Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Punya Rumah Gede di Kampung Nggak Menjamin Strata Sosialnya Juga Tinggi

Riyanto oleh Riyanto
17 Februari 2021
A A
Punya Rumah Gede di Kampung Nggak Menjamin Strata Sosialnya Juga Tinggi terminal mojok.co

Punya Rumah Gede di Kampung Nggak Menjamin Strata Sosialnya Juga Tinggi terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Di kota kalau punya rumah gede, sudah pasti auto kaya. Akan tetapi, hal itu nggak berlaku di kampung, seenggaknya di kampung saya. Bayangkan, rumah saya di kampung itu gedenya nggak main-main. Tahu kan rumah tipe 36? Nah, itu dikalikan enam memanjang ke belakang. Ya, segitu rumah saya. Itu belum termasuk halaman depan dan belakang, ya.

Tiap kali pulang kampung, berasa piknik saya. Dapurnya ada di paling ujung belakang. Di depan dapur ada area taman yang isinya pohon cabe, pohon singkong, bahkan pohon pepaya dan pisang juga ada. Di depannya lagi ada ruangan buat menaruh stok padi, kayu bakar, dan peralatan masak yang jarang dipakai.

Depannya lagi ada tiga kamar dan salah satunya kamar keramat. Itu loh, yang biasa buat naruh sesembahan buat leluhur. Jadi setiap kali emak masak, yang kudu nyobain pertama kali masakannya adalah para simbah yang sudah meninggal dan konon hobi ke kamar keramat itu. Nggak cuma keluarga saya, hampir semua keluarga di kampung saya kek gitu. Musyrik? Hash ben.

Di depannya lagi ada ruang nyantai yang ada TV, kursi, sama amben. Tau amben? Itu ranjang yang nggak ada kasurnya dan dikasih anyaman bambu, terus dilapisi tikar. Di samping kanan dan kiri ruangan itu ada enam kamar yang luasnya saya jamin bisa bikin nangis kos-kosan sempit kalian. Luas banget.

Di ruangan paling depan ada ruang tamu. Cuma los gitu aja kayak apartemen tipe studio. Hanya ada meja kursi dan satu amben aja. Satu hal yang wajib ada di rumah saya, dan di semua rumah kampung saya, setiap ruangan harus ada ambennya.

Amben ini sungguh fungsional, bisa buat naroh sesembahan, bisa buat tiduran, bisa buat naruh baju-baju sehabis nyuci, bisa buat naruh perkakas, bahkan bisa juga buat naruh amben lain kalau memang dibutuhkan. Makanya, haram hukumnya nggak punya amben kalau di kampung saya.

Di depannya, ada halaman depan. Di depannya lagi, ada jurang yang penuh pohon melinjo, salak, aren, dan sesuketan yang mbuh opo jenenge. Di samping rumah ada tebing yang penuh pohon singkong. Di samping rumah satunya, lagi-lagi ada jurang dan segala tumbuhan yang bikin saya sekeluarga nggak usah repot-repot belanja ke pasar. Duren? Ada. Pete? Banyak banget. Manggis? Ada. Mangga? Ada juga. Tinggal nunggu mereka berbuah dan dulu-duluan sama bajing buat makan. Ah, dasar bajing yang bajingan.

Dengan segala kemewahan rumah gede itu, apakah membuat keluarga saya menjadi kaya? Nggak juga. Urusan makan memang nggak perlu mikir. Tinggal ambil aja sayuran dari kebun. Seandainya saja kemerdekaan dan kemewahan hidup itu sebatas makan, maka kampung saya adalah yang paling merdeka dan bahagia.

Baca Juga:

Tips Berwisata ke Kampung Durian Runtuh dalam Serial Upin Ipin

Culture Shock Saya Sebagai Orang Kota Jakarta yang Pindah ke Kampung: Apa-apa Murah, tapi Jadi Orang Nggak Enakan

Ah, tapi anak-anak kudu sekolah. Orang-orang harus bayar pajak. Kita kudu kepengin beli ini itu karena iklan di TV.  Jadinya ya hidup nggak sebatas makan dan minum dengan enak. Duit tetep harus datang, punya rumah gede atau segede-gede apa pun itu nggak bakal mendatangkan duit begitu saja.

Rumah itu sebatas tempat untuk tinggal dan memang sudah turun temurun dari mbah-mbah sebelumnya. Memangnya kalau rumah gede, bakal auto mendatangkan duit? Kan, nggak.

Mayoritas orang di kampung saya mengandalkan bertani gula Jawa sebagai sumber penghasilan. Tiap pagi dan sore, bapak-bapak kudu naik pohon kelapa buat ngambil nira kelapa. Lantas ibu-ibu bakal masak nira itu dan dicetak menjadi gula Jawa. Barulah seminggu sekali para ibu-ibu harus pergi ke pasar buat jualan. Nah ini, jarak antara kampung saya dengan pasar itu 23 kilometer, dan itu dilakukan mereka dengan jalan kaki.

