Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kemiripan #ReformasiDikorupsi dengan Revolusi Mei 1968

Tony Firman oleh Tony Firman
3 Oktober 2019
A A
1968

1968

Share on FacebookShare on Twitter

Lebih dari sepekan terakhir, kita disuguhkan dengan sederet aksi demo jalanan menentang berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai sedang dan akan menyusahkan rakyat. Tagar macam #ReformasiDikorupsi #GejayanMemanggil jadi mantra yang menyatukan banyak orang untuk sudi turun ke jalan.

Mayoritas pendemo diisi oleh para anak muda. Mulai dari mahasiswa, pelajar dan milenial lainnya. Ya memang, populasi anak muda Indonesia cukup besar. Tahun 2019, jumlah anak muda usia 15 sampai 29 tahun jika digabung mencapai lebih dari 65,7 juta jiwa dari total penduduk Indonesia yang mencapai 267 juta jiwa. Itu artinya, para peserta aksi demo mayoritas dapat digolongkan ke generasi Z (kelahiran 1996 keatas) dan milenial (1981 – 1995).

Yang menarik, massa aksi mahasiswa menyuguhkan poster-poster tuntutan atau sindiran yang kreatif, jenaka dan nakal. Lihat saja berbagai tulisan poster macam “KENTHU DIBUI KORUPSI DICUTI, I DON’T NEED SEX, THE GOVERNMENT IS FUCKING ME RIGHT NOW, AKU INGIN YANG-YANGAN TANPA DITANGKAP POLISI, SELANGKANGANKU BUKAN MILIK NEGARA, MAU NGEUE AJA DIATUR NEGARA” yang seketika menjadi viral.

Ungkapan dalam poster itu sekaligus dapat dibaca ekspresi kekesalan dan perasaan ketidakadilan. Di saat kebebasan individu mereka terancam direpresi lewat sejumlah pasal dalam RUU KUHP, tetapi tingkah laku para penyelenggara negara tidak juga bisa jadi panutan. Boleh jadi, poster-poster ekspresif semacam itu adalah fenomena pertama di Indonesia dalam sejarah aksi massa mahasiswa turun ke jalan. CMIIW. Apalagi fenomena ini muncul di tengah arus konservatisme yang sedang menguat dalam beberapa tahun belakangan.

Pemandangan macam itu mengingatkan pada aksi massa di Prancis pada Mei 1968. Ketika itu kawula muda Prancis tumpah ruah di jalanan melakukan demonstrasi meluapkan ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah dan tatanan sosial pada saat itu.

Banyak poster-poster yang dibawa massa aksi bertuliskan “Semakin saya bercinta, semakin saya ingin membuat revolusi. Semakin saya membuat revolusi, semakin saya ingin bercinta. SEX: Itu bagus, kata Mao, tetapi jangan terlalu sering. Larilah kawan! Dunia yang kolot mengejarmu. Make love not war” dan lainnya.

Sama halnya dengan di Indonesia, massa aksi di demo Mei 1968 diisi oleh mayoritas kawula muda. Prancis ketika itu sedang mengalami ledakan populasi pemuda pasca Perang Dunia II. Dibanding dekade sebelumnya yang cuma 175 ribu jiwa, jumlahnya melonjak menjadi 500 ribu jiwa saat demo meletus. Mereka masuk generasi baby boomer (kelahiran 1946 – 1965).

Menjadi muda di Prancis sangat menjemukan meski Prancis telah melewati Revolusi 1789 yang melahirkan prinsip Liberté, égalité, fraternité. Muda-mudi Prancis dikenai aturan jam malam, dilarang menginap di asrama lawan jenis, laki-laki dilarang gondrong, wanita harus rambut panjang, pakaian keduanya diatur ketat, sampai istri harus izin suami jika ingin buka rekening bank, dan lainnya. Kondisi tersebut membikin jiwa-jiwa kawula muda memberontak merindukan kebebasan.

