Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Rokok Itu Simbol Komunis-Kapitalis-Liberal-Konservatif, Pokoknya Bahaya!

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
5 November 2022
A A
Rokok Itu Simbol Komunis-Kapitalis-Liberal-Konservatif, Pokoknya Bahaya!

Rokok Itu Simbol Komunis-Kapitalis-Liberal-Konservatif, Pokoknya Bahaya! (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Setiap ada rilisan tolak kenaikan cukai rokok, beranda Twitter saya langsung penuh argumen lucu-lucu. Ada yang bilang perokok itu lonte kapitalis dan korporat. Ada yang bilang para komunis itu tukang ngudud. Nom-noman edgy bilang rokok itu konsumsi SJW liberal. Tapi ada juga yang menghujat kaum miskin yang ngudud sebagai kontra perubahan.

Memang menggelikan memandang opini orang-orang yang nggak bisa bedain industri dengan perusahaan.

ADVERTISEMENT

Rokok mungkin jadi satu-satunya simbol dari hal yang berseberangan. Palu-arit adalah simbol komunis. Mr Monopoly jadi simbol kapitalis. Starbucks jadi simbol liberal. Cocot buzzer jadi simbol konservatif. Tapi rokok jadi simbol komunis-kapitalis-liberal-konservatif dalam satu tarikan nafas (atau isap).

Nggatheli kan? Tapi memang demikian nasibnya. Banyak suara antirokok hanya berangkat dari satu nilai: rokok itu jahat. Entah dengan sudut pandang apa pun, barang (yang dianggap) laknat tersebut adalah simbol dari rangkuman keburukan peradaban.

Aidit dipaksa ngudud

Tanpa agenda antirokok, olahan tembakau ini sudah mendapat stigma negatif. Rokok adalah cara paling mudah untuk melabeli seseorang sebagai sosok jahat. Sialnya, dari negara sampai industri hiburan melakukan hal yang sama.

DN Aidit adalah korban stigma buruk ini. Sosok yang ditahbiskan selayaknya iblis ini adalah pembenci barang tersebut. Bahkan berani konfrontasi langsung dengan Soekarno. Bayangkan, anak muda ingah-ingih berambut seperti konde ini menghujat kebiasaan ngudud seorang presiden.

Tapi, dalam film propaganda Pengkhianatan G30S/PKI, Aidit digambarkan sebagai sobat isap. Hanya demi menguatkan citra iblis, kebencian Aidit pada sebat diselewengkan.

Rokok juga terus jadi simbol negatif di dunia hiburan. Tokoh antagonis sering digambarkan sebagai perokok berat. Sekalinya protagonis ngudud, pasti sosok beringas dan kasar. Jarang ada sosok kalem santai tapi ngudud, kecuali dalam film dokumenter.

Baca Juga:

Nama Kretek Bantul Nggak Banyak Dikenal Orang, Terhalang Nama Besar Parangtritis

Masyarakat Hanya Fokus pada Stereotip Madura karena Kasus di Bangkalan, tapi Mereka Lupa Madura Juga Punya Sumenep yang Elegan nan Menawan

Secara tidak langsung, rokok adalah simbol buruk tertanam dalam masyarakat. Akhirnya sobat isap jadi sosok penuh dosa. Contoh orang baik pasti adalah sosok bersih rokok. Sedangkan sesukses apa pun, tetap saja buruk karena ngudud.

Meskipun suka rebutan warisan budaya dengan tetangga sebelah, tapi kretek tidak pernah dipuja. Pejabat publik dan tokoh dalam pemerintahan selalu ditampilkan tanpa udud. Mau ngudud seperti kereta sampai bibirnya hitam, di depan publik mereka akan tampil tanpa sebungkus tembakau.

Susi Pudjiastuti tidak lepas dari stigma ini. Kesuksesan blio selalu dibenturkan oleh kebiasaan ngudud beliau. Sampai hari ini, Susi dinilai sebagai misfits dalam sejarah pemerintahan Indonesia. Bukan karena prestasi, tapi karena rokok (dan penampilan). Kalau pejabat maling bansos, tetap layak sebagai gambaran pejabat asal tidak merokok di depan kamera.

Pokoknya harus salah

Stigma negatif rokok membuat banyak argumen tentang barang (lagi-lagi, yang dianggap) laknat ini menjadi liar. Saya akan melompati argumen tentang kesehatan. Toh suara kontra sering didasari dari kebencian yang embuh.

Perokok disebut sebagai lonte korporat. Mereka dianggap melanggengkan kapitalisme. Tapi perokok tingwe pembenci korporat juga kena getahnya. Mereka dipandang sebagai masyarakat primitif yang menolak modernisasi, atau tetap dibenci karena suka ngebul. Nanti kalau beli tembakau tingwe produksi korporasi, akan disebut orang primitif yang jadi lonte korporat?

Rokok digambarkan sebagai konsumsi warganet SJW yang sok open minded. Terutama, tanpa mendukung seksisme, perokok perempuan. Tapi, rokok juga dianggap sebagai konsumsi masyarakat terbelakang yang memilih sebat daripada beras.

