Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Klitih Tidak Hilang dengan Ditangkapi, tapi Diberi Ruang Berekspresi

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
28 Desember 2021
A A
Klitih Tidak Hilang dengan Ditangkapi, tapi Diberi Ruang Berekspresi terminal mojok.co

Klitih Tidak Hilang dengan Ditangkapi, tapi Diberi Ruang Berekspresi (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Jogja terbuat dari apa? Benar sekali. Jogja terbuat dari UMR rendah, ketimpangan sosial, dan klitih. Untuk poin terakhir, makin hari makin menjadi saja. Bahkan ada beberapa warganet yang merekomendasikan fenomena klitih sebagai wisata malam khas Jogja. Jadi tidak hanya menikmati lampu kerlap-kerlip dan wedhang ronde, tapi adrenalin membuncah takut kena sabetan pedang.

Untuk yang masih asing dengan kata ini, klitih sebenarnya jauh dari kata kekerasan. Ia adalah aktivitas keluyuran “mencari angin”. Biasanya dengan naik motor berkeliling sekitar rumah atau tongkrongan. Namun, para remaja yang sedang puber melakukan aksi kekerasan sembari klitih tadi. Pada akhirnya, ini dicap sebagai kegiatan mencari rusuh dan penyerangan orang tak bersalah.

Siapa saja kini bisa menjadi korban. Ini berbeda dengan kultur klitih pra 2015, di mana masih dikuasai geng-geng SMA. Dengan kultur geng SMA yang tereduksi, lahirlah geng yang sifatnya lebih cair dan beragam. Geng era baru inilah yang jadi sumber klitih di Jogja.

Saya pernah berdiskusi dengan pelakunya. Kebetulan memang kawan sendiri. Menurut kawan ini, alasannya memang tidak jauh dari mentalitas “nglanangi” di Jogja. Seolah-olah kelaki-lakian seseorang belum sempurna kalau belum berani klitih. “Malah buat tantang-tantangan jhe, berani nggak klitih?” imbuh kawan saya.

Ungkapan kawan saya ini makin dibenarkan dengan klarifikasi pelaku klitih yang tertangkap. Mereka memang terjebak dalam kultur toxic masculinity yang kental dengan mental “laki harus buas dan garang”. Tapi kalau sudah tertangkap, langsung meredup dan ingah-ingih menahan tangis ketakutan. Nggatheli sih, tapi ini nyatanya.

Banyak opini dalam menekan klitih di Jogja. Beberapa pihak yang sebenarnya 11-12 dengan pelaku justru menyuarakan operasi pemberantasan klitih. Ini sih sama saja memadamkan api dengan api yang lebih besar.

Klitih terjadi secara organik. Meskipun di bawah payung geng-gengan, tapi mereka bukanlah operasi terencana dan terstruktur. Paling mentok hanya merencanakan lokasinya dan jalur kaburnya. Akan sulit untuk membinasakan mereka jika kita memandang fenomena ini dengan mental mata balas mata. Yang terjadi malah pelaku klitih akan menjadikan operasi ini sebagai tantangan baru.

Belum lagi dampak masa depan. Besar kemungkinan kelompok masyarakat pemberantas ini menjadi geng baru yang di atas angin. Mereka mendapat legalitas dan penghargaan atas tindak kekerasan yang dilakukan. Contohnya sudah jelas: Yakuza. Mereka hadir dari kelompok masyarakat yang memberangus preman di Jepang. Setelah mereka memenangkan “perang” itu, mereka malah jadi preman baru yang menggurita sampai sekarang.

Baca Juga:

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

Jogja Waktu Lebaran Tak Pernah Sepi, Ia Disesaki oleh Orang yang Pulang Kampung, Perantau yang Lari, dan Wisatawan Bermodal THR Tebal

Lanjut lagi perkara solusinya, ada yang mengedepankan nilai-nilai moralis. Beberapa menyuarakan pendidikan intens dan disiplin untuk mereduksi mental klitih. Mereka lupa, pelakunya adalah orang-orang yang kabur dari masalah ini. Mereka adalah individu yang jengah dengan kedisiplinan dan tekanan sosial.

Jika ingin bebas klitih, sasarlah sumber penyebabnya. Penangkapan pelaku klitih juga tidak mengurangi wabah kekerasan ini. Karena yang disasar hanyalah akibat, tapi bukan penyebab. Apa penyebab klitih? Apa yang membuat orang sebegitu gabut sehingga berkelompok untuk adu keberanian menganiaya manusia lain?

Mereka adalah anak-anak muda. Tidak jarang, mereka masih mengenyam bangku SMP. Mereka ingin mengekspresikan diri dan kelaki-lakian mereka. Mereka adalah generasi misfits of society yang terdesak hidup dan kebebasan berekspresinya. Mereka adalah kelompok manusia yang terdesak di kotanya sendiri.

