Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Cuman Baby Boomers Sotoy yang Bilang Milenial dan GenZ Hidup Enak

Atik Soraya oleh Atik Soraya
29 Oktober 2019
A A
Cuman Baby Boomers Sotoy yang Bilang Milenial dan GenZ Hidup Enak

Cuman Baby Boomers Sotoy yang Bilang Milenial dan GenZ Hidup Enak

Share on FacebookShare on Twitter
Sebagai seorang generasi Z yang lahir 20 tahun lalu, saya sering sekali mendengar komentar-komentar tentang betapa mudah dan enaknya hidup sebagai GenZ—yang tentu saja muncul dari generasi di atas saya seperti generasi perang dunia I dan II (eh itu kelamaan ya) maksud saya baby boomers, Gen Y, bahkan kadang dari generasi milenial.

“Kamu tuh beruntung lahir sekarang, jaman sekarang sudah enak.” Gitu katanya.

Hmm permisi Ibu Bapak Om Tante semua yang terhormat, kayaknya menjadi GenZ ya sama saja deh dengan generasi-generasi sebelumnya. Ya mungkin benar sih kalau konteksnya kami para GenZ ini terlahir tanpa harus merasakan pengalaman pahit seperti perang dunia yang pernah dirasakan generasi sebelumnya. Tapi, menyebut GenZ dan generasi di bawahnya sebagai yang lebih beruntung dan jauh lebih baik kok ya rasanya nggak tepat juga.

Coba bayangin generasi kami—yang kata kalian enak itu—harus merasakan kebakaran hutan di mana-mana, iklim yang semakin ekstrem, es di kutub utara mencair, represi kelompok minoritas, isu kesehatan mental, sampai perundungan yang semakin menjadi-jadi hingga ke media sosial. Singkatnya, bumi sudah semakin sekarat karena semua bencana itu. Coba saya minta tolong dijelaskan di bagian mana ya yang generasi saya merasakan untung?

Saya pikir kita semua harusnya bersepakat bahwa setiap generasi dihadapkan pada kesulitan dan masalahnya masing-masing dan juga harus berjuang dengan caranya masing-masing. Masa yang kayak gini aja harus dijelasin sichhh.

Tidak merasakan susahnya mengetik dengan mesin tik bukan berarti bekerja dengan laptop jadi mengurangi beban, hanya karena tidak merasakan pendapatan kerja yang rendah bukan berarti generasi milenial, GenZ dan generasi yang ada di bawahnya bisa memiliki rumah dan hidup bebas utang, bisa mendapatkan kesempatan untuk mengejar pendidikan setinggi mungkin juga bukan berarti bisa menempuh pendidikan itu dengan mudah. Dan beragam hal lain yang tidak melulu jadi lebih baik hanya karena (kami) adalah GenZ yang akrab dengan teknologi terkini.
Di balik hal yang sering disangka sebagai sebuah keberuntungan itu, nyatanya semua perkembangan dan kemajuan yang ada justru membawa tantangan dan ‘tekanan’ baru bagi kami. Segala kemudahan justru menunjukkan persaingan yang semakin ketat, beban hidup yang semakin berat, tanggung jawab yang harus dipangku semakin bertambah, permintaan untuk bisa cakap menguasai banyak hal semakin menumpuk, dan belum lagi harus bersaing dengan robot dan artificial intelligence.

Memang sih semua tergantung perspektif setiap individu dalam melihat sebuah fenomena yang ada. Tapi ya dengan pernyataan yang selama ini sering berseliweran soal “hidup generasi milenial, generasi z, dan generasi alpha itu jauh lebih baik” kayaknya enggak sepenuhnya benar deh. Kita semua yang ada di setiap generasi punya problematikanya sendiri kok, dan tidak bisa dikatakan mana yang kebagian lebih enak dan lebih baik.

Misalnya ketika saat Ibu saya yang termasuk generasi baby boomers berjuang untuk melamar pekerjaan dengan cara mengirimkan semua lamarannya melalui kantor pos, atau mencari semua lowongan yang ada melalui iklan baris di koran dan saat ini saya mencari lamaran pekerjaan melalui platform daring yang ada lantas tidak secara langsung membuat semua proses yang dilalui lebih enak atau jadi jaminan saya bisa mendapat pekerjaan dengan cepat. Dan beragam hal lainnya yang punya banyak rasa enak atau enggak enak sesuai dengan porsinya masing-masing.

