6 Alasan Kebumen Lebih Menarik daripada yang Terlihat di Brosur dan Dibayangkan Banyak Orang

6 Alasan Kebumen Lebih Menarik daripada yang Terlihat di Brosur dan Dibayangkan Banyak Orang Mojok.co

6 Alasan Kebumen Lebih Menarik daripada yang Terlihat di Brosur dan Dibayangkan Banyak Orang (unsplash.com)

Kamu boleh saja belum pikiran memasukkan Kebumen dalam daftar tujuan hidupmu. Tapi, setelah membaca tulisan ini, saya yakin kamu akan berpikiran sebaliknya. 

Sekarang, coba tanya ke orang-orang di luar Kebumen. Apa yang terlintas di benak mereka ketika membicarakan Kebumen? Paling jawabannya sebatas jalur lintas selatan, sate ambal, atau bahkan yang lebih parah dengan merespon, “Kebumen tuh di mana ya?”

Jawaban itu mencerminkan Kebumen yang tidak pandai mempromosikan diri. Banyak orang menganggap Kebumen sebagai daerah yang biasa saja. Padahal setelah tinggal, berkunjung, atau sekadar menghabiskan waktu lebih lama di sana, anggapan itu perlahan akan berubah.

Sebagai orang yang akrab dengan Kebumen, saya sering merasa daerah ini kurang mendapat banyak kredit. Banyak hal menarik yang luput dari perhatian hanya karena Kebumen tidak pandai mempromosikan dirinya sendiri.

Berikut tujuh alasan mengapa Kebumen sebenarnya jauh lebih menarik daripada yang dibayangkan orang luar.

#1 Kebumen punya banyak pantai dengan pemandangan yang nggak kaleng-kaleng

Ketika berbicara soal wisata pantai di Jawa Tengah, orang biasanya langsung teringat Yogyakarta atau Cilacap. Kebumen sering terlupakan, padahal garis pantainya membentang cukup panjang.

Menariknya lagi, karakter pantai di Kebumen juga beragam. Yang paling terkenal tentu saja Pantai Menganti di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah. 

Pantai ini sering disebut-sebut sebagai salah satu pantai terindah di Jawa Tengah. Dari atas bukit Karang Bata, pengunjung bisa melihat hamparan laut biru yang bertemu dengan tebing-tebing hijau. Kalau cuaca sedang cerah, pemandangannya bahkan lebih mirip pantai-pantai di luar negeri daripada gambaran umum orang tentang pantai selatan Jawa.

Tak jauh dari sana ada Pantai Karangbolong yang terkenal dengan tebing karang raksasa berlubang alami. Nama “Karangbolong” sendiri berasal dari formasi batu karang tersebut. Pantai ini bukan hanya soal laut, tetapi juga tentang bagaimana alam bisa menciptakan pemandangan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Ada pula Pantai Suwuk di Desa Tambakmulyo, Kecamatan Puring, yang mungkin lebih akrab bagi wisatawan lokal. Pantainya luas, ombak Samudra Hindia terasa gagah, dan suasananya cocok untuk menikmati sore sambil melihat garis pantai yang seolah tak berujung. 

Bagi banyak warga Kebumen, Suwuk adalah pantai yang penuh kenangan masa kecil dan tujuan wisata keluarga yang tak pernah benar-benar sepi.

Masalahnya, banyak orang luar mengira Kebumen hanya daerah transit yang dilewati saat perjalanan menuju Yogyakarta. Mereka tidak sadar bahwa jika mau sedikit berbelok dari jalan utama, pemandangan yang didapat bisa jauh lebih memuaskan daripada ekspektasi awal.

#2 Wisata alamnya lengkap, nggak cuma pantai

Salah satu kesalahan terbesar orang luar adalah menganggap Kebumen hanya punya laut.

Padahal, Kebumen juga memiliki perbukitan, waduk, air terjun, gua, hingga kawasan geopark yang cukup dikenal di kalangan pecinta alam. Kebumen adalah salah satu daerah yang menawarkan variasi lanskap yang jarang dimiliki kabupaten lain.

Dalam satu hari, seseorang bisa menikmati suasana pantai pada pagi hari, lalu berpindah ke daerah perbukitan pada sore hari tanpa harus menempuh perjalanan yang terlalu jauh.

Bagi mereka yang suka menjelajah alam, Kebumen sebenarnya menawarkan paket yang cukup lengkap.

#3 Biaya hidup bikin kantong dan mental sehat

Salah satu sumber stres warga perkotaan adalah biaya hidup yang tidak masuk akal, termasuk harga makanannya. Di Kebumen, hal itu tidak berlaku. Biaya hidup cenderung terjangkau, terlebih untuk harga makanan dan minumannya.  

Sarapan nasi rames dengan lauk lengkap di warung pinggir jalan bisa kamu dapat dengan harga di bawah Rp10.000. Semangkuk soto kikil harganya Rp7.000 saja. Mendoan panas langsung dari wajan harganya Rp2.000-an. Kamu bisa makan tiga kali sehari dengan layak tanpa harus menghitung ulang saldo dua kali sebelum pesan.

