Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Serial

6 Permainan dalam Squid Game dan Realitas Susahnya Nyari Duit

Joko Sutrisno oleh Joko Sutrisno
25 September 2021
A A
6 Permainan dalam Squid Game dan Realitas Susahnya Nyari Duit terminal mojok.co

6 Permainan dalam Squid Game dan Realitas Susahnya Nyari Duit terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Squid Game digadang sebagai tontonan rasa baru dari negeri gingseng. Pasalnya, serial bergenre thriller ini mempunyai tema yang berbeda dari sebagian besar drama Korea. Tayangan yang rilis 17 September 2021 ini sukses menempati urutan pertama dari 10 daftar acara TV teratas di Netflix Amerika Serikat. Pun di Indonesia, warganet demam Squid Game, di Twitter, Instagram, TikTok semua terkena imbasnya.

Keberhasilan Squid Game tak hanya dari kekuatan para tokoh yang berakting apik, ataupun plot dan alur ceritanya, tapi juga dari penggambaran permainan yang disajikan. Berpremis tentang sekelompok orang yang mempertaruhkan nyawa dalam permainan anak-anak, demi mendapatakn uang miliaran, film ini betul-betul representasi betapa sulitnya orang dewasa nyari duit.

(((Tulisan ini mengandung spoiler, berhenti membaca sampai di sini kalau kamu nggak berkenan.)))

Berikut beberapa permainan yang disajikan dalam alur drama Squid Game ini dan pesan moral di balik permainannya.

Permainan pertama, lampu merah lampu hijau. Peserta bergerak saat boneka penjaga mengucap “lampu hijau”, dan saat kata “lampu merah” peserta harus berhenti. Permainan ini membutuhkan konsentrasi tinggi dan nggak grusa-grusu. Pun saat bekerja, kita harus punya dua poin itu, bukan? Pekerjaan apa pun butuh konsentrasi tinggi.

Perilaku nggak boleh grusa-grusu ini identik dengan petuah, “Kita harus tahu kapan saat yang tepat untuk melangkah dan kapan harus berhenti dalam bekerja.” Jangan demi mengambil cuan yang banyak semua pekerjaan yang masuk kita ambil dengan dalih nggak baik nolak rezeki. Padahal, seharusnya kita tahu batasan diri kita dan batasan waktu. Ingat, dalam sehari kita cuma punya waktu 24 jam. Kalau semua pekerjaan diambil terus, yang ada mawut, nggak kekejar deadline, capek, dan sakit. Pengin untung, eh malah buntung.

Permainan kedua, ppogi atau gulali. Peserta harus mampu memotong pola yang tercetak pada lempeng gulali dengan jarum. Butuh kesabaran dan kreativitas dalam menyelesaikannya. Realita di kehidupan nyari duit sehari-hari, kesabaran dan kreativitas sudah pasti dibutuhkan.

Sebagai contoh, kita bekerja sebagai wirausaha dengan jual tanaman. Awalnya laku keras. Namun, lama-lama seiring tren hobi bercocok tanam meluas, makin banyak pula saingan yang bergerak jual beli tanaman. Kreativitas jadi modal utama. Penjualan yang semula konvensional, mulai merambah ke daring melalui e-commerce dan berlanjut membuat akun Instagram untuk konten toko tanaman.

Baca Juga:

Saya Meninggalkan Drakor Sejak Kenal Dracin yang Ceritanya Lebih Seru

4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang “Kalah” dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar

Segala gimmick marketing dilakukan dari ngasih giveaway, gandeng influencer, sampai bikin postingan di Instagram yang nggak asal-asalan, terkonsep, terdesain, dan tertata rapi. Jualannya pun makin bersinar dan mendapatkan segmen pembeli yang kita inginkan. Kesabarannya gimana? Ya, sabar nunggu tanaman tumbuh dari pembibitan sampai siap jual, sabar ngadepin pembeli yang tabiatnya ajaib, sampai sabar buat tawar-menawar KOL yang harganya bikin ngelus dada untuk kita endorse.

Permainan ketiga, tarik tambang. Tak hanya di Korea Selatan, permainan ini juga selalu ada di setiap lomba 17 Agustusan di daerah kita. Permainan ini, selain kekuatan fisik juga butuh kekompakan dan strategi yang tepat untuk memenangkannya. Bekerja memang harus dengan fisik yang prima. Itulah sebabnya jangan pernah cengcengin teman yang isi waistbag-nya koyo, minyak gosok, vitamin, sampai tolak angin. Tak lain, itu sebagai penyokong agar fisik yang lelah kembali prima.

Kekompakan dan strategi dibutuhkan dalam pekerjaan, terlebih buat yang sudah jadi leader atau bos. Salah treatment dikit, bawahan bisa hilang simpati dan terpecah belah. Puncaknya, kita malah jadi bahan gunjingan bawahan.

Permainan keempat, main kelereng. Siapa yang saat kecil punya koleksi kelereng sampai sebanyak kaleng Khong Guan penuh? Jika iya, pasti dari kecil sudah terbiasa dengan nilai-nilai kejujuran dan individualitas. Squid Game juga menyajikan permainan ini dalam mengurangi jumlah peserta dalam ceritanya.

Berbicara nilai yang terkandung, sebenarnya antara kejujuran dan individualitas bisa jadi kontradiksi. Kadang dalam bekerja kita ingin selalu jujur. Namun, kadang kita juga perlu egois pas ngadepin rekan kerja yang emang layak disikut.

