8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg

8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg

8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg (unsplash.com)

Istilah dalam bahasa Jawa memang sangat beragam. Bahkan untuk mengucapkan subjek aku kamu saja ada banyak istilah dan peruntukannya. Tak terkecuali saat mengekspresikan ungkapan bau yang juga banyak istilahnya. Nah, berikut ini istilah bau dalam bahasa Jawa yang ternyata banyak banget.

#1 Amis sudah banyak dipahami

Istilah pertama ada kata “amis” yang paling mudah dipahami. Bagi orang yang nggak paham bahasa Jawa pasti juga tahu makna kata ini.

Amis merupakan bau yang ditujukan ketika berpapasan dengan aroma yang berasal dari makhluk hidup. Misalnya ayam atau ikan yang baru aja disembelih, atau tangan bau amis karena bahannya dari udang, atau bisa untuk menunjukkan bau darah.

#2 Nyegrak, bahasa Jawa untuk aroma yang menyengat

Bau untuk mengekspresikan aroma yang menyengat dalam bahasa Jawa sering disebut nyegrak. Nyegrak digunakan untuk bau yang menyengat atau menusuk hidung karena aromanya tajam banget. Misalnya “ambune parfummu nyegrak banget,” atau “tapene ambune nyegrak.” Artinya aroma parfummu menyengat sekali dan aroma tapenya sangat menyengat.

Baca juga: 4 Kosakata Bahasa Jawa yang Sering Salah Penggunaannya.

#3 Prengus identik dengan aroma kambing

Ada aroma yang identik dengan hewan kambing, yaitu prengus. Istilah ini sering digunakan ketika menemukan kambing yang aromanya nggak enak. Misalnya ada yang mengatakan bahasa Jawa ini, “tongseng wedhuse prengus banget,” yang maknanya tongseng kambingnya bau banget.

Prengus ini adalah bau alami dari kambing yang katanya digunakan untuk bereproduksi. Jadi kalau mengolah atau memasak kambing harus benar-benar bisa masak biar bau prengus khas kambingnya hilang.

#4 Kecing, istilah bahasa Jawa untuk aroma busuk bercampur asam

Bau yang digunakan untuk mengekspresikan aroma busuk bercampur asam biasanya menggunakan istilah kecing. Kalau kita sering amati pas lagi belanja di pasar, misalnya “tahune mambu kecing” artinya tahunya bau nggak enak, karena direndam terlalu lama.

#5 Sangit menunjukkan bau karena paparan asap

Sangit ini istilah bahasa Jawa untuk menunjukkan bau karena paparan asap. Misalnya aroma baju setelah memasak di dapur yang menggunakan kayu atau setelah membakar sampah biasanya juga bau sangit. Aroma yang dikeluarkan biasanya gosong.

#6 Tengik, istilah untuk bau yang dikeluarkan bahan makanan

Tengik digunakan untuk bau yang dikeluarkan oleh bahan makanan. Misalnya, “tempene wis tengik”, “krambile wis tengik,” yang artinya tempenya sudah bau, kelapanya sudah bau. Aroma tengik biasanya identik dengan bau busuk.

Baca juga: 10 Istilah Makan dalam Bahasa Jawa dari Ngemrus hingga Nguntal.

#7 Istilah bau dalam bahasa Jawa, langu

Kalau masak dan bumbunya belum matang biasanya ada aroma khas yang menunjukkan jika bawang itu belum matang. Nah, itu tercium dari aromanya. Kalau keadaannya seperti ini, disebut bau langu.

Makanan yang langu biasanya pas dimakan di lidah rasanya jadi getir dan aneh karena belum matang sempurna. Contohnya ketika menumis bawang dan belum matang.

#8 Badheg, menunjukkan aroma busuk banget

Untuk menunjukkan aroma paling nggak enak, orang Jawa biasanya menggunakan kata badheg. Intinya sih aromanya busuk banget. Misalnya, “ambune badheg banget,” yang artinya aromanya bau banget.

Itulah beberapa istilah bau dalam bahasa Jawa yang ternyata banyak sekali. Pindah lima langkah aja, kadang kita bisa mencium aroma yang berbeda dan istilahnya juga berbeda. Hal itu menunjukkan kekayaan bahasa Jawa yang patut dilestarikan.

Penulis: Wulan Maulina
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 30 Istilah dalam Bahasa Jawa yang Diawali Kata “Mak”, Mulai dari Mak Plengeh hingga Mak Jegagik.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version