Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen saat merantau ke kota

Alifia Putri Nur Rochmah oleh Alifia Putri Nur Rochmah
7 Agustus 2026
A A
5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen seperti saya saat merantau ke kota Mojok.co

5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen seperti saya saat merantau ke kota (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kebanyakan orang hanya mengingat sate ambal ketika membicarakan kuliner Kebumen. Seolah-olah kabupaten di pesisir selatan Jawa Tengah ini cuma punya sate dengan bumbu tempe encer yang rasanya sulit ditiru itu. 

Padahal, bagi kami yang lahir dan besar di Kebumen lalu terpaksa merantau demi kuliah atau mencari pekerjaan, ada banyak hal lain yang diam-diam bikin dada sesak setiap kali pulang ke kos setelah liburan usai.

Lucunya, rasa rindu itu sering baru muncul ketika kita sudah tinggal di kota besar. Dulu, waktu masih tinggal di Kebumen, semuanya terasa biasa saja. Selain Sate Ambal, inilah tujuh hal yang paling sering dirindukan perantau asal Kebumen.

#1 Pantai Kebumen yang nggak selalu ramai demi konten

Kebumen punya deretan pantai yang cantik. Mulai dari Menganti, Karangbolong, Surumanis, Pecaron, hingga Suwuk. Semuanya punya karakter sendiri.

Yang paling saya rindukan justru suasananya. Banyak pantai di Kebumen masih terasa sebagai tempat menikmati laut, bukan sekadar studio foto raksasa. Orang datang untuk duduk, menikmati angin, ngobrol, atau sekadar melihat ombak menghantam karang.

Berbeda dengan beberapa destinasi wisata yang sekarang lebih sibuk mengejar spot Instagram daripada pengalaman menikmati alam.

#2 Orang-orang yang masih sempat menyapa

Di kota besar, bertetangga bertahun-tahun belum tentu saling mengenal. Bahkan, naik lift pun lebih sering sama-sama menatap ponsel daripada saling menyapa.

Sebaliknya, di Kebumen, berjalan beberapa ratus meter saja bisa membuat kita berhenti berkali-kali karena bertemu tetangga, saudara jauh, teman sekolah, atau kenalan orang tua.

Baca Juga:

Waktunya Kebumen berhenti jual diri sebagai “kota yang murah”, harus mulai berani punya harga diri!

Kebumen yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Kini Diam-Diam “Naik Kelas” Jadi Makin Diperhitungkan

Memang kadang melelahkan karena setiap obrolan hampir pasti berakhir dengan pertanyaan, “Sekarang kerja di mana?” atau “Kapan nikah?” Tetapi setelah lama merantau, ternyata pertanyaan itu jauh lebih hangat daripada hidup di lingkungan yang bahkan tidak tahu nama tetangganya sendiri.

#3 Ritme hidup Kebumen yang nggak bikin napas pendek

Merantau membuat saya belajar satu hal, hidup cepat ternyata melelahkan. Bangun pagi diburu jam masuk kerja, pulang malam karena lembur, akhir pekan habis untuk mencuci baju dan tidur. Siklus itu berulang tanpa jeda.

Di Kebumen, hidup memang tidak semewah kota besar, tetapi ritmenya lebih bersahabat. Orang masih punya waktu duduk di teras, ngobrol selepas Magrib, atau sekadar menikmati teh hangat tanpa merasa bersalah karena “tidak produktif”.

Ternyata ketenangan juga kebutuhan.

#4 Harga makanan yang masih masuk akal

Perantau pasti pernah mengalami fase menghitung isi dompet sebelum memesan makan siang. Di kota besar, sekali makan bisa menghabiskan uang yang kalau dipakai di Kebumen mungkin sudah cukup untuk makan dua sampai tiga kali. 

Itu mengapa, setiap pulang kampung selalu ada kebahagiaan sederhana. Makan enak tanpa harus melihat saldo rekening terlebih dahulu. Bukan karena pelit. Hanya saja, dompet memang ikut bahagia ketika berada di Kebumen.

#5 Perasaan selalu punya tempat untuk pulang

Inilah yang paling sulit dijelaskan. Merantau memang mengajarkan banyak hal. Kita belajar mandiri, belajar menghadapi tekanan, dan belajar bahwa hidup tidak selalu sesuai rencana.

