Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan

7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal

Alifia Putri Nur Rochmah oleh Alifia Putri Nur Rochmah
6 Januari 2026
A A
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal (wikipedia.org)

Share on FacebookShare on Twitter

#4 Pasar tradisional Kebumen lebih ramai dari mal

Kebumen punya mal. Bangunannya ber-AC, ada eskalator, dan tenan modern. Tapi, jangan harap ramai seperti mal di kota besar. Yang benar-benar hidup justru pasar tradisionalnya terutama saat hari pasaran tiba.

Setiap kali Legi, Pahing, Pon, Wage, atau Kliwon, pasar tradisional berubah jadi episentrum kehidupan sosial. Orang datang bukan cuma untuk belanja, tapi juga untuk bertemu tetangga, basa-basi, bergosip, dan merasakan kehangatan komunitas yang tidak bisa didapat di mal ber AC.

Pendatang yang terbiasa dengan kenyamanan mal mungkin bingung kenapa orang Kebumen lebih suka berdesak-desakan di pasar yang panas dan penuh bau amis? Kenapa rela tawar-menawar untuk selisih seribu rupiah?

Bagi warga lokal, pasar bukan sekadar tempat transaksi ekonomi. Ini adalah ruang sosial tempat identitas lokal terus direproduksi. Di pasar, kamu bisa tahu siapa yang baru melahirkan, siapa yang lagi sakit, siapa yang anaknya baru lulus kuliah. Informasi mengalir lebih cepat dari grup WhatsApp.

Dan, yang lebih penting di pasar, kamu masih bisa nawar. Di mal? Harga sudah pasti, tidak ada ruang negosiasi. Bagi orang Kebumen, menawar bukan soal pelit, tapi soal seni berkomunikasi dan menjaga harga diri sebagai pembeli yang “pintar”.

Jadi jangan heran kalau mal di Kebumen sepi saat pasar tradisional ramai. Ini bukan soal daya beli, tapi soal pilihan gaya hidup.

#5 Menganggap pulang kampung sebagai kewajiban moral

Orang Kebumen punya ikatan emosional kuat dengan kampung halaman. Merantau boleh, sukses boleh, tapi pulang tetap wajib setidaknya saat momen penting.

Pendatang sering heran melihat orang Kebumen yang rela menghabiskan tabungan demi mudik atau datang ke acara keluarga. Secara ekonomi mungkin tidak rasional, tapi secara sosial itu hal mutlak.

Baca Juga:

Goa Jatijajar, Objek Wisata di Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi

Sisi Gelap dari Kemiripan Nama Purwokerto dan Purwakarta yang Bikin Pusing

Kampung halaman bukan sekadar tempat tinggal, tapi identitas. Tidak pulang bisa dianggap kehilangan akar, bahkan kehilangan diri sendiri.

#6 Di Kebumen, makan pakai nasi tiwul itu biasa, bukan karena susah

Kalau kamu lihat orang Kebumen makan tiwul di warung, jangan langsung kasihan. Ini bukan soal ekonomi, tapi soal selera dan kebanggaan kuliner. Tiwul makanan dari singkong yang ditumbuk adalah comfort food sejati bagi warga Kebumen.

Bahkan, orang Kebumen yang sudah sukses dan tinggal di Jakarta pun, kalau pulang kampung pasti nyari tiwul. Mereka bisa makan nasi putih setiap hari, tapi tetap kangen tiwul. Bagi pendatang, ini aneh. Kok makanan yang teksturnya kayak pasir bisa dijadikan kesukaan? Tapi, bagi orang Kebumen, tiwul itu bukan cuma makanan ini adalah bagian dari jati diri mereka.

#7 Ngelawan arus di jalan raya? Santai aja

Kalau kamu berkendara di Kebumen dan tiba-tiba ada motor dari arah berlawanan di jalur yang sama denganmu, jangan panik. Ini bukan kecelakaan yang akan terjadi, ini cuma orang Kebumen yang mencari jalan pintas.

Mereka akan nyerobot jalur berlawanan dengan santainya, terus balik lagi ke jalur yang benar seakan tidak terjadi apa-apa. Bagi pendatang yang masih kaku dengan aturan lalu lintas, ini bikin jantung copot. Tapi, bagi warga lokal? “Ah, biasa. Kan cuma sebentar.”

Prinsip mereka sederhana kalau ada jalan lebih cepat, kenapa harus jauh-jauh? Efisiensi ala Kebumen memang punya logikanya sendiri.

Kebiasaan-kebiasaan ini mungkin terlihat aneh dari luar. Tapi bagi orang Kebumen, inilah cara hidup yang paling masuk akal. Mereka tumbuh di lingkungan yang mengajarkan bahwa bertahan tidak selalu harus keras, dan kebahagiaan tidak selalu datang dari percepatan.

