Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Jadi Guru Relawan di Daerah 3T Itu Nggak Seindah yang Dibayangkan, Yakin Masih Minat?

Dwi Wahyu Alfajar oleh Dwi Wahyu Alfajar
21 September 2021
A A
guru relawan di daerah 3T mojok

guru relawan di daerah 3T mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Menjadi guru relawan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) masih menjadi kesempatan yang diidam-idamkan oleh para sarjana muda di Indonesia, baik yang bertitel sarjana pendidikan atau bukan. Hal ini terbukti dengan animo pendaftar program pengiriman pengajar muda yang diinisiasi oleh Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar. Tiga tahun terakhir, pendaftar program tersebut mencapai angka 7000-an, dengan jumlah pengajar muda yang diterima tak lebih dari 40 orang. 

Animo yang tinggi ini tentunya bukan tanpa alasan. Alasan yang muncul pun beragam. Sebagai alumni program tersebut, secara personal, ketika memutuskan untuk mendaftar, alasan utama saya adalah keengganan untuk kembali ke kampung halaman semenjak memutuskan menjadi nomadic teacher beberapa tahun sebelumnya.

Ya, meskipun alasan personal ini mampu saya bungkus secara apik dengan keinginan mulia agar dapat melihat wajah pendidikan di daerah 3T secara nyata, membersamai calon-calon pemimpin masa depan Indonesia, dan pastinya keinginan untuk ikut serta berkontribusi bagi bangsa dan negara. Alasan tersebut tentu sangat sejalan dengan latar belakang saya sebagai seorang sarjana pendidikan.

Pun demikian, ketika menjumpai teman-teman satu angkatan. Tidak sedikit dari mereka yang sekadar ingin take a break dari rutinitas pekerjaan yang sudah dijalani beberapa tahun terakhir. Dengan harapan ketika bertugas di daerah selama satu tahun, mereka bisa lebih mensyukuri dan memaknai arti kehidupan yang sebenarnya. 

Selain itu, masa depan karier dan akademik juga menjadi alasan beberapa teman. Maksudnya? Dengan menjadi guru relawan yang disertai dengan tanggung jawab dan peran yang tidak sedikit, dirasa cukup bernilai untuk untuk meningkatkan kualitas curriculum vitae. Nah, dengan hal itu pula, esai untuk mendaftar beasiswa studi lanjut bisa lebih berisi dengan adanya bukti nyata kontribusi yang sudah dilakukan untuk bangsa Indonesia. Worthy banget nggak sih?

Beragam alasan tersebut pastinya menjadi modal awal yang dibawa oleh para guru relawan ke tempat penugasan. Alasan yang terbungkus dalam harapan-harapan itu nyatanya tak selamanya sesuai dengan ekspektasi. Sebab, ketika memutuskan untuk menjadi guru relawan, ekspektasi kita harus dipasang serendah mungkin.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Ternyata tak selamanya riset yang sudah kita lakukan melalui berbagai referensi terkait kondisi sosial, ekonomi, dan kebudayaan daerah 3T benar-benar sama dengan kondisi sebenarnya. Terlebih terkait hal-hal yang dianggap negatif.

Selain masih minimnya referensi, terkadang literatur yang ada hanya menyajikan hal-hal positif dengan tujuan untuk menunjukkan perkembangan masyarakat di daerah menuju masyarakat yang dianggap maju. 

Baca Juga:

Nestapa Hidup di Pulau Luang, Sebuah Pulau di Kabupaten Maluku Barat Daya yang Saking Kecilnya Sampai Nggak Kelihatan di Peta

Morotai: Mutiara di Bibir Pasifik yang Diabaikan

Sebagai guru relawan di daerah 3T, tentu tanggung jawab kita bukan hanya mengajar di sekolah. Pasti ada peran dan tugas tambahan dari lembaga/instansi yang sudah mengirim kita ke daerah 3T. Agar peran dan tugas tersebut berjalan semestinya, kemampuan beradaptasi menjadi yang utama.

Untuk itu, butuh waktu tiga sampai enam bulan untuk bisa benar-benar beradaptasi dengan kondisi di daerah 3T. Bersyukur ketika kita ditugaskan di daerah yang masyarakatnya sudah paham cara bagaimana menerima orang baru sesuai versi kita. Tentu, dengan mudah kita bisa beradaptasi dengan mereka.

