Kebanyakan orang hanya mengingat sate ambal ketika membicarakan kuliner Kebumen. Seolah-olah kabupaten di pesisir selatan Jawa Tengah ini cuma punya sate dengan bumbu tempe encer yang rasanya sulit ditiru itu.
Padahal, bagi kami yang lahir dan besar di Kebumen lalu terpaksa merantau demi kuliah atau mencari pekerjaan, ada banyak hal lain yang diam-diam bikin dada sesak setiap kali pulang ke kos setelah liburan usai.
Lucunya, rasa rindu itu sering baru muncul ketika kita sudah tinggal di kota besar. Dulu, waktu masih tinggal di Kebumen, semuanya terasa biasa saja. Selain Sate Ambal, inilah tujuh hal yang paling sering dirindukan perantau asal Kebumen.
#1 Pantai Kebumen yang nggak selalu ramai demi konten
Kebumen punya deretan pantai yang cantik. Mulai dari Menganti, Karangbolong, Surumanis, Pecaron, hingga Suwuk. Semuanya punya karakter sendiri.
Yang paling saya rindukan justru suasananya. Banyak pantai di Kebumen masih terasa sebagai tempat menikmati laut, bukan sekadar studio foto raksasa. Orang datang untuk duduk, menikmati angin, ngobrol, atau sekadar melihat ombak menghantam karang.
Berbeda dengan beberapa destinasi wisata yang sekarang lebih sibuk mengejar spot Instagram daripada pengalaman menikmati alam.
#2 Orang-orang yang masih sempat menyapa
Di kota besar, bertetangga bertahun-tahun belum tentu saling mengenal. Bahkan, naik lift pun lebih sering sama-sama menatap ponsel daripada saling menyapa.
Sebaliknya, di Kebumen, berjalan beberapa ratus meter saja bisa membuat kita berhenti berkali-kali karena bertemu tetangga, saudara jauh, teman sekolah, atau kenalan orang tua.
Memang kadang melelahkan karena setiap obrolan hampir pasti berakhir dengan pertanyaan, “Sekarang kerja di mana?” atau “Kapan nikah?” Tetapi setelah lama merantau, ternyata pertanyaan itu jauh lebih hangat daripada hidup di lingkungan yang bahkan tidak tahu nama tetangganya sendiri.
#3 Ritme hidup Kebumen yang nggak bikin napas pendek
Merantau membuat saya belajar satu hal, hidup cepat ternyata melelahkan. Bangun pagi diburu jam masuk kerja, pulang malam karena lembur, akhir pekan habis untuk mencuci baju dan tidur. Siklus itu berulang tanpa jeda.
Di Kebumen, hidup memang tidak semewah kota besar, tetapi ritmenya lebih bersahabat. Orang masih punya waktu duduk di teras, ngobrol selepas Magrib, atau sekadar menikmati teh hangat tanpa merasa bersalah karena “tidak produktif”.
Ternyata ketenangan juga kebutuhan.
#4 Harga makanan yang masih masuk akal
Perantau pasti pernah mengalami fase menghitung isi dompet sebelum memesan makan siang. Di kota besar, sekali makan bisa menghabiskan uang yang kalau dipakai di Kebumen mungkin sudah cukup untuk makan dua sampai tiga kali.
Itu mengapa, setiap pulang kampung selalu ada kebahagiaan sederhana. Makan enak tanpa harus melihat saldo rekening terlebih dahulu. Bukan karena pelit. Hanya saja, dompet memang ikut bahagia ketika berada di Kebumen.
#5 Perasaan selalu punya tempat untuk pulang
Inilah yang paling sulit dijelaskan. Merantau memang mengajarkan banyak hal. Kita belajar mandiri, belajar menghadapi tekanan, dan belajar bahwa hidup tidak selalu sesuai rencana.
Akan tetapi, sejauh apa pun kaki melangkah, selalu ada rasa lega ketika melihat papan bertuliskan “Selamat Datang di Kabupaten Kebumen”. Rasanya seperti beban yang selama ini dipikul pelan-pelan turun dari bahu.
Kebumen mungkin bukan kota dengan gedung pencakar langit. Bukan pula pusat industri atau kota yang selalu masuk daftar destinasi wisata paling populer.
Akan tetapi, Kebumen punya sesuatu yang tidak semua kota miliki, kemampuan membuat orang ingin pulang.
Barangkali itulah mengapa banyak perantau asal Kebumen rela menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk menghabiskan dua atau tiga hari di rumah. Bukan karena di sana semuanya sempurna. Justru karena mereka tahu, tidak ada tempat yang benar-benar bisa menggantikan kampung halaman.
Sate ambal, kuliner Kebumen memang selalu berhasil mengobati rindu. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, yang paling dirindukan bukanlah rasa bumbu tempenya. Melainkan semua hal sederhana yang selama ini dianggap biasa.
Mungkin memang begitu cara kampung halaman bekerja. Ia tidak pernah terlihat istimewa ketika kita masih tinggal di dalamnya. Namun, begitu kita pergi terlalu jauh, kita baru sadar bahwa sebagian diri kita ternyata masih tertinggal di sana.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