Maka, mengapa tidak memberi ruang ekspresi bagi mereka? Mengapa tidak membuka ruang publik untuk mereka berkumpul dan meluapkan isi kepala mereka? Dan mengapa tidak hadirkan hiburan bagi mereka? Tentu hiburan yang bisa diakses, dan bukan spot wisata yang membuat gaji seharga UMR Jogja makin mengenaskan. Daripada membuat Jogja istimewa bagi wisatawan, mengapa tidak membuat Jogja istimewa bagi warganya?

Sekali lagi, ini bukan hanya bicara tempat, tapi mentalitas. Selama mereka masih terdesak secara sosial, mental klitih siap menghampiri sebagai bentuk aktualisasi diri. Selama mereka tidak punya ruang untuk berekspresi, mereka memilih pedang dan golok sebagai alat ekspresi mereka.

Mereka terdesak oleh romantisasi Jogja bagi pendatang. Mereka kehabisan ide untuk mengaspirasi gejolak muda di tengah himpitan wisata yang sulit mereka akses. Dan mereka memilih aktivitas tersebut sebagai jalan pembebasan mereka dari tekanan lingkungan sosial serta budaya. Mereka bukanlah kelompok yang menikmati keistimewaan Jogja. Namun, mereka ingin menjadi istimewa dengan cara berdarah.

Gampang, tho? Tapi sampai detik ini klitih masih menjamur. Bahkan malam sebelum saya tulis artikel ini, baru saja terjadi klitih. Seolah-olah ia adalah sesuatu hal yang bisa diterima sebagai kenormalan.

Tidak ada upaya nyata untuk menekan klitih. Tentu selain menangkap satu dua pelaku yang sedang apes. Saya jadi ingat obrolan dengan salah seorang guru, “Kalau mau tidak ada pencuri, ya cukupi kebutuhan mereka. Bikin mereka kenyang dan puas pada diri sendiri. Buat mereka nyaman untuk menjadi diri sendiri tanpa tuntutan jadi orang lain. Niscaya kamu tidak perlu penjara lagi.”

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Audian Laili

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 Desember 2021 oleh

Tags: Dana IstimewaJogjaklitihpilihan redaksiRuang berekspresi
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Sisi Gelap Malioboro Jogja, Jalan Kebanggan Orang Jogja yang Diam-diam Jadi Tempat Buang Sampah dan Tempat Tinggal Gelandangan Mojok.co

Banyak Wisatawan Nggak Tahu, Malioboro Jogja Diam-diam Jadi Tempat Buang Sampah dan Tempat Tinggal Gelandangan

26 Juni 2024
Alfability Alfamart Jadi Jembatan Meraih Mimpi bagi Karyawan Disabilitas untuk Berkarya

Alfability Alfamart Jadi Jembatan Meraih Mimpi bagi Karyawan Disabilitas untuk Berkarya

30 Oktober 2024
Surat Terbuka untuk Yuli Sumpil dari Fans Persis Solo yang Pernah Mengagumi Arema (Unsplash)

Surat Terbuka untuk Yuli Sumpil dari Fans Persis Solo yang Pernah Mengagumi Arema

3 Februari 2023
Kuliah di Jogja Adalah Perjalanan Hidup yang Paling Saya Syukuri surabaya

Kuliah di Jogja Adalah Perjalanan Hidup yang Paling Saya Syukuri

1 Oktober 2022
Yeom Bersaudara 'My Liberation Notes' dan Fenomena N-po Generation Terminal Mojok

Yeom Bersaudara ‘My Liberation Notes’ dan Fenomena N-po Generation di Korea Selatan

18 Mei 2022
10 Drama Korea yang Cocok untuk Binge Watching Terminal Mojok

10 Drama Korea yang Cocok untuk Binge Watching

7 Agustus 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Blok GM Semarang: Ketika Estetika Anak Skena Menumbalkan Hak Pengguna Jalan

Blok GM Semarang: Ketika Estetika Anak Skena Menumbalkan Hak Pengguna Jalan Semarang

11 Maret 2026
5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

15 Maret 2026
Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial Mojok.co

Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial

16 Maret 2026
Stasiun Klaten Stasiun Legendaris yang Semakin Modern

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

16 Maret 2026
Ironi Fresh Graduate Saat Lebaran: Gaji Masih di Bawah UMR, tapi Sudah Tidak Kebagian THR Mojok.co

Lebaran Membosankan Nggak Ada Hubungannya Sama Menjadi Dewasa, Itu Artinya Kamu Lagi Mati Rasa Saja

16 Maret 2026
Pamer Pencapaian Adalah Kegiatan Paling Sampah Saat Lebaran, Nggak Ada Fungsinya kecuali Bikin Orang Emosi

Pamer Pencapaian Adalah Kegiatan Paling Sampah Saat Lebaran, Nggak Ada Fungsinya kecuali Bikin Orang Emosi

12 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?
  • Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang
  • Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 
  • Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman
  • Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba
  • Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.