketupat di hidangan itu. Padahal walaupun sepertinya memiliki “fungsi” yang sama, namun saya perhatikan bahwa untuk wilayah Bukittinggi dan sekitarnya, peran ketupat dan lontong tidak bisa saling menggantikan di hidangan sate padang. Saya memiliki beberapa asumsi yang mendasari pemikiran ini.

Ketupat lebih dikenal di Bukittinggi

Selama tinggal di kota ini, saya tidak pernah melihat penampakan lontong di restoran, kedai, atau gerobak sate padang. Selalu saja ketupat yang tergantung, bukan lontong dalam besek. Bukannya tidak ada lontong di Bukittinggi. Kalian bisa menemukannya di restoran yang menjual makanan khas Jawa seperti sate ayam, sate kambing, atau opor. Justru penggunaan ketupat di hidangan-hidangan tersebut jadi terasa kurang lazim.

Baca Juga:

3 Tradisi Manten Paling Unik di Tulungagung. Terdengar Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warlok

Penderitaan Tinggal Dekat Tempat Wisata Mikutopia Kota Batu, Hidup Dihantui Macet, Berisik, dan Waswas dengan Ancaman Bencana Ekologis Masa Depan

Dari seorang rekan di kota ini saya mengetahui bahwa penggunaan lontong, terutama yang terbungkus daun memang tidak umum di beberapa masakan Minang. Menurut beliau, lontong daun di Pulau Sumatra ini justru identik dengan masakan-masakan Medan. Contohnya, masakan lontong medan yang terkenal itu, yang memang menggunakan lontong daun sebagai komponen utamanya.

Sebenarnya, beberapa kuliner Sumatra Barat juga menggunakan lontong. Sebut saja lontong sayur, atau lontong pical (seperti sayur pecel kalau di Jawa). Namun, hidangan-hidangan ini pun tidak menggunakan lontong yang dimasak dalam daun pisang. Di sini, lontong dibuat dengan memasak beras sampai lembut seperti bubur. Ada yang menyebutnya bubua (dalam bahasa Minang berarti “bubur”), ada juga yang menyebutnya lontong kacau. Dalam bahasa Minang, “kacau” berarti campur, mengacu pada proses pembuatannya yang menyampur/mengaduk-aduk beras dalam kuali sampai lembut, dan ditambahkan air kapur sirih untuk membuat teksturnya padat dan kenyal.

Sebenarnya, proses pembuatan lontong kacau ini bisa lebih cepat dan efisien dibandingkan memasak ketupat. Hasilnya pun bisa lebih banyak. Namun, sampai saat ini saya belum menemukan pedagang sate padang yang menggunakan lontong kacau sebagai pengganti ketupatnya.

Rasa dan aroma sate padang kuat

Sebagai sebuah hidangan, sate padang memiliki rasa yang kuat. Kuah sate yang berbahan dasar tepung beras ini, umumnya berwarna kuning, cokelat, atau oranye kemerahan. Sejatinya, kuah sate padang memang diracik dari bumbu dan rempah yang sangat banyak.

Selain tepung beras, bawang merah, bawang putih, dan cabai sebagai bumbu dasar, ada juga jahe, lengkuas, kunyit, kayu manis, pala, ketumbar, lada, jinten, adas, bunga lawang, kapulaga, serta cengkeh. Belum lagi geng dedaunan seperti daun kunyit, daun salam, batang sereh, dan daun jeruk. Beberapa resep juga menambahkan bumbu kari sebagai penguat rasa. Tak heran aroma kuah sate padang ini begitu merangsang.

Itu baru kuahnya. Satenya sendiri berupa potongan daging sapi atau jeroan sapi yang telah dibumbui terlebih dahulu. Sate padang khas daerah Payakumbuh yang disebut sate danguang-danguang, malah lebih lezat lagi. Daging satenya ditaburi serundeng kelapa parut yang berbumbu. Bahkan tanpa perlu dibakar, sate ini sudah nikmat dimakan begitu saja.

