#3 Karena berada di dataran tinggi, Malang jadi bebas banjir
Beberapa bulan lalu, saya pernah menulis soal banjir di Malang. Di awal tulisan, saya membukanya dengan anggapan bahwa ada masanya, Malang dan banjir itu seperti dua kutub magnet yang sama. Nggak bisa menyatu. Logikanya sederhana, daerah ini berada di dataran tinggi, dan kayaknya nggak mungkin banjir. Ternyata waktu membuktikan bahwa saya keliru. Daerah ini tetap banjir.
Banjir sudah seperti agenda tahunan biasanya di akhir tahun. Sedihnya, makin tahun, banjirnya makin parah. Banjir di akhir 2025 kemarin bahkan jadi salah satu banjir terparah di Malang dalam 5 tahun terakhir. Sialnya lagi, pihak Pemkot agak lemot dalam menangani, seakan nggak serius mengurus masalah banjir. Jadinya, ya masyarakat yang jadi korban yang sengsara.
Itu mengapa, saya kadang suka risih kalau masih ada yang bilang bahwa Kota Apel itu lebih bebas banjir hanya karena berada di dataran tinggi. Nggak! Daerah ini tetap saja kena banjir meskipun ada di dataran tinggi. Bahkan tetangganya, Batu, yang letaknya lebih tinggi, juga beberapa kali kena banjir, kok.
#4 Biaya hidup murah
Sebenarnya, anggapan bahwa biaya hidup di Malang itu murah nggak sepenuhnya keliru. Iya, biaya hidup memang murah, apalagi kalau dibandingkan dengan Jakarta atau Surabaya. Bahkan, dibandingkan dengan Jogja, dengan menyertakan variabel UMR, biaya hidup di Malang jatuhnya lebih murah. UMR lebih tinggi, biaya hidup mirip-mirip.
Tapi, bukan berarti kita langsung bisa menyatakan bahwa biaya hidup di Malang itu murah. Nggak bisa. Kenyataannya berkata sebaliknya. Biaya hidup kini makin mahal, dan makin nggak ngotak. Kita nggak usah ngomong harga tanah yang makin melambung tinggi, deh. Kita ngomongin harga kopi, harga makanan, atau harga sewa tempat tinggal (kos dan kontrakan) makin lama makin tinggi. Kenaikan harganya ngawur.
Harga kopi dan makan seporsi rata-rata sudah Rp20.000 ke atas. Harga sewa kos standar di Malang, rata-rata sudah di atas Rp700.000 per bulan. Sedangkan harga sewa kontrakan yang standar, yang biasa, ada di rata-rata Rp17 juta per tahun. Makin mahal, kan?
#5 Cocok buat menghabiskan waktu tua
Setelah tahu bahwa Malang itu makin nggak aman dan nyaman, punyan ancaman banjir tahunan, hingga daerah yang makin padat dan makin mahal, apakah kalian masih menganggap daerah ini cocok untuk pensiun? Menghabiskan waktu tua? Yakin? Karena makin ke sini, Malang sebagai tempat yang cocok untuk menghabiskan waktu tua itu omong kosong! Daerah ini nggak cocok buat menghabiskan waktu tua.
Itulah Malang dan beberapa “kebohongan” tentangnya. Sayangnya, hal-hal ini masih dipercayai banyak orang, dan sebagai orang Malang, kayaknya saya perlu meluruskan. Apakah nanti bakal diterima dan dipercaya, ya terserah aja, sih.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Alasan Orang Surabaya seperti Saya Ogah Liburan ke Malang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