Baca Juga:

Emmanuel Macron, Presiden Paling Nggak Ada Kerjaan di Dunia

Kita Tidak Takut dengan Grup Pencak Silat, Kita Hanya Takut pada Jumlah

Pemerintahan Prancis waktu itu dikuasai oleh Partai Gaullist yang berhaluan kanan. Lewat Presiden Charles de Gaulle yang cukup populer karena memimpin Prancis memerangi Nazi, semua ditertibkan demi tercipta negara stabil. Produksi barang industri digenjot. Tapi di sisi lain tidak berdampak banyak bagi kesejahteraan buruh. Upah tidak naik, jam kerja panjang, buruh kewalahan. Jika protes bakal disikat.

Sementara berharap ada perubahan yang datangnya dari sayap kiri Partai Komunis dan Partai Sosialis Prancis tampak mustahil lantaran masih keok dengan kepopuleran Gaullist. Sehingga mustahil mendambakan perubahan yang datangnya dari dalam.

Selain masalah kebebasan individu, tahun 1960-an adalah eranya baby boomer Eropa dan Amerika gandrung dengan gerakan pembebasan nasional di negara-negara terjajah. Tokoh-tokoh revolusioner macam Che Guevara, Ho Chi Minh, Mao Zedong menjadi idola dan ikon perlawanan. Maka tak heran saat AS melancarkan perang di Vietnam, gerakan anti-perang dari kalangan pemuda merebak di negara-negara Barat.

Demonstrasi menolak perang pernah dilakukan oleh sejumlah mahasiswa di kampus Nanterre di pinggiran Paris dan berujung penangkapan. Pada 22 Maret 1968, sebanyak 150 mahasiswa menduduki sejumlah ruangan di kampus guna menuntut agar kawannya yang berdemo anti-perang dibebaskan serta menuntut hak untuk bisa mengunjungi asrama putri. Tuntutan pertama terkabul, tapi tidak untuk yang kedua.

Di saat kebebasan terasa mahal, diskusi-diskusi dan kelompok mahasiswa tumbuh. Saat sekelompok mahasiswa Universitas Sorbonne di Paris berdiskusi menyikapi aksi penangkapan di Nanterre sekaligus berdemonstrasi menyerukan sikap anti-imperialisme, kegiatan mereka dibubarkan secara brutal oleh aparat kepolisian pada 2 Mei 1968.

Memakai helm dipersenjatai tameng, gas air mata, pentungan dan meriam air, polisi menyerbu titik-titik kumpul massa untuk dibubarkan. Massa demonstran membalas dengan lemparan bebatuan yang didapat di jalan-jalan. Ratusan orang luka-luka dan diciduk polisi. Keesokan harinya kampus ditutup sementara. Kini masalah bertambah lagi. Berserikat, berkumpul dan menyampaikan pendapat di muka umum dilarang negara.

Tindakan aparat berbuah aksi protes yang lebih besar. Berpusat di kawasan Latin Quarter, dekat Sorbonne, ribuan pelajar, guru dan warga biasa ikut turun ke jalan bersolidaritas dengan mahasiswa. Bentrokan demonstran vs polisi tak terhindarkan.

Di malam hari, bentrok cenderung lebih panas. Mobil-mobil dibakar polisi menggunakan bom molotov berharap massa bubar. Terjadi kerusakan di sana sini. Sedangkan di siang hari lebih santuy. Berdemo dengan berpuisi dan bernyanyi dan tentu saja menaikkan poster-poster kreatif yang menyentil kelakuan penguasa.

Tak mau ketinggalan, elemen buruh bergabung dengan gerakan mahasiswa. Pabrik-pabrik bergengsi macam Renault, Citroën hingga Sud Aviation kosong ditinggal buruh. Aksi mogok massal dilancarkan buruh sekaligus menuntut kenaikan upah. Sampai minggu ketiga bulan Mei, antara 10 sampai 11 juta orang mogok kerja. Prancis lumpuh. Layanan transportasi publik berhenti. SPBU kosong.

