Alun-alun Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang banyak bersolek. Ikon Kota Atlas tersebut kini sudah punya wajah baru yang lebih ramah keluarga dan tertata. Jauh berbeda dengan citra buruk beberapa dasawarsa lalu, saat masih bertebaran tenda teh poci dan praktek ciblek alias prostitusi di balik keremangan malam.
Di balik gemerlap lampu warna-warni dan hilir mudik kendaraan di jantung kota, kawasan ini menjelma menjadi destinasi favorit wisatawan yang ingin menikmati denyut malam Semarang. Namun, menjelajahi ruang publik seluas ini saat petang, tidak bisa cuma bermodal nekat. Ada aturan main tak tertulis yang patut dipahami agar agendanya berakhir manis tanpa drama.
#1 Jangan asal parkir di Simpang Lima Semarang
Simpang Lima Semarang adalah pusat lalu lintas yang sangat padat. Terutama saat malam akhir pekan. Makanya, hindari turun atau memarkir kendaraan sembarangan di bahu jalan. Kecuali, rela kena derek atau niat memicu kemacetan yang menuai klakson panjang.
Jalan keluarnya, manfaatkan kantong parkir resmi di Gajah Mada Plaza. Pilihan titik parkir ini paling masuk akal ketimbang masuk mall atau parkir depan Masjid Baiturrahman. Soalnya, sistemnya lebih tertata, mudah diakses, sangat luas, resmi, dan pastinya jauh lebih aman.
#2 Waspada kuliner, bukan cuma soal getok harga tapi juga karakter rasa
Bicara soal kuliner malam di Simpang Lima Semarang, ancaman terbesarnya sebenarnya bukan cuma kebiasaan buruk getok harga oleh pedagang nakal. Ada hal krusial lain yang wajib diwaspadai para pelancong, yakni masalah karakter dan kualitas rasa. Pasalnya, Simpang Lima memang dihuni oleh deretan pedagang kuliner yang melimpah, tapi tidak semuanya punya standar rasa dan kualitas oke.
Kalau mau cari aman, kuncinya sederhana. Sebaiknya, carilah tempat yang memang punya reputasi jelas atau ramai dikunjungi oleh warga lokal, bukan sekadar warung yang paling terang lampunya di pinggir jalan. Malah, tempat makan yang benar-benar legendaris biasanya justru berada agak sedikit masuk ke pinggiran gang ketimbang berjejer mentereng di seputaran lapangan.
#3 Selalu sediakan uang tunai dan pecahan kecil saat main ke Simpang Lima Semarang
Semarang memang ibu kota provinsi, tapi kenyataannya belum semua usaha kecil di lapangan menyediakan fasilitas pembayaran nontunai. Fakta ini terjadi pula di tengah geliat perekonomian malam di Lapangan Simpang Lima itu sendiri.
Penjual sektor informal, khususnya pedagang yang menjajakan mainan anak, masih sangat mengandalkan pembayaran tunai. Menyiapkan uang tunai dengan pecahan kecil hingga sepuluh ribuan adalah jalan keselamatan. Selain mempercepat transaksi, cara ini turut membantu para pedagang lokal tanpa perlu bikin mereka pusing mencari kembalian.
#4 Naik mobil hias jauh worth-it ketimbang sewa sepeda listrik
Taktik ini wajib dicatat baik-baik, terutama buat pelancong yang datang rombongan. Sewa mobil hias listrik berkisar di harga Rp50.000 untuk satu putaran penuh mengelilingi lapangan. Kelihatannya agak mahal di awal. Tapi ingat, satu unit mobil kelap-kelip ini sanggup diisi sampai enam orang dewasa sekaligus. Kalau dihitung-hitung per kepala, jatuhnya murah.
Sementara, harga sewa sepeda listrik berada di angka Rp20.000 per putaran. Masalahnya, kapasitasnya sangat terbatas dan maksimal cuma bisa dinaiki dua orang. Selain lebih boros kalau diakumulasikan buat satu rombongan, naik sepeda listrik sendirian atau berdua saja rasanya kurang seru. Jelas kalah berkesan dibanding tertawa bersama satu rombongan di atas mobil hias yang mirip lampu disko berjalan.
#5 Bawa tikar dan bekal makanan sendiri adalah jalan ninja paling paripurna
Kawasan rumput di tengah Simpang Lima itu pada dasarnya adalah spot piknik malam gratis yang sangat luas. Namun, pilihan tempat duduknya tak banyak. Memang ada bangku taman, tapi hanya muat dua orang dan letaknya saling berjauhan.
Alternatif lainnya adalah lesehan di tikar milik pedagang. Konsekuensinya, pengunjung wajib memesan makanan atau minuman di lapak mereka. Padahal, menu yang dijajakan para pedagang lesehan ini tergolong sangat terbatas. Rata-rata cuma seputar minuman sachet seduh dan mi instan cup.
Solusinya, bawa tikar lipat dan bekal makanan sendiri. Selain hemat, para pelancong juga bebas memilih titik lesehan yang paling strategis di tengah lapangan. Pun, urusan perut juga jauh lebih terjamin dan sesuai selera tanpa harus bergantung pada menu ala kadarnya di lokasi.
Menikmati malam di Simpang Lima Semarang itu perkara kejelian membaca situasi lapangan. Dengan sedikit persiapan, liburan di pusat Kota Atlas ini bakal terasa jauh lebih berkesan. Pulangnya pun dijamin membawa indah kenangan, bukan penyesalan.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Kapok naik bus Nusantara Semarang-Jogja karena berakhir rusak dan dioper ke bus tua.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.