Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Film Midsommar yang Bikin Saya Nggak Mau Nonton Lagi: Spoiler Alert!

Ayu Octavi Anjani oleh Ayu Octavi Anjani
8 Oktober 2019
A A
Meluruskan Salah Paham Femme Fatale: Perempuan Bukan Sumber Bencana terminal mojok.co

Meluruskan Salah Paham Femme Fatale: Perempuan Bukan Sumber Bencana terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Tahun 2019 ini banyak sekali film-film bagus yang sedang hits di berbagai bioskop salah satunya adalah film horor. Pecinta film horor (termasuk saya) pasti semangat sekali ketika film horor yang ditunggu-tunggu sudah rilis dan ditayangkan di berbagai bioskop Indonesia—salah satunya adalah Midsommar pastinya. Saya pun begitu. Saya mendadak sangat excited kalau film-film horor yang saya tunggu-tunggu sudah mulai bertebaran di bioskop Indonesia. Apalagi bioskop di Jatinangor ini.

Waktu itu saya sedang menunggu film horor IT Chapter 2. Setelah sebelumnya saya menonton IT Chapter 1 saya penasaran dengan kelanjutan filmnya yang ternyata semakin menarik dan menegangkan sekaligus menyedihkan karena para tokoh yang beranjak dewasa akhirnya bisa bertemu lagi dan berencana untuk menghancurkan si badut Pennywise. Beberapa tokoh yang diceritakan meninggal di film ini, membuat adegannya jadi cukup melow dan menyedihkan.

Nggak berhenti di IT Chapter 2, saya lanjut menonton Parasite. Parasite ini menurut saya bukan film horor. Ya, memang bukan sih. Mungkin bisa dibilang lebih ke misteri pembunuhan gitu kali ya. Inti ceritanya sih ngasih tahu penikmat film, kalau apapun bisa dilakukan demi mendapatkan uang. Parasite memberi makna begitu sejauh yang saya tonton. Kecurangan, kebohongan, dan pembunuhan mendominasi film ini.

Well, pembahasan tadi itu adalah bridging saya menuju pembahasan yang benar-benar akan saya bahas sekarang. Midsommar. Katanya sih itu plesetan dari Midsummer. Jadinya Midsommar deh. Kata Midsommar terngiang-ngiang di kepala saya sudah hampir beberapa minggu belakangan ini. Entah kenapa saya selalu tidak asing dengan judul film satu itu. Teman-teman saya dengan santainya selalu spoiler film itu. Saya akui, saya memang agak terlambat mengetahui bahkan menonton Midsommar. Efek sibuk menugas ini mah saya.

Singkat cerita, beberapa teman yang sudah menonton Midsommar, dengan semangat menggebu-gebu berdiskusi tentang apa-apa saja adegan yang telah mereka tonton di film itu. Nggak tanggung-tanggung mereka bercerita sedetail itu per scenenya. Buset. Saya yang sedang mengerjakan tugas saat itu, mau nggak mau jadi ikutan nyimak juga apa yang mereka bicarakan.

Saya sebagai orang yang suka sekali menonton film horor tapi kalau lagi sendirian suka parno, memutuskan untuk mendownload si Midsommar ini. Dasar aku yang memang keras kepala, tetap mengunduh Midsommar meskipun beberapa teman tidak menyarankan saya untuk menonton film itu. Jijik dan nggak jelas katanya. Saya tidak akan pernah tahu sejijik dan senggak jelas apa film itu kalau belum nonton langsung. Pikir saya. Jadilah saya berkutat dengan wifi yang mati-nyala-mati lagi-nyala lagi begitu seterusnya demi mendapatkan Midsommar yang entah seperti apa jijik dan nggak jelasnya kata teman saya.

Akhirnya saya nonton Midsommar dengan tidak berekspektasi akan seseram apa film itu nantinya. Justru saya terngiang-ngiang kejijikan yang dikatakan teman saya waktu nonton itu. Jujur aja, soalnya cover filmnya nggak ada serem-seremnya macam IT atau Annabelle Comes Home yang udah pasti ceritanya tentang hantu-hantuan yang penuh jumpscare. Bukan cuman wahana roller coaster di Dufan sana aja kan yang memacu adrenalin, kamu film-film horor juga.

