9 Derita Profesi Sales, Sosok yang Katanya Bermental Baja padahal Semua Terjadi karena Terpaksa

9 Derita Profesi Sales Boleh Nangis, tapi Tetap Kudu Target (Unsplash)

9 Derita Profesi Sales Boleh Nangis, tapi Tetap Kudu Target (Unsplash)

Ngomongin kerja jadi sales itu aneh ya. Dari luar kelihatannya santai ketemu orang, ngobrol, dapet komisi. Kayak hidupnya fleksibel dan enak. 

Tapi, begitu menjalaninya sendiri, saya tahu kalau ini bukan sekadar kerja biasa. Ada capek yang nggak kelihatan dan kamu nggak bisa menjelaskannya ke orang yang nggak ngerasain. Sales itu bukan cuma soal jualan, tapi soal bertahan, tiap hari, tanpa banyak orang tahu.

BACA JUGA: Kerja Jadi Sales: Gampang Masuknya, Susah Menjalaninya

#1 Target angka sales yang nggak pernah diam

Hidup sales itu temennya angka. Bangun tidur aja yang kepikiran seringnya bukan sarapan, tapi target. Dan target itu nggak pernah peduli kondisi. 

Mau pasar lagi sepi, orang lagi hemat, atau produk lagi kurang laku, sales harus tetap mengejar angka. Di situ kadang muncul rasa capek yang beda karena sales melawan nggak cuma keadaan, tapi juga ekspektasi yang nggak selalu realistis.

#2 Penolakan yang udah kayak makanan harian

Mendapat penolakan adalah bagian dari pekerjaan sales. Sensasinya bakal lebih nyakitin ketika kamu kena penolakan terus dalam sehari. 

Awalnya mungkin sakit, lama-lama jadi kebal, tapi bukan berarti nggak kerasa. Ada momen sales harus tetap memasang senyum, tapi di dalam hati sudah mulai kosong. Dan yang bikin berat, besok harus mulai lagi dari awal, seolah kemarin nggak terjadi apa-apa.

#3 Senyum tidak berarti bahagia

Banyak yang nggak sadar kalau senyum seorang sales itu tidak sama dengan bahagia. Kadang itu cuma bagian dari pekerjaan. Kami tetap harus ramah dan meyakinkan meski baru capek dan kena penolakan. 

Lama-lama, bukan fisik saya saja yang capek duluan, tapi emosi. Karena terus-terusan harus terlihat “baik-baik saja” itu nggak segampang kelihatannya.

#4 Sales yang bergulat di jalanan, kena panas, dan melewati hari yang panjang

Banyak sales menghabiskan waktu lebih banyak di jalanan ketimbang tempat tujuan. Panas, macet, hujan, makan nggak teratur semua jadi satu paket. 

Udah capek muter ke sana dan ke sini, tapi belum tentu ada hasil. Dan yang paling terasa itu pas pulang. Bukan cuma lelah, tapi juga kepikiran. Hari ini sebenarnya dapet apa?

#5 Tekanan sales yang nggak selalu kelihatan

Kerja jadi sales itu sering terlihat simpel dari luar, padahal tekanannya lumayan dalam. Ada target yang ngejar, ada atasan yang nanya, ada diri sendiri yang terus menuntut lebih. 

Kadang udah usaha maksimal, tapi hasil nggak sesuai harapan. Dan orang lain cuma mau lihat hasilnya, bukan proses yang berantakan di baliknya.

#6 Komisi cuma sebatas harapan

Komisi itu memang jadi daya tarik tapi juga jadi sumber harap yang nggak selalu pasti. Ada masa di mana hasilnya bagus, tapi ada juga masa di mana kosong. 

Dan di situ baru terasa kalau hidup sebagai sales itu nggak stabil. Harus siap mental, karena nggak setiap usaha langsung kelihatan hasilnya

#7 Dianggap maksa, padahal lagi berjuang

Ini bagian yang kadang bikin dilema. Keadaan menuntut sales untuk aktif. Namun, jatuhnya, orang lain melihat kami ini kok maksa. 

Kalau terlalu santai, katanya nggak niat. Kalau terlalu ngejar, katanya ganggu. Padahal, di balik itu, kami cuma lagi berusaha nutup target. Tapi nggak semua orang mau lihat dari sisi itu.

#8 Ramai, tapi tetap sepi

Walaupun tiap hari ketemu banyak orang, tetap aja sales bisa ngerasa sepi. Karena kebanyakan interaksi itu ada tujuan, yaitu jualan. Jarang yang benar-benar ngobrol tanpa beban. 

Dan ketika lagi capek atau lagi jatuh, seringnya kami memendam sendiri. Nggak semua orang paham dan kami nggak bisa cerita begitu saja.

BACA JUGA: Sisi Gelap Bekerja sebagai Sales Asuransi

#9 Tuntutan mental, sales harus selalu kuat

Kata orang, di balik semua capek, mental sales pasti kebentuk. Lalu, cara ngomong jadi lebih luwes dan lebih peka ketika menilai orang.

Ya memang, sih. Sales mengajarkan satu hal penting. Yaitu, tetap jalan walaupun lagi jatuh. Bukan karena selalu kuat, tapi karena tuntutan bangkit lagi. Iya, mental jadi kuat tapi karena terpaksa.

Derita kerja jadi sales itu nyata, walaupun sering nggak kelihatan. Ini bukan cuma soal jualan, tapi soal nahan capek, kecewa, dan tetap lanjut walaupun hasil belum tentu ada.

Penulis: Fransisca Tiara Dwi Sherlitawati

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Sales: Pekerjaan yang Tidak Pernah Dicita-Citakan, tapi Sulit untuk Ditinggalkan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version