Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Nggak Usah Sok Ngomong Bahasa Jawa Saat Belanja di Malioboro, Nggak Semua Pedagangnya Orang Jawa Kok!

Annatiqo Laduniyah oleh Annatiqo Laduniyah
25 November 2019
A A
Nggak Usah Sok Ngomong Bahasa Jawa Saat Belanja di Malioboro, Nggak Semua Pedagangnya Orang Jawa Kok!
Share on FacebookShare on Twitter

Belanja memang selalu menjadi kebutuhan setiap orang. Apalagi jika kita sedang mengunjungi suatu tempat dan berencana membeli oleh-oleh untuk orang di rumah. Belanja (oleh-oleh) seperti menjadi kebutuhan yang wajib. Hampir di setiap kota-kota besar yang menjadi tujuan para wisatawan dalam maupun luar negeri, memiliki pasar tradisional atau tempat perbelanjaan. Contohnya saja Malioboro.

Siapa yang tidak tahu Malioboro? Jalan sepanjang 2 kilometer yang merupakan salah satu ikon kota Jogja sendiri dan menjajakan berbagai dagangan oleh-oleh khas Yogyakarta. Mulai dari kaos, gantungan kunci, tas, makanan, dan banyak lagi. Bahkan kaos yang seperti saringan tahu hingga barang branded di bisa kamu temukan di sepanjang jalan ini. Kios pedagang kaki lima hingga mall-mall besar. Tukang pijat sampai tukang cilok pun bisa kamu temukan.

ADVERTISEMENT

Tempat perbelanjaan yang bisa banget buat tawar menawar. Bahkan sampai lebih dari setengah harga.

Banyak dari kita yang beranggapan bahkan percaya bahwa jika berbelanja di suatu daerah dengan menggunakan bahasa daerah tersebut, maka akan memengaruhi harga barang yang akan kita beli.

Begitu pula dengan yang banyak terjadi di sepanjang jalan Malioboro. “Pake bahasa Jawa ah, siapa tau bisa lebih murah.” Untuk orang-orang yang pada dasarnya bisa bahasa Jawa (walau hanya sedikit), hal tersebut bisa saja membawa keuntungan. Tapi bagaimana jika pada dasarnya tidak bisa bahasa Jawa? Hanya inggah-inggeh saja, atau hanya paham “niki pinten, Bu?” dan tidak paham kalimat jawabannya, ya hal tersebut justru bisa jadi jebakan dan justru bikin kita kowah-kowoh, plonga-plongo karena nggak paham.

Lagipula kalau memang pada dasarnya tidak paham bahasa Jawa, nggak usahlah sok-sok an pakai bahasa Jawa. Karena toh tidak semua pedagang Malioboro itu orang Jawa dan paham bahasa Jawa. Lah, kok?

Yogyakarta kan kota besar yang setiap harinya selalu ada pendatang. Entah itu wisatawan, pekerja, pelajar, atau warga yang pindah domisili. Pada tahun 2018 saja Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil mencatat ada sebelas ribu lebih pendatang di Yogyakarta. Jadi memang sangat memungkinkan jika pedagang kali lima di Malioboro itu bukan orang Jogja atau tidak bisa berbahasa Jawa.

Saya jadi ingat cerita seorang teman yang baru bekerja seminggu menjaga salah satu kios baju di Malioboro. Dia orang Lampung yang lama tinggal di Bandung. Dan dia mengaku belum terlalu paham bahasa Jawa.

Nah, suatu ketika ada seorang pelanggan yang bertanya kepadanya. “Mas, artinya sugeng rawuh tuh apa ya?” Sebagai orang yang bahasa Jawa kasar saja masih belum lancar, dia pun bingung. Jadi saat si pelanggan sedang memilih-milih baju, dia melipir ke kios sebelah dan bertanya pada ibu-ibu penjaganya. Dari situ dia tahu bahwa sugeng rawuh artinya adalah selamat datang. Lalu dia kembali ke kios nya, dan menjawab pertanyaan si pelanggan.

Baca Juga:

Orang yang Foto di Tugu Jogja Itu Bukan Norak, Hampir Semua Pelancong Pernah Melakukannya

Tips Plesir Kala Malam di Jogja Naik GoRide Menikmati Kota Warisan Budaya Tanpa Menjadi Tua di Jalanan

Dari situ dia bercerita bahwa memang di sederet kios dia berjualan itu memang mayoritas penjaga atau pedagang nya adalah orang Lampung. Dan saya memang sempat berkenalan dengan dua-tiga orang yang mengaku berasal dari daerah yang sama, Lampung.