De Gaulle tampaknya terlalu meremehkan gerakan mahasiswa yang menuntut kebebasan individu termasuk urusan seksual. Ia sepertinya tak membayangkan bahwa aksi protes mahasiswa bisa membesar dan mendapat dukungan dari banyak elemen masyarakat lainnya.

Belum lagi tuntutan massa aksi mulai melebar ingin menggulingkan De Gaulle yang dianggap tak becus memimpin negeri. Ia sempat kabur ke luar negeri selama beberapa jam. Tetapi bagaimanapun, loyalis de Gaulle masih cukup besar. Sempat pada akhir Mei sekitar 300 ribu loyalis Gaulle turun ke jalan menyatakan dukungan kepada sang presiden.

Tapi toh Gaulle tetap berada di posisi terjepit ditekan massa rakyat. Akhirnya tuntutan massa mulai dipenuhi. Upah buruh naik meski masih di bawah tuntutan. Sorbonne dipecah-pecah menjadi beberapa unit untuk mengatasi kepadatan mahasiswa. Di kelas-kelas, mahasiswa tak sungkan bisa mendebat dosen. Hubungan atasan dan bawahan, politisi dan rakyat menjadi cair. Kebebasan individu terbuka.

Egalité! Liberté! Sexualité! peristiwa Mei 1968 kemudian lebih dikenal sebagai revolusi budaya ketimbang revolusi politik. Jabatan De Gaulle tetap aman. Malahan partai Gaulle menang Pemilu Legislatif pada Juni 1968. Para buruh secara bertahap dikembalikan ke pabrik untuk dipekerjakan. Gerakan mahasiwa digembosi. Sejumlah agenda demo mahasiswa dibatalkan.

Tentu saja demo yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir tidak dapat sepenuhnya disamakan dengan peristiwa di Prancis itu. Tuntutan mahasiswa bukan cuma soal selangkangan. Lebih dari itu, mahasiswa gelisah atas pengesahan UU KPK beberapa waktu lalu yang dinilai melemahkan semangat pemberangusan korupsi, RUU KUHP yang bermasalah, kebakaran hutan yang terus berulang, kerusuhan di Papua, perlindungan perempuan dari kekerasan seksual dan lainnya yang terangkum dalam tujuh tuntutan mahasiswa dan rakyat.

Pertanyannya, akankah Presiden dan DPR bakal menuruti tuntutan gerakan #ReformasiDikorupsi atau malah tetap bergeming. (*)

BACA JUGA Melihat Bagaimana Industri Buzzer Politik Bekerja atau tulisan Tony Firman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Oktober 2019 oleh

Tags: #ReformasiDikorupsiaksi mahasiswakerusuhanrevolusi mei
Tony Firman

Tony Firman

ArtikelTerkait

ambon

Jualan Agama di Ambon? Tak Akan Laku

15 Juli 2019
pelajar STM #STMMelawan

#STMMelawan: Dua Sisi Para Pelajar Dalam Aksi Demo Menolak RUU KUHP

26 September 2019
Kita Tidak Takut dengan Grup Pencak Silat, Kita Hanya Takut pada Jumlah

Kita Tidak Takut dengan Grup Pencak Silat, Kita Hanya Takut pada Jumlah

14 Juni 2023
Burgerkill

Bangga Menjadi Fan Burgerkill di Tengah Aksi Mahasiswa

3 Oktober 2019
cinta laura

Wahai Netizen, Kok Kalian Gitu Sih Sama Cinta Laura?

2 Oktober 2019
#gejayanmemanggil

#GejayanMemanggil: Saya Mengalami Aksi yang Sangat Menyenangkan Kemarin

24 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan Mojok.co jurusan pgpaud

Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

5 Februari 2026
Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Aturan Kereta Api Bikin Bingung- Bule Tenggak Miras Dibiarkan (Unsplash)

Pengalaman Naik Kereta Api Segerbong dengan Bule yang Membawa Miras Membuat Saya Mempertanyakan Larangan Ini

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.