Perokok dianggap memiskinkan diri sendiri. “Kan kalau nggak ngudud, bisa bangun rumah.” Promotor gentrifikasi dan mafia tanah tersenyum melihat argumen ini. Tapi, kalau ada perokok yang punya rumah banyak, tetap saja dianggap salah karena bakar-bakar uang.

Sedikit menyinggung kesehatan, segala penyakit yang diderita perokok akan dihujat karena kebiasaan mereka. Tapi kalau ada yang sakit diabetes, konsumsi gula tidak serta merta jadi sasaran. Dari urusan genetik sampai perubahan peradaban jadi kambing hitam.

Perang yang tidak akan dimenangkan

Stigma negatif adalah batu penghalang utama para aktivis pro tembakau. Isu kesehatan sampai kapitalisme hanyalah bumbu yang memperkuat argumen semata. Faktanya pembenci rokok adalah pembenci ide semata. Ide bahwa ngudud itu buruk, titik!

Oleh karena stigma seperti ini, perokok jadi enggan memperjuangkan isu tentang tembakau. Dari kenaikan cukai sampai isu smoking area tidak akan disuarakan. Mereka memilih diam dan narimo ing pandum. Lha gimana, mau berjuang langsung dapat label komunis-kapitalis-liberal-konservatif.

Negara juga menolak untuk membebaskan diri dari stigma ini. Para pejabat memilih tampil tanpa sebungkus tembakau, meskipun di belakang layar bisa habis berbungkus-bungkus. Citra manusia sempurna menurut negara terus dijaga sebagai bukan (bahkan anti) tembakau.

Perang memperjuangkan hak perokok bukan untuk menang. Karena perang ini adalah perang yang tidak akan kita menangkan. Perang melawan isu, bisa dibalas isu. Tesis bisa dibalas antitesis. Tapi kalau perang melawan kebencian yang tanpa dasar dan embuh dari mana, mau dengan cara apa?

Bukan berarti isu kontra bisa bebas disuarakan. Tetap perlu argumen tandingan. Opini kolektif yang dikendalikan satu argumen jelas tidak sehat dalam masyarakat. Namun, para sohibul isap harus siap gigit jari kalau bermimpi menang dari para anti. Karena mereka ini akan selalu jadi antek komunis-kapitalis-liberal-konservatif!

Ngomong-ngomong, kalian bisa bedain industri sama pabrik kan? Bisa kan?

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Benarkah Saya Membela Perokok?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Februari 2026 oleh

Tags: komuniskretekstigma
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

harga rokok naik cukai rokok perokok di kafe buang puntung sembarangan padahal udah ada asbak mojok.co

Boker Sambil Ngebul Nggak Masalah, tapi Puntung Rokok Jangan Ditinggal, Bos!

26 September 2021
Obituari Prie GS dan Kenangan akan Impian Masa Kecil  terminal mojok.co

Tentang Razia Buku: Baca Buku Kok Dilarang, Pfffttt

31 Juli 2019
Marlboro Kretek Itu Sebenarnya Enak, meskipun Tembakaunya Kadang Nggak Merata dan Kurang Padat terminal mojok

Marlboro Kretek Itu Sebenarnya Enak, meskipun Tembakaunya Kadang Nggak Merata dan Kurang Padat

18 Juni 2021
anti-kapitalisme buku kiri komunis oktober PKI Orba Lenin mojok

Saya Anti-kapitalisme, Bukan Orang Gila

14 Januari 2021
Asuransi Tidak Sebrengsek yang Ada di Pikiran Kalian

Asuransi Tidak Sebrengsek yang Ada di Pikiran Kalian

8 November 2023
anti-kapitalisme buku kiri komunis oktober PKI Orba Lenin mojok

Kenapa Kita Butuh Membaca Buku Kiri?

2 November 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Membayangkan Lamongan Punya Mal, Cari Hiburan Nggak Perlu Repot-repot ke Kabupaten Tetangga Mojok.co yusril fahriza

Lamongan butuh dipimpin Yusril Fahriza agar makin maju dan kalcer, dan saya serius!

20 Juli 2026
Kenapa orang Jogja nggak suka makan gudeg? (Unsplash)

Kenapa orang Jogja nggak suka makan gudeg, padahal tahu gudeg yang enak, gurih, dan murah?

19 Juli 2026
Soto di Jogja adalah solusi terbaik di tanggal tua (Mojok.co/Aly Reza)

Soto di Jogja adalah solusi terbaik di tanggal tua

17 Juli 2026
Motor matic itu kutukan yang selalu rusak kalau saya punya uang (Unsplash)

Saya curiga, motor matic punya indra penciuman terhadap saldo rekening karena selalu rusak ketika saya punya uang

16 Juli 2026
Membayangkan Jatinangor Tanpa Unpad, ITB, IPDN, dan Ikopin: Nggak Terkenal, Nggak Berkembang, Pokoknya Menyedihkan sumedang, bandung

Berhentilah menyebut Jatinangor sebagai Bandung coret, tolong hormati Sumedang

15 Juli 2026
Pucang Surabaya, kawasan di kota pahlawan yang tak pernah kenal tidur

Pucang Surabaya, kawasan di kota pahlawan yang tak pernah kenal tidur

16 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.