Kemajuan kecerdasan buatan atau Artificial intelligence (AI) yang ugal-ugalan merangsek ke berbagai sektor industri. Banyak orang ketar-ketir pekerjaan mereka bakal diserobot mesin. Padahal, nggak semua urusan di bumi ini bisa beres hanya dengan mengetik prompt.
Faktanya, ada segudang pekerjaan yang nggak bisa disubstitusi oleh AI. Alih-alih meratapi nasib, mari coba ubah sudut pandang. Sebab, profesi yang paling kebal dari gilasan zaman justru sering kali adalah paling nggak diperhitungkan.
#1 Tukang AC pekerjaan yang kerap dianggap sepele itu penyelamat banyak orang
Buat warga negara tropis seperti Indonesia, AC itu kebutuhan primer. Begitu suhunya gerah dan AC tidak berfungsi, orang-orang pasti langsung memanggil tukang AC. Soalnya, secanggih apapun AI mendeteksi gejala kerusakan dan memberi saran ini-itu, mesin pintar tetap saja buntung.
Mana bisa robot disuruh naik plafon, mencuci evaporator yang berlendir, atau menambal pipa freon yang bocor? Ujungnya, kenyamanan suhu ruangan jauh lebih bergantung pada kecekatan tangan manusia ketimbang deretan baris kode di layar komputer yang cuma bisa omong doang pas AC lagi ngadat.
#2 Tukang ledeng, bukti kalau urusan pipa mampet selalu butuh keahlian manual
Orang pikir, kerjaan tukang ledeng hanya mengurusi pipa kotor, saluran air mampet, atau keran bocor. Nyatanya, rumah memiliki tata letak pipa air bersih dan pembuangan yang berbeda-beda. Sering kali, tersembunyi di balik dinding atau lantai.
Itu mengapa, pemilik rumah rela bayar mahal jasa tukang ledeng asalkan air bisa mengalir kembali dengan normal. Sebab, mereka punya pengalaman dan insting mekanik untuk menemukan titik sumbatan atau kebocoran tersembunyi tanpa harus bikin rumah ambruk.
#3 Kurir paket pekerjaan yang sulit tergantikan AI
Mengantar paket dari titik A ke titik B pakai motor memang kerap dianggap mudah dan remeh. Apalagi rute tercepat di peta digital sudah terpampang jelas di layar. Padahal, algoritma tercanggih mana pun nggak bakal sanggup menerobos terik matahari, hujan badai, atau menangani adegan terjebak di gang sempit gara-gara titik GPS yang ngawur.
Di balik paket belanjaan yang mendarat selamat, ada para pejuang jalanan yang mempertaruhkan tenaga. Jerih payah mereka menembus jalanan tentu butuh otot dan mental baja, dua hal mutlak yang mustahil bisa direplikasi oleh bahasa pemrograman.
#4 Sentuhan humanis perawat lansia bikin profesi ini awet sepanjang masa
Merawat lansia bukan cuma soal memberi obat tepat waktu atau mengatur jadwal makan. Pekerjaan ini menuntut empati murni dan kesabaran ekstra sekadar buat mendengar cerita yang diulang-ulang. Plus, kepekaan luar biasa saat menghadapi kerentanan mereka.
Kasih sayang dan ketulusan semacam ini jelas barang antik yang mustahil diprogram ke dalam sistem digital. Makanya, profesi perawat lansia bakal selalu abadi dan dicari.
#5 AI tidak bisa menggantikan groomer hewan peliharaan yang butuh kesabaran tingkat dewa
Groomer hewan peliharaan jadi salah satu profesi fisik yang kebal dari AI. Sekaligus, punya potensi tarif gurih. Apalagi, di tengah tren pet lover yang lagi meledak di kota-kota besar.
Walau kelihatan sepele, nyatanya nggak semua orang tahan mental menghadapi anjing atau kucing yang hobi berontak pas kukunya dipotong. Menghadapi klien berbulu dengan berbagai tabiat ajaib, robot AI bisa-bisa error seketika. Intinya, profesi ini murni mengutamakan insting, kelembutan tangan, dan tingkat kesabaran setara pawang sirkus buat menjinakkan mereka.
#6 Desain baju memang bisa dibuat AI, tapi penjahit selalu jadi pihak yang mengeksekusi
AI memang bisa merancang pola digital atau mencetak motif baju dalam hitungan detik di layar monitor. Bahkan, memproduksi pakaian massal dengan ukuran standar. Masalahnya, tubuh manusia itu diciptakan unik, tanpa ada yang benar-benar simetris.
Di sinilah keahlian penjahit berperan mengukur langsung postur tubuh, membaca lekuk badan, dan memastikan pakaian jatuh sempurna di pemakainya. Terlebih, menjahit bahan yang licin, melar, atau kain tebal berlapis butuh kepekaan jemari tangan serta koordinasi pedal mesin jahit. Nggak heran, harga membuat baju di penjahit profesional jauh lebih mahal ketimbang baju pabrikan.
# 7 Pengrajin tas handmade yang selalu diincar kolektor tas bernilai seni
Di tengah kepungan tas fast fashion, profesi pengrajin tas handmade sering disepelekan lantaran dianggap kurang efisien tapi harganya selangit. Memang, teknologi pabrik jago membuat produk yang presisi dalam waktu singkat. Tapi, mesin tetap nggak punya selera seni dan sentuhan estetika personal yang bisa menyatu dengan karakter unik seorang pembeli.
Lagi pula, orang yang memesan tas handmade itu mencari eksklusivitas. Bukan sekadar wadah. Sementara, pabrik tentu ogah direpotkan dengan pesanan satuan. Nah, di ceruk pasar inilah ruang hidup para perajin lokal tetap menyala.
Pekerjaan-pekerjaan di atas sehari-hari kerap dianggap sebelah mata. Namun, siapa menyangka, kehadirannya malah yang paling sulit tergantikan oleh kecerdasan buatan. Di balik ketakutan akan ketangguhan AI, selalu ada celah kecil yang menuntut sisi manusiawi. Jadi, sudah saatnya sederet pekerjaan yang dianggap remeh tadi lebih diapresiasi.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Kalimat “pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar” itu omong kosong, saya sudah membuktikannya dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.