Es teh adalah minuman yang sanggup menyatukan orang dari berbagai lapisan sosial. Eksistensinya tak tergoyahkan. Mulai dari yang plastikan di gerobak pinggir jalan, sampai tersuguh manis di meja restoran bintang lima.
Kesaktian campuran seduhan daun teh, gula, dan es batu dalam satu gelas memang jempolan buat mendinginkan kerongkongan. Sayangnya, belakangan ini muncul tren inovasi yang agaknya sudah kebablasan. Bukannya bikin minuman legendaris ini naik kasta, berbagai eksperimen rasa yang muncul justru lebih pantas disebut sebagai bibit trauma.
Percayalah, memaksakan bahan-bahan ajaib ke dalam gelas es teh bukanlah sebuah kemajuan teknologi pangan. Malah, hal itu jadi bentuk penistaan. Kalau sudah begini, es teh bukan lagi pemberi kesegaran, melainkan ujian kesabaran bagi siapa pun yang salah pesan.
#1 Es teh keju, sebuah gebrakan yang berujung pada krisis identitas minuman
Bagi para pelaku bisnis, menaruh cream cheese di atas es teh mungkin terlihat menjual dan cantik di mata. Sialnya, secara rasa, terobosan tersebut nggak ubahnya sebuah bencana. Saat lidah masih memproses campuran aneh sepat teh dan gurih keju, otak sudah buru-buru mengirim sinyal bahaya.
Sebab, sedetik minuman itu sudah masuk mulut, ada sensasi minyak dingin dan licin yang menempel. Belum selesai, keanehan ini lalu dibuntuti rasa es teh yang encer akibat lemak yang gagal menyatu. Bagi beberapa orang, menenggak chizu semacam ini terkesan seperti menelan kuah sisa makanan semalam.
#2 Es teh cokelat, ibarat sudah nggak jodoh tapi kita memaksa mereka bersama
Jujur saja, teh dan cokelat itu punya jalan hidup masing-masing. Saat menikmatinya terpisah, keduanya bisa memberi rasa nyaman. Namun, memaksakan perjodohan mereka dalam satu wadah adalah sebuah dosa.
Saat keduanya bersatu, yang terlahir adalah suatu anomali rasa menyedihkan. Cokelatnya jadi encer, kehilangan kemewahan. Sementara, kesederhanaan teh yang penuh wibawa jadi menguap tanpa sisa. Belum lagi, visual warna keruhnya sukses bikin siapa saja yang menyesap akan merasa terjebak dalam hubungan toksik yang nggak asik.
#3 Nggak bikin sehat, tambahan Yakult malah menyulut gejolak isi perut
Siapa saja yang punya ide mencampur susu fermentasi dan teh harus mendapat hukuman berat. Alih-alih menelurkan sensasi segar dan asam instan yang kekinian, inovasi ini malah menciptakan teror mengerikan bagi pencernaan. Tandas segelas, pemilik perut sensitif bakal merasa isi perut tawuran nggak karuan.
Hal ini menegaskan kalau nggak semua yang berlabel sehat itu pantas masuk ke dalam gelas berisi teh. Bakteri baik memang sudah semestinya dikonsumsi sendirian. Bukan malah memaksakannya berdampingan dengan cairan yang mereka sendiri nggak pernah kenalan.
#4 Pakai susu matcha cuma estetik di nama, nggak untuk dicoba
Banyak orang salah mengira, matcha itu sama dengan teh hijau. Berdasarkan asumsi ngawur itu, mungkin gagasan membuat es teh susu matcha terwujud. Padahal, keduanya terbentuk dari proses budi daya yang saling bertentangan.
Lantaran buah pikiran random tadi, matcha yang elegan jadi turun kasta. Pasalnya, rasa khas pahit nan unik dari matcha menjelma mirip rendaman rumput yang dituang susu. Urung bikin mood naik, menjajal es teh susu matcha membuat penikmatnya otomatis rindu pada es teh cekek tiga ribuan.
BACA JUGA: Trilogi Kesalahan Es Teh Solo: Kaidah Ginastel yang Dikhianati dan Bikin Esensi Teh Solo Ternoda
#5 Es teh melati memang klasik, tapi aromanya lebih mirip ramuan mistik
Es teh melati memang bukan pemain baru dalam dunia teh. Sejak era kolonial, perkawinan antara pucuk teh dan bunga melati sudah dipercaya sebagai ramuan sakti yang sanggup memberikan efek relaksasi. Tapi, harus diakui, aroma yang kelewat harum kadang berefek pusing buat mereka yang menghirupnya.
Bagi sebagian orang, adanya wangi melati dalam segelas es teh adalah bumerang. Level aromatik di luar batas toleransi berpotensi membuat sensasi eneg dari dalam perut mencuat. Ketimbang merasa lega, menyeruput es teh jenis ini justru membangun vibes mistis yang bikin peminumnya merasa sedang meneguk ramuan jampi-jampi di tempat praktik dukun.
Maka, sudah seharusnya, orang membiarkan minuman tetap pada fitrahnya. Simpel, sepat, dan sedikit pahit. Inovasi memang perlu. Tapi kalau sudah mencederai faedah utama minuman sebagai penghapus dahaga, mending sekalian saja nggak pernah ada.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA 3 Dosa Pedagang Es Teh Jumbo yang Menguntungkan Mereka tetapi Sangat Merugikan Pembeli
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