Namun, kondisi berbeda akan ditemukan di daerah dengan masyarakat yang cara penerimaan terhadap orang baru tak sesuai dengan versi kita. Tentunya, kita yang harus berupaya sebisa mungkin untuk diterima oleh masyarakat tersebut. Apakah pasti berhasil dalam waktu tiga sampai enam bulan? Tak selalu.

Proses adaptasi dengan masyarakat yang membutuhkan waktu tak sebentar ini tentunya sangat berdampak pada proses eksekusi peran dan tugas kita sebagai guru relawan di daerah. Ketika kita saja belum diterima oleh masyarakat, bagaimana kita bisa mengajak orang tua siswa untuk peduli dengan pendidikan anaknya? Bagaimana kita hendak mengajak guru-guru untuk disiplin hadir di sekolah? Bagaimana kita bisa mengajak kepala sekolah untuk benar-benar menjalankan peran dan tugasnya? Bagaimana bisa kita mengajak masyarakat untuk ikut serta terlibat dalam pendidikan di daerah?

Nah, ketika berada dalam kondisi tersebut, apakah kita masih bisa fokus dengan harapan-harapan yang sudah kita bangun sebelum berangkat ke tempat penugasan? Alhamdulillah banget, buat kita yang masih tetap fokus pada harapan-harapan tersebut. Dan buat yang secara terpaksa, harapan-harapan itu berubah setelah sampai di tempat penugasan. Yaudah, take it easy. Jalani aja prosesnya. Sebab, kita sebagai manusia nggak bakalan tahu apa yang akan terjadi esok hari bukan? 

Jadi, yakin masih mau jadi guru relawan di daerah 3T?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 September 2021 oleh

Tags: daerah 3Tguru relawan
Dwi Wahyu Alfajar

Dwi Wahyu Alfajar

Seorang sarjana pendidikan.

ArtikelTerkait

Morotai: Mutiara di Bibir Pasifik yang Diabaikan

Morotai: Mutiara di Bibir Pasifik yang Diabaikan

6 November 2022
Nestapa Hidup di Pulau Luang Kabupaten Maluku Barat Daya

Nestapa Hidup di Pulau Luang, Sebuah Pulau di Kabupaten Maluku Barat Daya yang Saking Kecilnya Sampai Nggak Kelihatan di Peta

14 Juli 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warkop Bulungan: Satu Lagi Tempat Viral di Blok M yang Bikin Kecewa dan Cukup Dikunjungi Sekali Saja

Warkop Bulungan: Satu Lagi Tempat Viral di Blok M yang Bikin Kecewa dan Cukup Dikunjungi Sekali Saja

19 Januari 2026
Jika Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin Pensiun, Abang Iz Layak Jadi Kepala Kampung Durian Runtuh

Jika Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin Pensiun, Abang Iz Layak Jadi Kepala Kampung Durian Runtuh

16 Januari 2026
Rasanya Tinggal di Rumah Subsidi: Harus Siap Kehilangan Privasi dan Berhadapan dengan Renovasi Tiada Henti

Rasanya Tinggal di Rumah Subsidi: Harus Siap Kehilangan Privasi dan Berhadapan dengan Renovasi Tiada Henti

15 Januari 2026
Beat Deluxe, Saksi Kejayaan Bos Warung Madura dari Pamekasan (Shutterstock)

Sejak 2020 Hingga Kini, Honda Beat Deluxe Merah-Hitam Jadi Saksi Kejayaan Warga Pamekasan dalam Membangun Bisnis Warung Madura

20 Januari 2026
Ilustrasi Purwokerto dan Purwakarta, Bikin Kurir Ekspedisi Kena Mental (Unsplash)

Purwokerto dan Purwakarta: Nama Mirip Beda Provinsi yang Bikin Paket Nyasar, Ongkir Membengkak, dan Kurir Ekspedisi Kena Mental

19 Januari 2026
Nestapa MUA Spesialis Wisuda: Berangkat Subuh demi Menutup Mata Panda, Pulang Kena Tawar Harga yang Nggak Ngotak

Nestapa MUA Spesialis Wisuda: Berangkat Subuh demi Menutup Mata Panda, Pulang Kena Tawar Harga yang Nggak Ngotak

16 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak
  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026
  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.