Buat pendatang dari kota dijamin bisa hidup tenang tidak waswas karena biaya hidup itu. 

#4 Kuliner Kebumen punya cita rasa yang khas dan enak

Kalau membahas kuliner Jawa Tengah, perhatian biasanya tertuju pada Solo atau Semarang. Kebumen sering tidak masuk radar.

Padahal daerah ini memiliki banyak makanan khas yang layak dicoba. Contohnya, sate ambal yang memang sudah cukup terkenal, tapi kebanyakan orang berhenti di situ dan nggak mau repot menjelajah lebih jauh.

Padahal Kebumen juga punya lanting, camilan berbentuk angka delapan dari singkong yang teksturnya renyah dan rasanya gurih oleh-oleh yang sudah eksis jauh sebelum kekinian snack kekinian muncul.

Ada nasi penggel, nasi yang dibentuk bulat dan dimakan dengan opor ayam kampung yang kuahnya kental dan dalam. 

Ada pula mendoan asli, bukan mendoan yang selama ini kamu kira. Asal tahu saja, mendoan yang beredar di banyak kota sekarang ini sebetulnya sudah jauh dari aslinya. 

Banyak yang cuma tempe biasa dicelup tepung tebal lalu digoreng, lalu diberi nama mendoan supaya terdengar autentik. Di Kebumen, mendoan yang benar itu beda sejak dari dasarnya.

Tempenya tipis, hampir setipis kertas, lalu dibalut adonan tepung bumbu yang juga tipis dan ringan. Digoreng sebentar saja, setengah matang, bagian tengahnya masih lembek dan sedikit basah mendo dalam bahasa setempat artinya memang setengah matang, bukan gosong renyah.

Hasilnya adalah gorengan yang lembut, gurih, dan hangat yang paling nikmat dimakan dengan cabai rawit hijau dan kopi hitam di pagi hari yang dingin. Nggak ada yang bisa menggantikan sensasi itu. Dan, kalau kamu sudah pernah makan mendoan versi ini, kamu akan sulit menerima versi palsunya dengan ikhlas.

#5 Warga Kebumen cenderung santai, nggak ribet

Setiap daerah tentu punya karakter masyarakat yang berbeda. Salah satu hal yang sering saya rasakan di Kebumen adalah suasananya yang lebih santai.

Bukan berarti warganya tidak produktif atau tidak punya ambisi. Hanya saja ritme hidupnya tidak secepat kota-kota besar.

Orang masih punya waktu untuk mengobrol lebih lama. Tetangga masih saling mengenal. Interaksi sosial terasa lebih alami dan tidak selalu terburu-buru.

Bagi sebagian orang, suasana seperti ini mungkin dianggap biasa. Namun bagi mereka yang terbiasa hidup di kota besar dengan jadwal padat, suasana santai seperti ini justru menjadi kemewahan.

#6 Kebumen punya sejarah yang menarik untuk dikulik

Di Kebumen ada Benteng Van Der Wijck yang merupakan peninggalan kolonial Belanda berbentuk segi delapan yang dibangun awal abad ke-19 (sekitar 1830-an) di Gombong. Keberadaannya tetap jadi penanda bahwa Kebumen pernah punya posisi strategis yang diperhitungkan penjajah sekalipun.

Tak jauh dari benteng, di Jalan Sempor Lama No. 28 Gombong, ada Marthalaar (Rumah Martha) bangunan berarsitektur Indische Empire yang masih berdiri. Ini bukti bahwa arsitektur kolonial di Gombong tidak cuma satu atau dua, tapi beberapa

Tidak berhenti sampai di situ. Kebumen adalah bagian dari wilayah yang dulu berada di bawah pengaruh Kesultanan Mataram, dan jejaknya masih terasa di nama-nama desa, tradisi, serta cara orang-orang tua di sini berbicara soal leluhur. 

Di Desa Pejagoan misalnya, ada situs yang diyakini sebagai petilasan tokoh-tokoh penting dalam sejarah Jawa pesisir selatan. Di Gombong kota kecil di barat Kebumen arsitektur peninggalan kolonial masih bisa ditemukan di ruas-ruas jalan utamanya, sebagian masih berdiri kokoh, sebagian lagi dibiarkan menua dengan tenang.

Kebumen juga dikenal sebagai salah satu daerah yang menjadi basis perlawanan pada masa Perang Diponegoro di abad ke-19. Sejarah itu nggak banyak dipromosikan, nggak ada taman temanya, nggak ada merchandise-nya, tapi dia ada, terpendam di bawah permukaan kota yang tampak biasa-biasa saja.

Mungkin Kebumen tidak akan pernah menjadi kota paling populer di Jawa Tengah. Namun, Bagi mereka yang pernah tinggal atau mampir di tempat ini, Kebumen kerap meninggalkan kesan yang mendalam. Jujur saja, menurut saya, orang-orang perlu mengenal Kebumen lebih dalam. 

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA  Desa Telagamurni Bekasi Punya Semua Hal yang Dibutuhkan Warga kecuali yang Paling Penting, Kenyamanan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya. 

Exit mobile version