5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

Berikut adalah beberapa profesi di mana orang memandangnya “gampang”, padahal nggak segampang itu.

Ada peribahasa Jawa yang bunyinya urip iku sawang sinawang. Yang berarti, hidup itu soal saling memandang dari kejauhan. Dan namanya memandang dari kejauhan, sudah pasti yang terlihat hanya di permukaan. Lapisan dalamnya, boroknya, grenjal-grenjulnya, tidak akan terlihat. Lalu, muncullah peribahasa lain yang nyambung dengan kondisi ini: Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau daripada rumput sendiri.

Di antara banyak hal yang sering menjadi sebagai objek sawangan, salah satu yang paling sering adalah soal profesi. Buktinya, ketika kita memandang profesi tertentu, sering terlintas dalam pikiran kita, “Ih, kok kayaknya enaknya, ya? Kerjanya gitu-gitu doang~”

Gitu-gitu doang, katanya. Apa iya?

Berikut adalah beberapa profesi di mana orang memandangnya “gampang”, padahal nggak segampang itu.

Baca juga Sales: Pekerjaan yang Tidak Pernah Dicita-Citakan, tapi Sulit untuk Ditinggalkan

Jadi kasir bukan hanya terima uang

Banyak orang mengira profesi kasir itu cuma soal menerima uang dan kasih kembalian. Sehari-hari hanya berdiri manis, senyum, scan harga, terima uang, lalu selesai. Padahal, kasir adalah garda terdepan yang menanggung semua kekacauan kecil di meja pembayaran.

Salah harga di rak? Kasir yang kena. Promo nggak masuk? Kasir lagi yang disemprot. Uang pecahan kurang untuk kembalian? Kasir juga yang harus mikir cepat. Belum lagi kalau ketemu dengan pelanggan yang tidak sabaran. Alamat yang pegel nggak cuma kaki, tapi juga hati. 

Gongnya adalah saat uang di laci kasir jumlahnya tidak sesuai. Mau kurang atau lebih, dua-duanya tetap masalah. Itu sebabnya momen ganti shift atau toko tutup, selalu jadi detik-detik yang bikin jantung deg-degan. Karena bagi mereka yang menekui profesi kasir, pantang pulang sebelum klir.

Customer Service harus siap dimaki-maki

Dari luar, profesi Customer Service (CS) kelihatannya cuma menjawab pertanyaan dan menerima keluhan pelanggan. Tapi kenyataannya, CS sering jadi tempat pelampiasan emosi. Mereka dimarahi atas kesalahan sistem, kebijakan kantor, dan harus esktra sabar tanpa boleh membalas. 

Bayangkan, yang salah siapa, yang kena getahnya siapa. Dah mirip kayak tempat sampah emosi saja CS ini. Ditambah, mau sekasar apapun omongan pelanggan, CS harus tetap menjaga nada bicaranya. Kudu tetap slay, tetap adem. Ibarat keran, aliran airnya kenceng, tapi kerannya dipaksa harus tutup. Kan snud-snud ya jadinya. 

Nah, berhubung profesi CS ini nggak hanya mengelola emosi orang lain tapi juga mengelola emosi diri sendiri, tak jarang orang-orang di balik pekerjaan CS ini jadi kena mental. Kawan saya buktinya. Dia hanya bertahan bekerja dalam hitungan bulan saja sebagai CS di sebuah maskapai penerbangan. Emang sih gajinya lumayan, tapi, stress-nya tak tertahankan.

Content Creator, profesi yang kadang harus bertarung dengan hal-hal gaib

Kelihatannya sih asyik. Cuma jeprat-jepret atau rekam sana rekam sini. Trus tinggal edit doang, lalu diposting. Selesai.

Tapi, mohon maaf nih. Tidak ada istilah “tinggal edit doang” di profesi content creator. Di balik sesuatu yang kalian bilang “tinggal edit doang itu”, ada mata yang harus nahan perih menatap layar komputer, telinga yang harus peka dengan kestabilan audio, dan otak yang terus-terusan mikir: Besok konten apa lagi, ya?