Sistem pekerjaan sebagai penjaga kios di sana memang mayoritas menggunakan sistem penawaran antar teman. Jadi jika penjaga 1 ingin berhenti, dia akan menawarkan temannya yang ingin bekerja untuk menjadi penjaga 2. Begitu juga seterusnya. Dan karena banyak pencari pekerjaan adalah tetangga atau teman sekampung, jadi ya besar kemungkinan yang mengisi tempat sebagai penjaga kios ya orang dari daerah itu-itu saja.

Walaupun hal seperti ini pun terjadi secara musiman. Jika sekarang banyak yang berasal dari Lampung, bisa jadi tahun depan banyak pedagang berasal dari Semarang, kemudian tahun depannya lagi, beda daerah lagi. Tergantung pengganti itu ditawarkan ke siapa.

Nah, bisa jadi sistem seperti ini juga banyak digunakan di kota-kota besar lain yang notabene merupakan kota wisata seperti Jogja. Maka, daripada memperumit diri sendiri dengan mencoba tawar-menawar dengan bahasa daerah tersebut, mending nggak usah deh. Toh, jika kita paham pun belum tentu pedagangnya juga paham.

Tapi ceritanya akan beda lagi jika si pedagang atau penjaga kios ini memang berasal dari daerah tersebut. Maka upaya belajar bahasa daerahmu tidak akan sia-sia.

BACA JUGA Sore Menjelang Maghrib di Malioboro atau tulisan Annatiqo Laduniyah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 November 2019 oleh

Tags: kota wisataMalioboropedagangtawar menawar
Annatiqo Laduniyah

Annatiqo Laduniyah

ArtikelTerkait

5 Hal yang Tidak Ditemukan di Malioboro Jogja. Baca Ini Sebelum Berkunjung!

5 Hal yang Tidak Ditemukan di Malioboro Jogja. Baca Ini Sebelum Berkunjung!

18 Oktober 2023
Jogja Darurat Parkir 10 Juta Manusia Serbu Jogja saat Nataru (Unsplash)

10 Juta Manusia Banjiri Jogja Saat Libur Nataru padahal Jogja Darurat Parkir

23 Desember 2024
Selain Saya, Siapa yang Tidak Pintar dalam Menawar Harga Ketika Berbelanja? kartu member belanja

Selain Saya, Siapa yang Tidak Pintar dalam Menawar Harga Ketika Berbelanja?

28 Januari 2020
Kota Cirebon Cocok untuk Orang-orang Mager yang Ingin Berwisata Mojok.co

Kota Cirebon Cocok untuk Orang-orang Mager yang Ingin Berwisata

8 September 2024
Mati Tua di Jalanan Yogyakarta sumbu filosofis jogja unesco

7 Catatan Masalah di Sumbu Filosofis Jogja yang Kini Resmi Jadi Warisan Dunia UNESCO

22 September 2023
Jogja Bikin Betah, Mau Sukses Kerja ke Semarang (Unsplash)

Jogja Bikin Betah, tapi Kalau Mau Jadi Pekerja yang Tahan Banting dan Sukses, Mending Kerja di Semarang

15 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cor dak malam hari itu bukan karena tukangnya gabut, tapi ada alasan ilmiah yang valid

Cor dak malam hari itu bukan karena tukangnya gabut, tapi ada alasan ilmiah yang valid

9 Agustus 2026
GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua Mojok.co

GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua

9 Agustus 2026
Orang dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan Mojok.co

Pekerja dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan 

10 Agustus 2026
Pengalaman cabut gigi gratis dengan dokter koas: memang nggak keluar biaya, tapi dibayar dengan cuti dan jadwal yang tak tentu

Pengalaman cabut gigi gratis oleh dokter koas: memang nggak keluar biaya, tapi dibayar dengan cuti dan jadwal yang tak tentu

4 Agustus 2026
5 Kuliner Madura selain Sate yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang Mojok.co

Jangan cuma mengingat stereotip negatifnya, nyatanya orang Madura itu jago banget masak

10 Agustus 2026
Punya tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah ujian hidup paling berat

Punya tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah ujian hidup paling berat

4 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.