Normalitas lokal ini memang tidak selalu kompatibel dengan logika kota besar. Tapi justru di situlah orang Kebumen menemukan ritme hidupnya sendiri pelan, hangat, dan penuh toleransi terhadap ketidaksempurnaan.

Mungkin pendatang perlu waktu untuk memahami. Atau cukup menerima satu hal di Kebumen, tidak semua yang terlihat aneh itu salah. Bisa jadi, ia hanya berbeda cara bertahan hidup.

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Alasan Kebumen Ditinggalkan Warganya walau dengan Berat Hati.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 8 Januari 2026 oleh

Tags: jawa tengahKebumenorang kebumen
Alifia Putri Nur Rochmah

Alifia Putri Nur Rochmah

Penulis kelahiran Kebumen. Anak Ekonomi Pembangunan UNS yang lebih tertarik pada cerita di balik data. Berpengalaman sebagai content writer dan content creator, gemar berkelana ke tempat-tempat baru, dan menulis tentang apa saja dari yang serius sampai yang receh.

ArtikelTerkait

Orang Malang dan Bojonegoro. (Unsplash.com)

Orang Malang dan Bojonegoro Salah Paham karena 4 Kata Lucu Ini

30 Juni 2022
3 Hal yang Membuat Tawangmangu Kurang Pas Disebut Tempat Wisata

3 Hal yang Membuat Tawangmangu Kurang Pas Disebut Tempat Wisata

16 Juni 2023
Simpang PB VI Selo Boyolali, Alun-Alun Paling Indah Se-Jawa Tengah Mojok.co

Simpang PB VI Selo Boyolali, Alun-Alun Paling Indah Se-Jawa Tengah

21 Juli 2024
3 Rekomendasi Supermarket di Kota Magelang, Cocok buat Belanja Anak Kos

3 Rekomendasi Supermarket di Kota Magelang, Cocok buat Belanja Anak Kos

26 September 2023
Bukan Semarang, Sebaik-baiknya Tempat Tinggal di Jawa Tengah Adalah Purwokerto

Bukan Semarang, Sebaik-baiknya Tempat Tinggal di Jawa Tengah Adalah Purwokerto

7 Februari 2024
Dialek Magelang yang Sulit Dipahami Orang dari Luar Magelang

Dialek Magelang yang Sulit Dipahami Orang dari Luar Magelang

21 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tol Trans Sumatera Kayu Agung–Palembang Bikin Istigfar: Jalan Berlubang, Licin, Minim Penerangan Padahal Tarif Mahal, Bukan Bebas Hambatan Malah Jadi Terhambat

Tol Trans Sumatera Kayu Agung–Palembang Bikin Istigfar: Jalan Berlubang, Licin, Minim Penerangan padahal Tarif Mahal~

30 Januari 2026
Cara Pilih Kursi Kereta Api Paling Enak, Jangan Asal supaya Nggak Menyesal Mojok.co

Cara Pilih Kursi Kereta Api Paling Nyaman, Jangan Asal supaya Nggak Menyesal

29 Januari 2026
Jalan Mayjen Jonosewojo Surabaya Kawasan Elite, Kualitas Jalan Sulit: Daerah Mahal kok Aspalnya Rusak!

Jalan Mayjen Jonosewojo Surabaya Kawasan Elite, Kualitas Jalan Sulit: Daerah Mahal kok Aspalnya Rusak!

29 Januari 2026
Kuliah di UT Sudah Paling Benar, Belajarnya Nggak Instan tapi Terstruktur dan Nggak Bikin Manja

Kuliah di UT Sudah Paling Benar, Belajarnya Nggak Instan tapi Terstruktur dan Nggak Bikin Manja

29 Januari 2026
Stasiun Cawang, Stasiun yang Bikin Saya Nangis Bawang Saking Ramenya yang Nggak Masuk Akal

Stasiun Cawang, Stasiun yang Bikin Saya Nangis Bawang Saking Ramenya yang Nggak Masuk Akal

26 Januari 2026
Mengapa Nasi Berkat Tahlilan Terasa Nikmat padahal Lauknya Sederhana?

Mengapa Nasi Berkat Tahlilan Terasa Nikmat padahal Lauknya Sederhana?

28 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah
  • Kalau Mau Bersaing di Era AI, Indonesia Butuh Investasi Energi 1 Triliun Dolar AS
  • Sasar Sekolah, Ratusan Pelajar di Bantul Digembleng Kesiagaan Hadapi Gempa Besar

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.