Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Jangan Anggap Mudah Bahasa Indonesia kalau Nulis Saja Masih Sering Salah

Ratna Latifa oleh Ratna Latifa
7 Februari 2023
A A
Jangan Anggap Mudah Bahasa Indonesia kalau Nulis Saja Masih Sering Salah

Jangan Anggap Mudah Bahasa Indonesia kalau Nulis Saja Masih Sering Salah (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Dulu saat masih sekolah, saya menganggap Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran paling mudah. Gimana nggak mudah, pada saat ujian saja semua jawaban bisa dicari di dalam soal. Kalau ujian Bahasa Indonesia tiba, saya merasa nggak perlu belajar di malam sebelum jadwal ujian dilaksanakan. Guru Bahasa Indonesia biasanya juga memiliki pembawaan yang santai, sehingga nggak membuat saya tegang menghadapi mata pelajaran tersebut.

Anggapan bahwa bahasa Indonesia merupakan pelajaran mudah, memotivasi saya untuk memilih kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Tentu saja tujuannya biar saya bisa menjalani kuliah dengan santai. Nyatanya, belajar Bahasa Indonesia di kampus dan di sekolah cukup berbeda. Di kampus, ada banyak dosen yang merangkap jadi polisi bahasa dan siap menilang tulisan mahasiswa yang nggak sesuai kaidah.

Kesalahan sederhana

Saya ingat betul, saat masih duduk di semester awal, saya mengikuti mata kuliah Asesmen Pembelajaran. Saat itu mahasiswa diberi tugas untuk menyusun contoh soal dan diminta mempresentasikannya pada pertemuan minggu depan. Saya cukup percaya diri dengan soal-soal yang saya susun.

Seminggu berlalu, saya pun jadi mahasiswa pertama yang ditunjuk oleh dosen untuk mempresentasikan tugas yang telah saya kerjakan. Selesai presentasi, dosen saya memberikan feedback yang cukup panjang. Saya kaget, sebab bukan kualitas soal saya yang dibahas beliau, melainkan penulisan saya yang nggak sesuai kaidah yang berlaku. Mulai dari penggunaan kata “di” dan “ke” sampai jumlah titik pada soal uraian singkat. Sejak saat itu saya jadi lebih peduli dengan kaidah penulisan bahasa Indonesia karena latar belakang pendidikan saya.

Semakin tua semester seorang mahasiswa, makin banyak pula tugas untuk jadi polisi bahasa di kampus saya. Mahasiswa jadi lebih sering diminta untuk menganalisis kesalahan berbahasa di ruang publik, misalnya baliho, poster, poster, iklan, surat resmi, teks petunjuk atau teks peraturan, dll.. Apa sih tujuannya? Ya supaya mahasiswa juga tahu bahwa masyarakat juga masih belum menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Penulisan kata yang nggak sesuai KBBI merupakan kesalahan ringan. Kesalahan paling berat dalam bahasa Indonesia adalah penempatan susunan subjek, objek, predikat, dan keterangan yang keliru sehingga membuat kalimat ambigu dan memunculkan beragam penafsiran. Nah, itulah tugas saya nanti setelah menjadi guru Bahasa Indonesia, yakni membimbing para murid agar mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.

Penulisan terima kasih

Kesalahan penulisan frasa terima kasih sering sekali kita temukan bahkan pada surat dan peraturan resmi. Kenapa seseorang sulit untuk bisa memahami bahwa terima kasih adalah dua kata yang berdiri sendiri sehingga harus dipisah penggunaannya?

Saya mengasumsikan sebuah alasan yang paling masuk akal mengapa masyarakat sering menuliskan “terima kasih” tanpa dipisah menjadi “terimakasih”. Alasannya adalah banyak yang nggak mengetahui makna ungkapan “terima kasih”. “Terima kasih” mungkin hanya diungkapkan secara refleks ketika mendapatkan kesenangan tanpa memahami maknanya. Coba deh tanyakan makna “terima kasih” kepada orang-orang yang masih salah menuliskan kata tersebut.

