Saya pindah dari Ciamis ke Pacitan sekitar umur 3 atau 4 tahun. Ingatan paling membekas soal Pacitan tidak jauh-jauh dari urusan perut. Saya ingat betul, berbagai macam makanan kuliner Pacitan menggunakan bahan dasar ketela pohon atau singkong.
Mungkin, Pacitan dengan kondisi geografis berupa pegunungan karst yang tandus jadi salah satu alasannya. Menanam padi di tanah sekering ini jelas sebuah tantangan yang membagongkan. Itu mengapa, warga sini lebih banyak mengandalkan singkong sebagai bahan makannya.
Bagi anak sekecil saya waktu itu, realitas geografi ini sukses memberikan culture shock dini. Saat anak-anak di daerah lain merengek minta bubur ayam instan atau sereal bermerek, saya malah dapat kuliner Pacitan berbahan singkong yang wujudnya sangat aneh di mata bocah.
Awalnya saya sempat kaget dan menolak. Namun, pepatah witing tresno jalaran soko kuliner itu nyata. Bertahun-tahun tumbuh besar di sini, makanan yang awalnya terlihat “tidak lazim” di pasaran luar ini pun justru berubah jadi sajian yang rasanya enak.
Berikut adalah sebagian kecil menu “ajaib” yang menemani proses pendewasaan lidah saya di Pacitan. Jika ada warga asli, pasti ada tambahan referensi yang lebih beragam.
#1 Gatot yang bentuknya tidak meyakinkan, tapi rasanya enak
Waktu umur 4 tahun, melihat gatot di meja makan adalah sebuah ujian mental yang berat. Dulu, almarhumah nenek saya biasa menjemurnya di pelataran rumah, bahkan wujudnya sampai ditumbuhi bulu-bulu jamur. Setelahnya, wuju gatot kemudian berubah hitam, kenyal, dan sekilas terlihat seperti makanan gagal akibat proses fermentasi di bawah terik matahari karst.
Bagi anak kecil, penampilannya jelas sangat mengintimidasi. Walau begitu, gigi saya berani mengunyah ketela hitam yang dikukus dan ditaburi kelapa parut itu, prasangka saya langsung runtuh. Rasa manis alami yang legit berpadu sempurna dengan gurihnya kelapa. Gatot mengajarkan saya sejak dini arti dari don’t judge a book by its cover. Sebab, soal rasa, ia tidak pernah gagal total.
#2 Nasi krawu tiwul, percampuran antara kuliner Pacitan dan Gresik
Semakin dewasa, saya baru tahu kalau nasi krawu itu warisan kuliner khas Gresik yang menggunakan nasi putih hangat. Namun, di Pacitan, saya dibesarkan oleh modifikasi lokal yang radikal: nasi putihnya diganti tiwul, bahkan kadang dicampur. Menu ini biasanya dibuatkan di pagi hari sebagai ritual sarapan dadakan sebelum saya berangkat sekolah.
Manis gurihnya serundeng atau parutan kelapa dan suwiran lauk bersanding dengan karakter tiwul yang padat. Sebuah kombinasi yang dianggap tidak lazim di pasaran luar, tapi buat anak Pacitan seperti saya, ini adalah menu sarapan juara dunia.
#3 Nasi goreng tiwul, kuliner pacitan yang unik
Di saat TV era 2000-an gencar mengiklankan nasi goreng beras putih instan, dapur di Pacitan punya jalurnya sendiri, tiwul. Singkong kering yang ditumbuk lalu dikukus ini dilempar ke wajan panas bersama bumbu tradisional. Momen yang paling berkesan adalah jika almarhum ayah saya yang memasak. Gagang cabainya sengaja tidak pernah terbuang sia-sia, melainkan ikut diulek bersama bawang merah dan bawang putih.
Teksturnya yang cenderung grewal (butiran kecil kasar) dan agak kenyal justru bikin bumbu bawang dan sengatan cabainya meresap sampai ke inti sel tiwul. Ini adalah menu survival masa lalu yang menemani masa tumbuh kembang saya menjadi hidangan yang selalu bikin rindu, bahkan sampai sekarang.
#4 Soto Pacitan dengan kuah bening yang segar
Jika lambung sudah begah oleh karbohidrat berat dari ketela, penawar terbaik yang selalu saya cari sebagai opsi penyegaran adalah soto bening. Berbeda dengan soto Jawa Timuran yang umumnya kuning pekat karena kunyit atau kental karena koya, soto di Pacitan kuahnya bening transparan dari kaldu ayam kampung asli. Ringan dan segar!
Uniknya, soto ini wajib ditaburi kacang tanah goreng, berdampingan taburan dengan seledri dan bawang goreng tentunya. Salah satu tempat yang cukup legendaris adalah Soto Marem Ibu Maryati di Kebonagung. Kuliner legendaris ini sudah berdiri sejak tahun 1980-an, bahkan jauh lebih tua dari umur saya sekarang.
Sensasi kriuk gurih kacang di tengah seruputan kuah segar itulah yang membuat lidah saya menari, apalagi kalau ada sambal pedas.
#5 Sego Gobyos, ujian nyali kuliner malam yang bikin mandi keringat
Sego gobyos adalah kuliner malam Pacitan yang terdengar aneh, tapi sangat masuk dari segi rasa. Sesuai namanya, “gobyos” dalam bahasa Jawa berarti mandi keringat. Kuliner ini merupakan sepiring nasi yang bercampur dengan sayur daun kenikir, tidak lupa guyuran kuah santan super pedas dari cabai rawit setan.
Bicara soal tempatnya, kiblat utama kuliner malam ini adalah Warung Makan Sego Gobyos legendaris yang terletak di Perempatan Penceng, Krajan, Pacitan. Tempat ini buka dari jam 4 sore sampai jam 4 pagi.
Pilihan lauk pendamping yang terasji dalam panci-panci berjejer sangat beragam. Ada babat, telur glundung, opor ayam, paru manis-pedas, hingga ikan laut. Bagi saya yang tumbuh besar di sini, sego gobyos adalah rekomendasi penutup malam yang sempurna. Ini sekaligus pembuktian bahwa lidah pendatang pun bisa takluk oleh sengatan cabai lokal.
Tumbuh besar di Pacitan menyadarkan saya, kemewahan kuliner tidak melulu soal seberapa modern makanan ala mal-mal di kota besar. Dari tanah karst yang tandus, masyarakat Pacitan berhasil membuktikan bahwa bahan pangan sederhana seperti ketela mampu bertransformasi menjadi harmoni rasa yang mewah.
Makanan-makanan ini mungkin terlihat tidak lazim bagi orang luar. Namun, bagi anak pendatang yang sudah menghabiskan sebagian besar hidupnya di sini, kuliner inilah yang membentuk identitas saya. Makanan yang menegaskan bahwa sejauh apa pun saya pergi, lambung saya sudah sepenuhnya menjadi milik Pacitan.
Penulis: Purwoko Ajie
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 5 hal yang wajib diketahui turis sebelum berwisata malam ke Simpang Lima Semarang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.