Salatiga sebetulnya sudah lama naik daun dan jadi salah satu favorit warga Jakarta untuk pindah. Alasannya sih klise. Katanya, kota ini sejuk, jalanan lengang, biaya hidup murah, dan lain-lain.
Kalau mau pindah ya silakan saja. Namun, izinkan saya membagikan 5 peringatan kepada warga Jakarta yang mau hengkang ke Salatiga berdasarkan pengalaman saya sendiri.
#1 Udara Salatiga terlalu dingin buat badan warga Jakarta
Salatiga berada di lereng Merbabu yang membuat suhu udaranya terbilang sejuk hingga dingin. Terutama pada malam dan dini hari.
Saya masih ingat betul ketika beberapa saudara dari Jakarta sampai di Salatiga. Sehari menghirup udara kota ini, mereka langsung pilek. Bahkan ada yang sampai demam.
Ya gimana ya, bagi warga yang terbiasa hidup dengan suhu 33 derajat Celsius, masuk ke Salatiga dengan suhu 18-23 derajat tentu bisa menjadi tantangan fisik tersendiri.
#2 minimnya transportasi umum bikin warga Jakarta kelabakan
Kalau ada satu hal yang paling sering dikeluhkan saudara dan teman-teman saya dari Jakarta saat berada di Salatiga, jawabannya adalah transportasi umum.
“Males ih di Salatiga, nggak ada KRL ke Solo atau Semarang. Jadi nggak bisa jalan-jalan,” begitu kira-kira kata kakak sepupu saya yang asli Jakarta. Keluhan itu memang benar adanya.
Di Jakarta, mau berpindah kota penyangga tinggal naik KRL. Mau ke pusat kota ada MRT. Mau keliling ibu kota ada TransJakarta. Warga ibu kota bisa menjalani aktivitas sehari-hari tanpa harus memiliki kendaraan pribadi.
Sementara itu, di Salatiga, ceritanya jauh berbeda. Transportasi umum yang paling dikenal ya angkot. Itu saja pun hanya mengantar sampai mulut gang atau jalan utama. Sisanya? Ya silahkan jalan kaki atau mencari transportasi lain seperti ojek pengkolan atau ojek online.
#3 Budaya srawung di Salatiga
Srawung sendiri sebenarnya Bahasa Jawa dari ‘bersosialisasi’. Namun di Salatiga, praktiknya tak sesederhana itu.
Ada paket komplit berupa unggah-ungguh dan ikatan komunal yang wajib diikuti. Bukan bermaksud menyebut warga Jakarta antisosial ya, tapi ritme hidup ibu kota yang serba cepat memang membentuk mereka jadi sosok individualis dan protektif terhadap ruang pribadi.
Sikap seperti itu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Sebab di sini, tetangga akan rajin menyapa, menanyakan kabar, hingga mengamati rutinitas harian kamu sebagai bentuk kepedulian. Hal yang kemungkinan besar bikin warga Jakarta berpikir, “Kok kepo banget ya?”
Saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan budaya di salah satu kota ini, ya. Poin saya adalah, perbedaan budaya dalam kehidupan bermasyarakat ini tentu bakal memaksa warga Jakarta mengeluarkan effort ekstra.
Apalagi untuk melebur ke dalam tatanan sosial yang super akrab dan kolektifnya warga Salatiga. Sebab jika tidak, gaya hidup tertutup cuma bakal membuat namamu menjadi bahan ghibah di pos ronda.
#4 Hampir nggak ada hiburan
Jakarta adalah surganya hiburan. Sebaliknya, di Salatiga, pilihan hiburannya amat sangat terbatas.
Sekali melangkah ke kafe lokal atau satu-satunya mall yang ada, daftar tempat hits yang ingin kamu datangi langsung habis tak berbekas.
Bagi warga Jakarta yang sudah terlanjur manja pada fasilitas hiburan serba ada, kesederhanaan Salatiga ini bisa sangat menyiksa.
Ya gimana, hiburan kami cuma ada angkringan, susu segar, ngopi di pinggir sawah, atau paling mentok berburu pentol di alun-alun kota.
#5 UMR Salatiga bikin prihatin warga Jakarta
Saya sepakat dengan julukan “Salatiga Kota Ternyaman untuk Pensiun”. Tapi kalau niatmu pindah ke sini untuk mengadu nasib dan mencari kerja? Ah, mending buang jauh-jauh niat lugu itu.
Lebih baik tetaplah mendekam di Jakarta. Jangan sampai romantisasi hidup tenang di kota kecil membuatmu lupa kalau isi rekening juga penting, bukan cuma asupan pemandangan hijau dan udara segar.
UMR Salatiga itu tergolong mungil. Saudara saya dari Jakarta aja kaget saat denger nilainya. Di sini, gaji yang umum cuma 2 jutaan. Untuk yang terbiasa menerima di atas 5 juta, pasti bakal terasa berat.
Itulah 5 peringatan dari saya. Nggak ada yang melarang kamu pindah ke sini. Tapi, pertimbangkan dulu semuanya. Jangan menyesal kemudian, ya.
Penulis: M. Rafikhansa Dzaky Saputra
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