Dulu belum ada kendaraan umum. Ibu-ibu bakal berangkat pukul lima pagi dengan penerangan daun pohon kelapa kering yang diunting dan dibakar. Jalan 23 kilometer membawa berkilo-kilo gula Jawa di punggung mereka. Ini, kaum feminis lucu-lucu, bakal melongo melihat perjuangan ibu-ibu di kampung saya. Jauh sebelum feminisme jadi ngehits, ibu-ibu di kampung saya sudah lebih dulu mempraktikkannya.

Terlepas dari feminisme, kekayaan di kampung saya itu diukur dari seberapa banyak pohon kelapa yang dimiliki. Semakin banyak pohon kelapa, berarti semakin banyak nira yang dipanen. Semakin banyak nira yang dipanen, semakin semangat ibu-ibu buat memasaknya. Semakin banyak pula gula Jawa yang dicetak. Semakin berat membawa itu gula Jawa ke pasar. Semakin banyak pula duit yang dibawa pulang.

Selain itu, semakin punya banyak pohon di kebun juga akan membuat orang itu semakin kaya. Semakin gede pohon, maka harganya bakal semakin mahal. Semakin banyak pohon gede, maka nilai kekayaannya juga semakin tinggi.

Keduanya memiliki persamaan, yaitu kekayaan dan strata sosial di kampung saya tidak diciptakan oleh generasi saat ini, melainkan generasi sebelum-sebelumnya. Mbah-mbah buyut bisa saja miskin karena nggak punya warisan pohon-pohon kelapa maupun pohon sengon, jati, atau yang lain. Akan tetapi, mereka menanam benih-benih baru di kebon mereka yang nggak ada apa-apanya. Mbah-mbah buyut mewariskan sesuatu yang masih belum bernilai, tetapi kelak di generasi berikutnya akan menjadi sumber kekayaan. Mbah-mbah buyut miskin, tetapi keturunannya bisa hidup nyaman.

Nah, sayangnya yang terjadi saat ini, generasi yang sudah menikmati hasil dari mbah-mbah buyut itu jarang ada yang mau menanam benih baru lagi. Kebanyakan hanya nebang sana nebang sini, dapet duit ratusan juta, buat beli ini itu, dan nggak meninggalkan apa-apa buat keturunannya nanti.

BACA JUGA 4 Cara Mudah Memiliki Rumah di Jogja dengan Gaji Mepet UMR dan tulisan Riyanto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 17 Februari 2021 oleh

Tags: kampungrumah gedestrata sosial
Riyanto

Riyanto

Juru ketik di beberapa media. Orang yang susah tidur.

ArtikelTerkait

ereveld makam korban perang belanda jogja sulitnya cari makam kuburan mojok

Alasan Makam di Kampung Saya Tidak Bisa Menerima Jenazah dari Luar Kampung

14 Oktober 2020
Kalau Orang Sunda Susah Bilang F, Orang di Kampung Saya Susah Bilang W. Sebuah Contoh Dialek Epik! terminal mojok.co

Tipe-tipe Orang Ketika Mengikuti Ronda Malam

5 Desember 2020
Piknik Jadi Program Unggulan Karang Taruna: Jadi Beban Sekampung kok Bangga?

Piknik Jadi Program Unggulan Karang Taruna: Jadi Beban Sekampung kok Bangga?

22 Oktober 2023
Culture Shock Saya Sebagai Orang Kota Jakarta yang Pindah ke Kampung: Apa-apa Murah, tapi Jadi Orang Nggak Enakan

Culture Shock Saya Sebagai Orang Kota Jakarta yang Pindah ke Kampung: Apa-apa Murah, tapi Jadi Orang Nggak Enakan

11 Juli 2024
Surabaya Barat Katanya Basecamp para Crazy Rich, tapi Sering Kebanjiran dan Lebih Banyak Perkampungannya

Surabaya Barat Katanya Basecamp para Crazy Rich, tapi Sering Kebanjiran dan Lebih Banyak Perkampungannya

20 November 2023
Perempuan yang Nggak Pakai Emas-emasan di Kampung Saya Sering Dianggap Hidupnya Susah dan Nggak Bahagia terminal mojok

Perempuan yang Nggak Pakai Emas-emasan di Kampung Saya Sering Dianggap Hidupnya Susah dan Nggak Bahagia

19 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat Mojok.co

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat

2 Februari 2026
Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

1 Februari 2026
5 Bentuk Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang  MOjok.co

5 Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang 

2 Februari 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi

6 Februari 2026
5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.