Belum mikir hal-hal gaib lainnya, seperti timing, algoritma, dan ekspektasi engagement yang kadang nggak masuk akal. Kudu tahan mental dari permintaan revisi, komentar nyinyir, DM aneh-aneh, sampai tuntutan “kok sepi?” dari atasan yang nggak mau tahu prosesnya. Reach turun sedikit, langsung dianggap nggak kerja. Gimana asam lambung nggak naik tiap hari coba?

Mengurus rumah tangga itu profesi yang bikin capek fisik dan mental

Profesi selanjutnya yang kelihatannya gampang padahal nggak segampang itu adalah mengurus rumah tangga. Bahkan boleh dibilang, mengurus rumah tangga adalah profesi yang paling sering dianggap sepele. “Kan cuma di rumah aja.” Begitu kata orang-orang. 

Padahal, pekerjaan yang tak ada habisnya adalah mengurus rumah tangga. Dari buka mata sampai mau merem, ada saja yang dipegang. Nyapu, ngepel, nyetrika, masak, ngosek WC, belum termasuk mengurus anak, pasangan, dan urusan kecil lain yang sering tak tercatat.

Sebagreg pekerjaan itulah yang kemudian rentan membuat ibu rumah tangga jadi terkuras emosinya. Gimana nggak terkuras? Hari ini beres, besok ulang lagi dari awal. Nyeseknya lagi, semua gedebag-gedebug itu dianggap sebagai suatu kewajaran yang tidak perlu diapresiasi. Nggak heran kalau pada akhirnya berujung pada depresi. 

Baca juga Kata Siapa Ijazah S2 Nggak Ada Artinya di Dunia Kerja? 5 Profesi Ini Justru Butuh Ijazah S2 sebagai Tiket Masuk ke Dunia Kerja

Tukang parkir, profesi yang bertarung dengan banyak risiko

Kalian mungkin bertanya-tanya. Kok bisa tukang parkir masuk dalam daftar profesi yang terlihat gampang padahal sebenarnya nggak segampang itu? Bukannya tukang parkir itu cuma tinggal tiup peluit sama narik jok belakang motor saja, ya?

Jadi begini. Tukang parkir jadi profesi yang tidak mudah bukan karena apa yang dikerjakannya, tapi karena risiko yang kadang harus mereka hadapi. 

Kita mulai dari yang tidak kelihatan, yaitu, risiko kesehatan yang muncul akibat kuman, virus, bakteri yang menempel di peluit yang tidak pernah dia cuci. Risiko lainnya, kena blai atau musibah yang mungkin terjadi akibat ketidakikhlasan seseorang ketika memberikan uang parkir. 

Blai-nya sih mungkin kecil, ya, seperti keselek duri pas makan ikan, jempol kaki kepentok kaki meja hingga cantengen, air habis pas BAB, dlsb. Tapi kan tetep aja bikin hidup jadi nggak enak. 

Nah, kalau risiko yang kelihatan itu, ada risiko kesrempet saat membantu menyeberangkan, dimaki kalau helm atau kendaraan hilang, hingga yang paling horror… dipalak preman setempat. Bisa-bisa, rupiah yang dia hasilkan sepanjang hari itu lenyap tanpa bekas. 

Itulah 5 profesi yang kelihatannya gimping bingit, tapi ternyata tidak segampang itu. Saya yakin di kepala kalian pasti muncul satu profesi yang menurut kalian layak banget masuk dalam daftar. Sama. Saya juga gitu. Aslinya ya pengen masukin profesi saya saat ini, guru, ke dalam daftar. 

Tapi… males, ah. Nggak asik. Nanti dikira ngeluh~

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 5 Pekerjaan Sampingan Karyawan yang Bisa Dikerjakan dari Kasur, Modalnya Receh tapi Hasilnya Bikin Senyum

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version