Bagi orang luar Jawa, mendengar orang berbicara menggunakan bahasa Jawa biasanya menyisakan dua kesan: terdengar halus atau justru terdengar lucu.
Terdengar halus karena pada umumnya bahasa Jawa diucapkan dengan intonasi yang rendah. Sehingga, terdengar sopan di telinga. Sementara kesan lucu muncul karena bahasanya terdengar asing, ditambah ada pengaruh kaidah kebahasaan yang unik, salah satunya yang dikenal dengan nama dwi lingga.
Hayo, masih ingat kan dengan dwi lingga? Itu lho, pelajaran bahasa Jawa yang membahas soal kata baru yang terbentuk dari pengulangan seluruh atau sebagian kata. Jenisnya ada dwi lingga wantah, dwi lingga salin swara, dwi purwa dan dwi wasana.
Menariknya, beberapa kata dalam bahasa Jawa ini terdengar aneh bukan hanya oleh orang luar jawa, tapi juga oleh penutur aslinya. Mungkin, karena kata-kata ini sudah mulai jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari kali.
Apa saja? Ini dia kata dalam bahasa Jawa yang terdengar aneh.
#1 Orang yang tampak sibuk, tapi tidak meyakinkan disebut nunak nunuk
Dalam obrolan, nunak nunuk digunakan untuk menggambarkan kondisi di mana seseorang tampak sibuk dengan sesuatu. Tapi, sibuknya ini sibuk yang tidak meyakinkan. Pekerjaannya diulang lagi, salah lagi, dicoba lagi, begitu seterusnya. Dikerjakan dengan lambat pula. Jadi, menimbulkan tanda tanya bagi orang yang melihatnya, “Orang ini sebenarnya paham nggak sih apa yang sedang dikerjakan?”
Nah, nunak nunuk ini termasuk jenis dwi lingga salin swara, yaitu pengulangan kata disertai perubahan huruf vokal.
#2 Tetek bengek bukan kata bahasa Jawa yang jorok
Tetek bengek juga termasuk kata dalam bahasa Jawa yang dianggap lucu. Agaknya, ini berkaitan dengan kata ‘tetek’ yang seringkali digunakan sebagai kata ganti untuk menyebut payudara.
Bagi mereka yang tidak paham, pasti mengira kalau kata tetek bengek ini berkonotasi jorok. Padahal, tetek bengek ini merujuk pada benda atau hal-hal kecil yang menyertai sesuatu.
Contohnya, Rudi stres karena memikirkan persiapan pernikahan dan tetek bengeknya.
#3 Orang kerepotan yang kepontal pontal
Ada pula ‘kepontal-pontal’. Kalau kamu melihat ada orang yang kerepotan akan sesuatu, berarti dia sedang kepontal-pontal.
Misalnya nih, ada teman kamu sedang bawa banyak barang bawaan. Di saat yang sama, dia juga sedang buru-buru menyamakan langkah dengan teman di depannya supaya tidak tertinggal. Alhasil, kadang barang bawaan dia jatuh sehingga harus dipungutlah, lalu ada drama kaki keseleo, kesandung, dsb. Repot banget deh pokoknya. Itulah yang dimaksud dengan kepontal-pontal.
#4 Entut berut mirip dengan “preettt” dalam bahasa Jawa
Selanjutnya, coba kalian ucapkan ‘entut berut’. Terdengar menggelikan bukan? Apalagi kalau kalian sudah tahu sebelumnya bahwa kata entut dalam bahasa Jawa ini berarti kentut. Tapi, bukan berarti ‘entut berut’ ini ngomongin soal gas buangan, ya, melainkan entut berut ini adalah frasa yang keluar sebagai bagian dari ekspresi seseorang ketika mendengar suatu gombalan.
Sama seperti kata ‘Prettttt’ yang diucapkan ketika kita mendengar seseorang membual.
#5 Membawa sesuatu yang ringan disebut cengkiwing
Kata dalam bahasa Jawa lain yang dianggap lucu adalah cengkiwing. Huruf ‘e’-nya sama seperti pengucapan huruf ‘e’ pada kata ‘lemari’.
Sederhananya, cengkiwing ini berarti membawa. Tapi, bukan sembarang membawa sesuatu. Membawa yang dimaksud dalam kata ‘cengkiwing’ ini adalah membawa sesuatu yang ringan, yang bisa ambil dengan sekali ayunan tangan serta dibawa dengan satu tangan tanpa perlu merasa pegal.
Gila, spesifik ya bahasa Jawa.
#6 Kontal-kantil kata dalam bahasa Jawa untuk barang kecil yang tergangtung
Bukti lain kalau bahasa Jawa itu spesifik, sekaligus menambah deret panjang kata bahasa Jawa yang terdengar aneh, adalah konthal-kanthil.
Kontal-kantil (tolong bacanya yang hati-hati, takut salah baca), digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tergantung. Tapi, sesuatu yang dimaksud adalah benda yang ukurannya kecil mungil. Sementara kalau yang tergantung adalah benda yang ukurannya besar, penyebutannya bukan lagi kontal-kantil, tapi gondal-gandul.
Lagi-lagi, ada pelajaran dwi lingga di sini, Gaes.
#7 Pating pencotot
Terakhir, pating pencotot. Sebenarnya, penggunaan kata ‘pating’ dalam bahasa Jawa ini sangat sering terdengar. Ada pating klambruk, pating sebar, pating kluwer, dsb. Tapi, diantara semua ‘pating’, yang dianggap terdengar aneh adalah pating pencotot.
Pating pencotot digunakan untuk mengomentari ketika ada orang yang menggunakan baju terlalu ketat sehingga lipatan-lipatan lemaknya terlihat sangat jelas.
Itulah 7 kata dalam bahasa Jawa yang terdengar aneh, lucu dan menggelikan, bukan hanya bagi orang luar Jawa, tapi juga penutur aslinya.
Di antara kata-kata yang ada di atas, kata apa nih yang baru pertama kali ini kamu tahu? Atau, kamu punya kata bahasa Jawa lain yang menurut kamu nggak kalah aneh? Spill, dong.
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 8 Istilah Bahasa Jawa yang Masih Bikin Sesama Orang Jawa Salah Paham.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