Belum lagi kalau ada permasalahan yang di wariskan turun temurun dari generasi-generasi sebelummnya. Lagipula kalau hidup GenZ dan generasi di bawahnya jauh lebih baik, lantas Greta Thunberg tidak perlu repot-repot turun ke jalan meninggalkan bangku sekolahnya di Swedia untuk aksi lingkungan yang selama ini ia galakkan. Bukankah justru jadi tanda tanya “ada apa dengan dunia dan seisinya akhir-akhir ini?” ketika anak berusia 16 tahun seperti Greta yang akhirnya harus ikut serius dalam menuntusakan masalah yang ada di dunia ini (salah satunya dalam hal perubahan iklim yang ekstrem).

Ternyata apa yang disampaikan Greta ketika menyampaikan pernyataan penuh emosi di ajang Climate Change Summit 2019 itu benar adanya. “This is all wrong. I shouldn’t be up here. I should be back to school on the other side of the ocean. You have stolen my dreams and my childhood with your empty words, and yet, I’m one of the lucky ones. People are suffering. People are dying. Entire ecosystems are collapsing […]” Kalau begini apakah masih berani membuat klaim kalau generasi Z dan di bawahnya sebagai kelompok yang lebih baik?

Baca Juga:

Tidak Ada yang Lebih Menggelikan ketimbang Milenial Fosil Wannabe yang Ngejekin Gen Z Tiap Saat, Situ Iri?

5 Pengalaman Unik Saya sebagai Gen Z yang Bekerja sebagai Guru

BACA JUGA Bucin, Identitas dari Gerakan Baru Anak Muda Abad Milenial atau tulisan Atik Soraya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Oktober 2019 oleh

Tags: baby boomersgenerasi ZMilenial
Atik Soraya

Atik Soraya

ArtikelTerkait

gagal move on

Jangan Sampai Gagal Move On

6 September 2019
Malangnya Nasib Gen Z, Terlanjur Dicap Nggak Becus di Dunia Kerja Mojok.co

Malangnya Nasib Gen Z, Terlanjur Dicap Nggak Becus di Dunia Kerja

15 November 2023
Mempertanyakan Mengapa Santri Dilarang Punya Rambut Gondrong terminal mojok.co

Pondok Pesantren Salaf Rasa Milenial

22 Mei 2019
lagu romantis 90-an mojok

5 Lagu Romantis 90-an yang Pas untuk Ngebucin

24 Juli 2021
etika berkomentar

Milenials, Jangan Sampai Kita menjadi Generasi yang Krisis Etika Berkomentar

17 Juni 2019
faldo maldini politisi muda mojok (1)

Faldo Maldini dan Fenomena Politisi Muda Rasa Boomer

15 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dosen Muda Memang Asyik, tapi (Maaf) Saya Lebih Percaya Diajar Dosen Tua Mojok.co

Dosen Muda Memang Asyik, tapi (Maaf) Saya Lebih Percaya Diajar Dosen Tua

8 Maret 2026
Jalan Monginsidi, Jalan Braganya Salatiga: Ikonik dan Nggak Kalah Cantik

Salatiga Tidak Punya Stasiun, Cukup Merepotkan bagi Orang yang Terbiasa Bepergian dengan Kereta Api

10 Maret 2026
Honda Beat Motor yang Sempurna, Pantas Saja Didambakan Warga Kampung dan (Sayangnya) Jadi Incaran Empuk Maling Mojok.co

Honda Beat Motor yang Mudah Digunakan, Dirawat, dan Dimaling

11 Maret 2026
Blok GM Semarang: Ketika Estetika Anak Skena Menumbalkan Hak Pengguna Jalan

Blok GM Semarang: Ketika Estetika Anak Skena Menumbalkan Hak Pengguna Jalan Semarang

11 Maret 2026
ATM Pecahan 20 Ribu Menyelamatkan Saya dari Biaya Jasa Tukar Uang Baru Pinggir Jalan yang Nggak Masuk Akal Mojok.co

ATM Pecahan 20 Ribu Menyelamatkan Saya dari Biaya Jasa Tukar Uang Baru Pinggir Jalan yang Nggak Masuk Akal

10 Maret 2026
Suzuki Splash, City Car Bakoh yang Cocok Disiksa di Jalanan Macet Mojok.co

Suzuki Splash, City Car Bakoh yang Cocok Disiksa di Jalanan Macet

14 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha
  • Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit
  • Makanan Khas Jawa Timur yang Paling Tidak Bisa Dihindari, Jadi Pelepas Rindu ketika Mudik Setelah “Disiksa” Makanan Jogja
  • Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina
  • Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”
  • Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.