Permainan kelima, jalan di atas kaca. Ini mungkin bukan permainan tradisional atau permainan anak yang umum. Namun, bentuk permainan seperti ini sedikit mirip dengan adu ketangkasan saat outbond zaman diklat kepemimpinan di kampus. Ceritanya, di Squid Game peserta yang tersisa harus memilih pijakan dalam melangkah di jembatan kaca. Ada dua jenis kaca, kaca tebal yang tak akan pecah walau ditumpu dua orang dan kaca tipis yang akan pecah walau hanya seorang yang berpijak.

Representasi dalam nyari duit jelas tergambarkan. Bagaimana kita harus pinter-pinter cari dan memilih jalan agar pundi-pundi menggunung. Nilai ini sebenarnya masih berhubungan dengan nilai kejujuran dan individualitas yang kita dapatkan di main kelereng. Kadang kita dihadapkan dua pilihan, mau melaju ke jalan yang mana? Semua terserah kita. Tapi, pasti nggak mau, kan, kalau rezeki kita untuk keluarga dari hasil maling?

Permainan keenam, ini adalah final battle. Sesuai judul serial ini, permainan yang diadu adalah squid game atau ojingeo nori. Permainan ini sebenernya mirip dengan gobak sodor yang ada di Indonesia, ada tim penyerang dan tim bertahan. Pembedanya pada pola yang digambar di tanah. Squid game mempunyai pola lingkaran, segitiga, dan kotak yang menyerupai bentuk tubuh cumi-cumi. Puncak dari susahnya nyari duit memang menyerang atau bertahan. Saat pekerjaan mulai banyak berdatangan dan tak masuk akal, pilihannya kita narimo ing pandum dengan bertahan di kantor atau serang dengan ajuin ancaman, “Pak saya resign, ya, kalau kaya gini terus!”

Serial ini memang benar-benar bisa membolak-balikan hati. Semua permainan anak yang disuguhkan bisa menarik kita ke mesin waktu zaman masih kecil. Kondisi saat kita masih tak perlu pusing mikirin gimana biayain kehidupan sehari-hari, bayar listrik, bayar cicilan, dan bayar semua omongan tetangga.

Kalau zaman kecil dulu kita sudah terbiasa dengan permainan ini, harusnya saat dewasa kita nggak perlu kaget-kaget amat. Lantas, kita akan lebih lihai untuk memposisikan diri dalam bekerja dan nyari cuan. Bukankah harusnya seperti itu? Eh, atau emang beda, ya?

Sumber Gambar: YouTube The Swoon

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 September 2021 oleh

Tags: drama koreanetflixSquid Game
Joko Sutrisno

Joko Sutrisno

Panggil saja CHOKE, chef di mata keluarga.

ArtikelTerkait

Yang Gwan-sik dalam Drakor Netflix When Life Gives You Tangerines : Takhta Tertinggi Cowok Green Flag

Yang Gwan-sik dalam Drakor Netflix “When Life Gives You Tangerines”: Takhta Tertinggi Cowok Green Flag

11 Maret 2025
The Big 4, Film Indonesia yang Masuk Daftar Top 10 Global Netflix Terminal Mojok

The Big 4, Film Indonesia yang Masuk Daftar Top 10 Global Netflix

22 Desember 2022
5 Makhluk Mistis yang Paling Sering Nongol di Drama Korea Terminal Mojok

5 Makhluk Mistis yang Paling Sering Nongol di Drama Korea

21 April 2022
6 Drama Korea yang Bisa Bikin Mata Bengkak Kayak Raisa selain Snowdrop Terminal Mojok

6 Drama Korea yang Bisa Bikin Mata Bengkak kayak Raisa selain Snowdrop

10 April 2022
Bestie Selamanya, 6 Kisah Persahabatan Paling Solid di Drama Korea Terminal Mojok

Bestie Selamanya, 6 Kisah Persahabatan Paling Solid di Drama Korea

26 Agustus 2022
4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang "Kalah" dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar Mojok.co

4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang “Kalah” dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar

11 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Awalnya Bangga Beli Honda Scoopy, Lama-lama Malu karena Sering Bermasalah, Motor dan Pemiliknya Jadi Kelihatan Payah Mojok.co

Awalnya Bangga Beli Honda Scoopy, Lama-lama Malu karena Sering Bermasalah, Motor dan Pemiliknya Jadi Kelihatan Payah

12 Maret 2026
Honda Stylo Motornya Orang Kaya Waras yang Ogah Beli Vespa Matic Overprice, tapi Nggak Level kalau Cuma Naik BeAT dan Scoopy Mojok.co

Honda Stylo Motornya Orang Kaya yang Ogah Beli Vespa Matic Overprice, tapi Nggak Level kalau Cuma Naik BeAT atau Scoopy

13 Maret 2026
Kontrakan di Jogja itu Ribet, Mending Sewa Kos biar Nggak Ruwet, Beneran   pemilik kos

4 Kelakuan Pemilik Kos yang Bikin Jengkel Penyewanya dan Berakhir Angkat Kaki, Tak Lagi Sudi Tinggal di Situ

13 Maret 2026
Stasiun Klaten Stasiun Legendaris yang Semakin Modern

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

16 Maret 2026
Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Pahit (Unsplash)

Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Lebih Pahit dari Obat Puyer

12 Maret 2026
Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah Mojok.co

Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah

11 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar
  • Saat Terjadi Konflik di Luar Negeri, Evakuasi WNI Tak Sesederhana Asal Pulang ke Negara Asal
  • Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup
  • Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK
  • Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa
  • Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.