Baca Juga:

12 Istilah Hujan yang Terdengar Aneh dalam Bahasa Jawa, Ada “Tlenik-Tlenik” hingga “Kethek Ngilo”

7 Istilah Dingin dalam Bahasa Jawa, Mulai dari Adem sampai Sembribit

Salah menempatkan term “dan” & “atau”

Apa yang berbeda dari kalimat larangan berikut:

  1. Bertato dan bertindik dilarang mendaftar CPNS
  2. Bertato atau bertindik dilarang mendaftar CPNS

Dua kalimat larangan di atas memiliki perbedaan penggunaan term “dan” dan “atau” yang tentunya membuat makna larangan menjadi berbeda. 

Pada kalimat 1) memiliki makna jika seseorang memiliki tato dan bertindik di tubuhnya, orang tersebut dilarang mendaftar CPNS. Namun, jika seseorang hanya memiliki tato dan nggak bertindik, orang tersebut bisa mendaftar CPNS. Begitu pula dengan orang yang hanya bertindik dan nggak bertato tetap bisa mendaftar CPNS.

Pada situasi kalimat 2) memiliki makna jika seseorang memiliki tato, orang tersebut nggak boleh mendaftar CPNS. Jika seseorang bertindik, orang tersebut juga nggak boleh mendaftar CPNS. Dari kalimat 2) orang yang memiliki tato dan bertindik malahan yang masih boleh mendaftar CPNS, sebab term “atau” memiliki fungsi alternatif pilihan.

Jika sering membuka peraturan yang dibuat oleh pemerintah, kita akan banyak menemukan bentuk frasa “dan/atau”. Frasa tersebut berfungsi untuk menggabungkan makna term “dan” dan “atau”.

Saya sering kali membaca kalimat larangan yang makna sebenarnya dapat digambarkan ketika menggunakan frasa “dan/atau”, namun yang tertulis hanya menggunakan salah satu term “dan” ataupun term “atau”.

Penggunaan kata depan “di” dan “ke”

“Tulisanku dimojok di jiprak orang”

Itu adalah cara tulis orang masih buta akan fungsi “di”. Saya akan mencoba jelaskan fungsi “di” dan “ke” dalam bahasa Indonesia.

“Di” dan “ke” memiliki dua kegunaan dalam bahasa Indonesia. Kegunaan pertama sebagai kata depan. Kata depan “di” digunakan untuk menyatakan tempat. Kata depan “ke” digunakan untuk menyatakan arah. Jika berfungsi sebagai kata depan, maka penggunannya DIPISAH.

Kegunaan kedua “di” dan “ke” adalah sebagai awalan. “Di” sebagai awalan memiliki fungsi untuk membentuk kata kerja pasif. “Ke” sebagai awalan memiliki fungsi untuk membentuk kata bilangan (kedua, ketiga) dan membentuk kata kerja pasif dengan makna tidak sengaja (kesenggol, kebawa). 

Kalimat yang ambigu

“Yang membawa HP harap dimatikan”

Maksudnya gimana? Siapa yang dimatikan? 

“Adik punya novel baru dari Eka Kurniawan”

Gimana maksud kalimat di atas? Adik punya novel baru “dari karya” Eka Kurniawan atau adik punya novel baru yang pemberian Eka Kurniawan?

Itulah contoh kalimat ambigu, kalimat yang memiliki dua makna atau lebih. Biasanya terjadi karena kesalahan struktur penulisan. Maka, kalau habis nulis kalimat sebagainya dibaca ulang kembali dan dicek apakah bisa timbul makna yang berbeda dari makna yang kamu maksud.

Nah, itulah kesalahan penggunaan bahasa Indonesia khususnya saat menulis yang paling sering ditemui di masyarakat. Memang bahasa Indonesia itu mudah. Namun karena mudah, ia jadi sering disepelekan sehingga timbul banyak kesalahan karena kurang pemahaman. 