Akan tetapi, sejauh apa pun kaki melangkah, selalu ada rasa lega ketika melihat papan bertuliskan “Selamat Datang di Kabupaten Kebumen”. Rasanya seperti beban yang selama ini dipikul pelan-pelan turun dari bahu.

Kebumen mungkin bukan kota dengan gedung pencakar langit. Bukan pula pusat industri atau kota yang selalu masuk daftar destinasi wisata paling populer.

Akan tetapi, Kebumen punya sesuatu yang tidak semua kota miliki, kemampuan membuat orang ingin pulang.

Barangkali itulah mengapa banyak perantau asal Kebumen rela menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk menghabiskan dua atau tiga hari di rumah. Bukan karena di sana semuanya sempurna. Justru karena mereka tahu, tidak ada tempat yang benar-benar bisa menggantikan kampung halaman.

Sate ambal, kuliner Kebumen memang selalu berhasil mengobati rindu. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, yang paling dirindukan bukanlah rasa bumbu tempenya. Melainkan semua hal sederhana yang selama ini dianggap biasa.

Mungkin memang begitu cara kampung halaman bekerja. Ia tidak pernah terlihat istimewa ketika kita masih tinggal di dalamnya. Namun, begitu kita pergi terlalu jauh, kita baru sadar bahwa sebagian diri kita ternyata masih tertinggal di sana.

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Sisi Menyedihkan Kebumen yang Jarang Diceritakan Warga Lokal: dari Lapangan Kerja yang Itu Aja sampai Ruang Publik yang Stagnan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya. 

Terakhir diperbarui pada 6 Agustus 2026 oleh

Tags: Kebumenmerantauorang kebumenperantauperantauan
Alifia Putri Nur Rochmah

Alifia Putri Nur Rochmah

Penulis kelahiran Kebumen. Anak Ekonomi Pembangunan UNS yang lebih tertarik pada cerita di balik data. Berpengalaman sebagai content writer dan content creator, gemar berkelana ke tempat-tempat baru, dan menulis tentang apa saja dari yang serius sampai yang receh.

ArtikelTerkait

5 Hal yang Bikin Saya Betah Jadi Anak Rantau di Malang, Mahasiswa Pasti Relate Mojok.co

5 Hal yang Bikin Saya Betah Jadi Anak Rantau di Malang, Mahasiswa Pasti Relate 

25 Maret 2024
Kabupaten Pasuruan, Kabupaten yang Sibuk, Serba Ada, dan Cukup Humble, tapi Amat Monoton

4 Hal yang Bikin Perantau Nggak Nyaman Tinggal di Pasuruan, Kabupaten Industri yang Harusnya Nyaman untuk Pendatang

21 Juli 2025
67 kosakata bahasa madura

Duka di Balik Gemerlap Toko Kelontong Madura

5 Februari 2023
6 Mendoan Paling Enak di Barlingmascakeb

6 Mendoan Paling Enak di Barlingmascakeb

7 Januari 2022
Tulangan Sidoarjo: Daerah Perbatasan yang Nyaman, Cocok Jadi Tempat Pensiunan Mojok.co

Sidoarjo: Surga untuk Pebisnis, Neraka bagi Perantau. Pengeluaran Selangit, Pemasukan Sulit!

20 Maret 2024
Bertahun-tahun Merantau di Kediri Bikin Saya Sadar, Nggak Semua Orang Cocok Hidup di Daerah Ini Mojok.co surabaya

Bertahun-tahun Merantau di Kediri Bikin Saya Sadar, Nggak Semua Orang Bisa Cocok Hidup di Daerah Ini

19 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

6 Agustus 2026
Berhasil kurangi medsos dan hapus pesan, seporsi kemenangan yang meringankan hidup saya Mojok.co

Berhasil kurangi medsos dan hapus pesan, seporsi kemenangan yang meringankan hidup saya

1 Agustus 2026
Kartu kredit, contoh terbaik bahwa dunia hanya ramah sama orang kaya

Kartu kredit, contoh terbaik bahwa dunia hanya ramah sama orang kaya

3 Agustus 2026
Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu Mojok.co

Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu

2 Agustus 2026
Nonton timnas Indonesia di Youtube Reza Arap memang aneh (Wikimedia Commons)

Nonton timnas Indonesia di Youtube Reza Arap memang aneh, komentator nggak jelas, tapi jangan menghujat dulu

1 Agustus 2026
Jalan Alternatif Jogjakarta-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

Jalan alternatif Jogja-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

2 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.