Oke, balik lagi ke Midsommar. Sebelum itu nyalakan dulu spoiler alert kalian ya. Awalnya saya biasa saja waktu melihat adegan saat orang tua dan adik si pemeran utama perempuan, Dani (Florence Pugh) meninggal dunia. Awal cerita nggak dijelaskan memang kenapa keluarganya meninggal dunia. Jadilah si Dani ini berkabung. Oh ya! Doi punya pacar namnaya Christian (Jack Reynor). Dani ini diceritakan memiliki semacam mental health issue.

Baca Juga:

Tidak Melulu Soal Hantu, Punya Rumah Dekat Kuburan Jadi “Horor” karena Susah Laku

4 Keuntungan Punya Rumah Dekat Kuburan yang Jarang Disadari Orang

Singkat cerita, Christian ini memiliki tiga orang teman laki-laki yang (sepertinya) tidak begitu menyukai Dani, karena Dani dirasa selalu membutuhkan perhatian Christian. Mereka merencanakan sebuah perjalanan festival musim panas ke sebuah tempat di Swedia. Rencana awal dimulai oleh salah satu teman Christian bernama Pelle (Vilhelm Blomgren). Jadi, si Pelle ini ternyata adalah penduduk asli dari sebuah komunitas ‘aneh’ di sana.

Musim panas seharusnya bisa menjadi musim yang cocok untuk menghabiskan liburan dengan tenang dan damai. Tapi, di film ini justru diceritakan dengan sangat sangat bertolak belakang. Saya awalnya terkagum dengan festival komunitas ‘aneh’ tadi. Mulai dari pemandangan Swedia yang menakjubkan hingga penduduknya yang (sepertinya) terlihat sangat normal dengan balutan kostum festival yang menarik karena terdapat bunga-bunga yang sangat segar.

Awalnya mereka (Dani dkk) terlihat biasa saja sampai akhirnya mereka meminum dan memakan sesuatu yang menimbulkan halusinasi pada diri mereka. Sudah mulai terlihat keanehan sih di sini. Keanehan lain saat terdapat berbagai simbol tak biasa dan lukisan-lukisan yang menurut saya sangat vulgar di dinding-dinding kamar tempat mereka menginap. Ini memang film untuk usia dua puluh tahun ke atas ya. Awas!

Nggak kalah jijiknya, Midsommar memuat adanya adegan mengonsumasi rambut kemaluan dan meminum darah haid. Bisa dibayangkan betapa menjijikkan dan yang pasti bikin perut mual. Saya masih bisa tahan dan lanjut nonton filmnya karena penasaran yang melanda.

Nah! Di sinilah akhirnya terlihat letak kejijikan dan keenggak jelasan yang teman saya katakan itu. Pada sebuah upacara yang entah apa nama upacaranya terlihat dua orang lansia, pria dan wanita yang mengorbankan diri. Mengorbankan dirinya bukan dengan pisau atau cara mati elegan lainnya. Tapi eh tapi, mereka terjun dari tebing yang sangat tinggi dan bagian ini yang paling saya nggak suka.

Bikin mau muntah. Diperlihatkan wajah dan tubuh mereka yang hancur sehancur-hancurnya dengan jarak sedekat itu. Karena ketika si kakek terjun tapi belum meninggal hanya kakinya saja yang sudah hancur, majulah satu orang yang entah siapa memukul wajahnya dengan palu besar sampai benar-benar hancur. Duh, sumpah jijik banget. Bayangkan saja wajah yang hancur dengan daging dan darah yang berserakkan kemana-mana. Fix buat kamu yang berhati lemah jangan nonton.

Nggak berhenti sampai di situ, ada adegan di mana pacar Dani, Christian melalukan hubungan intim dengan salah satu gadis dari desa setempat. Saya sebenarnya nggak ngerti deh kenapa tiba-tiba mereka bisa jadi seperti itu. Tapi, demi Neptunus ini scene nggak banget buat ditonton. Terlalu vulgar dan eksplisit banget! Karena penuh dengan nudity (ketelanjangan).