Asumsi saya, kuatnya cita rasa inilah yang pada akhirnya “membutuhkan” ketupat, sebagai suatu pelengkap dengan rasa yang lebih netral dibandingkan lontong daun. Lontong daun jadinya akan lebih cocok sebagai pelengkap sate ayam, atau sate kambing khas Pulau Jawa saja, bukan sate padang.

Jangan pikir bisa makan pakai nasi

Oh ya, jangan juga makan sate padang pakai nasi, ya. Mentang-mentang kuahnya kuning kental begitu terus dibayangkan seperti kuah kari, yang cocok dimakan pakai nasi panas? Ya nggak gitu juga konsepnya.

Ingat, ini sate padang yang kuahnya terbuat dari tepung beras. Cita rasa kuah yang asin, gurih, dan pedas itu memang sepertinya cocok untuk “ngebasahin” nasi. Tapi, teksturnya yang cenderung kental itu bakal memberi sensasi rasa yang nggak karuan di lidah kalian. Nasi sudah jelas tidak berjodoh dengan kuah sate padang. Ini sate padang lho, bukan Indomie.

Jadi paham, ya. Jangan mentang-mentang berbahan-baku beras, terus ketupat dan lontong bisa saling bertukar peran di sate padang. Jangan juga ke-pede-an minta nasi putih waktu pesan sate padang. Kalau ini, berpotensi diketawain abang satenya.

Penulis: Dessy Liestiyani
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Rupa-rupa Kecewa Penikmat Sate Padang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 April 2023 oleh

Tags: ketupatlontongNasipilihan redaksisate padang
Dessy Liestiyani

Dessy Liestiyani

Tinggal di Bukittinggi. Wiraswasta, mantan kru televisi, penikmat musik dan film.

ArtikelTerkait

Kenikmatan Tak Terbantahkan Makan Nasi dengan Kerupuk dan Kecap terminal mojok.co

Kenikmatan Tak Terbantahkan Makan Nasi dengan Kerupuk dan Kecap

13 November 2020
5 Jebakan yang Perlu Dihindari Wisatawan Saat Liburan di Jogja

5 Jebakan yang Perlu Dihindari Wisatawan Saat Liburan di Jogja

14 Juni 2024
Hyundai dan Visi Besar Menciptakan Masa Depan yang Lebih Baik mojok.co

Hyundai dan Visi Besar Menciptakan Masa Depan yang Lebih Baik

26 Oktober 2021
4 Pertanyaan yang Dibenci Mahasiswa Untidar Magelang Mojok.co

4 Pertanyaan yang Dibenci Mahasiswa Untidar Magelang

12 November 2024
rachel vennya kabur dari karantinaa

Sampai Kapan Kita Rela Dikangkangi Influencer seperti Rachel Vennya?

16 Oktober 2021
Konsep Kota Pensiun Adalah Bom Waktu dan Cuma Akal-akalan Pebisnis Properti

Konsep Kota Pensiun Adalah Bom Waktu dan Cuma Akal-akalan Pebisnis Properti

24 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Setelah akad KPR rumah, saya baru sadar bahwa beli rumah bukannya jadi solusi, tapi justru jadi masalah baru

1 Agustus 2026
Suka knalpot brong indikasi sadisme, psikopat, dan narsisme (Wikimedoia Commons)

Kenapa sih kita gampang banget emosi lalu ngamuk kalau ada orang blayer-blayer knalpot brong?

29 Juli 2026
Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu Mojok.co

Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu

2 Agustus 2026
Tarif parkir SCBD Jakarta bikin syok, bisa buat dua kali makan di kampung  Mojok.co

Tarif parkir SCBD Jakarta bikin syok, bisa buat dua kali makan di Jogja

27 Juli 2026
4 jasa yang nggak pernah kepikiran bakal ada, tapi saya temukan di Threads Mojok.co

4 jasa yang nggak pernah kepikiran bakal ada, tapi saya temukan di Threads

3 Agustus 2026
Stadion karapan sapi di Bangkalan terlalu bapuk, orang sulit percaya ini ikon budaya Madura Mojok.co

Stadion karapan sapi di Bangkalan terlalu bapuk, orang sulit percaya ini ikon budaya Madura

3 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.