Meski banyak aturan, tetap cintai bahasa Indonesia, ya!

Penulis: Ratna Latifa
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Rasa Sesal yang Dulu Saya Rasakan ketika Kuliah Bahasa Indonesia di Universitas Indonesia.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Februari 2023 oleh

Tags: Bahasabahasa indonesiaMata Pelajaranpelajaran
Ratna Latifa

Ratna Latifa

ArtikelTerkait

Medok Sebagai Identitas Bahasa Ibu, Bukan untuk Diremehkan MOJOK.CO

Medok Sebagai Identitas Bahasa Ibu, Bukan untuk Diremehkan

17 Juli 2020
persahabatan

Di Kampung Saya, Bahasa Indonesia Masih Dianggap Milik Orang Kota

3 Mei 2020
Ajining Diri saka Lathi Pepatah Jawa yang Mendunia dan Implementasinya dalam Kehidupan Terminal Mojok

Ajining Diri saka Lathi: Pepatah Jawa yang Seharusnya Berlaku Universal

9 Februari 2021
Seharusnya Utang Piutang Masuk dalam Kurikulum Pendidikan Indonesia terminal mojok.co

Seharusnya Utang Piutang Masuk dalam Kurikulum Pendidikan Indonesia

22 Februari 2021
pernikahan adat sunda bekasi campuran bahasa ciri khas budaya akulturasi mojok

Percampuran Budaya Sunda dan Betawi di Pernikahan Orang Bekasi

23 April 2020
Pengalaman Jadi Anak Pindahan dan Hal Sepele Aja Dipermasalahkan terminal mojok.co

Materinya Itu-itu Saja, Kenapa Pelajaran Olahraga Tidak Semembosankan PKn?

4 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

IKEA Ciputra World Surabaya, Tempat yang Cocok untuk Melepas Penat Tanpa Takut Melarat mojok.co

IKEA Ciputra World Surabaya, Tempat yang Cocok untuk Melepas Penat Tanpa Takut Melarat

30 April 2026
Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama Mojok.co

Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama

29 April 2026
kecamatan pedan klaten tempat tinggal terbaik di jawa tengah (Wikimedia Commons)

Kecamatan Pedan Klaten: Tempat Tinggal Terbaik di Kabupaten Klaten yang Asri, Nyaman, Penuh Toleransi, dan Tidak Jauh dari Kota

29 April 2026
Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

28 April 2026
Vario 125, Motor Honda yang Bikin Sesal, tapi Nggak Tergantikan (Wikimedia Commons)

Saya Menyesal Nggak Pakai Vario 125 dari Dulu karena Motor Honda Ini Nggak Bikin Bangga tapi Nyatanya Nggak tergantikan

1 Mei 2026
Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

27 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • 8 Tuntutan “Jujur” Buruh di Mayday 2026: Ciptakan Lapangan Kerja, Kendalikan Dampai AI, hingga Lindungi Pekerja Platform Digital
  • Telepon dari Ibu bikin Saya Sadar, Kerja di Australia Tak Seindah Konten Medsos dan Bahagia Tak Melulu soal Gaji Ratusan Juta
  • Perburuan Burung Kicau untuk Penuhi Skena Kicau Mania Tinggi: Jawa Jadi Pasar Besar, Bisa Ancam Manusia dan Bumi
  • Ngasih Bintang 5 ke Driver Ojol meski Tidak Puas Tak Rugi-rugi Amat, Tega Hukum Bintang 1 bikin Sengsara Satu Keluarga
  • Bahaya Dolar ke Rupiah Makin Gila dan Tembus 17 Ribu, Lalu Menjadi Gambaran Negara Sakit yang Semakin Kritis, Masyarakat Kecil dan Perintis Perlahan Mati
  • 1.000 Kamera Dipasang untuk Intai Macan Tutul Jawa

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.