Adegan-adegan di Midsommar seperti menguliti tubuh, membakar orang hidup-hidup, dan memakai topeng dari kulit wajah seseorang, membuat saya sudah mulai tidak ingin barang secuil pun mengetahui kelanjutan cerita Midsommar lagi. Nggak deh. Jujur, saya nggak nonton sampai habis karena udah nggak kuat dengan adegan-adegan sadis dan vulgar dari Midsommar. Buat kamu yang penasaran sama Midsommar, nontonlah. Tapi saya sih menyesal, nggak mau lagi. (*)

BACA JUGA Panduan Mengikuti Festival Midsommar: Spoiler Alert! atau tulisan Ayu Octavi Anjani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2019 oleh

Tags: Horormental illnessMidsommarreview film midsommarthriller
Ayu Octavi Anjani

Ayu Octavi Anjani

Mahasiswa akhir yang hobi makan dan nulis.

ArtikelTerkait

10 Drama Korea untuk Cowok yang Akan Terjun ke Dunia Perdrakoran Terminal Mojok.co

10 Drama Korea untuk Cowok yang Akan Terjun ke Dunia Perdrakoran

12 Mei 2022
Rumah bekas Belanda

4 Hal Mistis yang Biasa Terjadi di Rumah Bekas Belanda

3 Desember 2021
reuni malapetaka

Reuni yang Berujung Malapetaka

23 Juni 2019
midsommar

Panduan Mengikuti Festival Midsommar: Spoiler Alert!

4 September 2019
Detail Kecil tentang KKN yang Luput di Film KKN di Desa Penari Terminal Mojok

Mencoba Memahami Kenapa KKN di Desa Penari Jadi Film Terlaris Sepanjang Masa

14 Januari 2023
sinetron jadi pocong pocong mumun mojok.co

Pocong Mumun dan Jefri di Sinetron ‘Jadi Pocong’ Adalah Tontonan Terseram Semasa Kecil

7 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dilema Jawa Murtad di Gunungkidul Lidah Sumatra Jadi Petaka (Wikimedia Commons)

Dilema “Jawa Murtad” di Gunungkidul: Ketika Lidah Sumatra Menjadi Petaka

7 Mei 2026
Bangkalan Madura Nggak Selalu Jelek, Pengalaman Cetak Ulang KTP di Mal Pelayanan Publik Membuktikan Sebaliknya Mojok.co

Urus KTP di Bangkalan Madura Ternyata Tidak Menjengkelkan seperti yang Dikira

5 Mei 2026
Orang Madura Serasa “Tamu” di Universitas Trunojoyo Madura, Mahasiswa hingga Dosen Isinya Pendatang Mojok.co

Mahasiswa Madura Serasa “Tamu” di Universitas Trunojoyo Madura, Mahasiswa hingga Dosen Isinya Pendatang

5 Mei 2026
Derby UMR Rendah, Kemewahan yang Hanya Dimiliki oleh PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta

Derby UMR Rendah, Kemewahan yang Hanya Dimiliki oleh PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta

9 Mei 2026
Orang Kampung Berubah Jadi Picky dan Menyebalkan ketika Berhadapan dengan Makanan “Kota”

Orang Kampung Berubah Jadi Picky dan Menyebalkan ketika Berhadapan dengan Makanan “Kota”

3 Mei 2026
Pengalaman Mendaki Pertama Kalinya dan Nekat Langsung ke Lawu: Sebuah Kesalahan yang Nggak Bikin Saya Menyesal gunung lawu

3 Perilaku Pendaki Gunung Lawu yang Bikin Geleng-geleng, Eksklusif dari Penjaga Basecampnya Langsung

9 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Alumnus UNJ Jurusan Pendidikan Bahasa Perancis, Pilih Berkebun di Bogor sekaligus Ajak Warga Keluar dari Jurang Kemiskinan
  • JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk
  • Sekolah Kemitraan di Jawa Tengah bikin Menangis Haru, Anak Miskin Bisa Sekolah Gratis dan Kejar Mimpi
  • Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat
  • Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin
  • Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.