Palu bukan kota yang jahat. Saya perlu menegaskan itu sejak awal sebelum tulisan ini disalahpahami sebagai manifesto kebencian terhadap ibu kota Sulawesi Tengah. Palu punya pantai yang cantik, langit yang biru, dan orang-orangnya ramah. Terlalu ramah, malah, sampai kadang kamu nggak tahu batas antara sopan dan kepo.
Tapi justru di situlah masalahnya. Palu kota yang cukup untuk membuat kamu betah sebentar, tapi punya beberapa hal yang—kalau kamu perantau dan berpikir panjang—bikin kamu mengernyitkan dahi sambil buka-buka Google Maps dan mencari kota lain.
Sebelum saya mulai mengeluh, izinkan saya jujur dulu soal hal-hal yang membuat Palu susah dibenci sepenuhnya.
Biaya hidup di Palu itu jinak. Kos layak dengan harga yang tidak mencekik, harga makan di warung lokal yang masih bisa bikin kamu senang, dan tidak ada tekanan sosial untuk hidup “kelihatan mahal” seperti di kota-kota besar. Kamu bisa hidup dengan tenang tanpa harus lembur demi nutup pengeluaran.
Alamnya tidak main-main. Teluk Palu itu indah dengan cara yang tidak perlu filter Instagram. Kalau kamu tipe yang butuh pemandangan untuk menyelamatkan mood setelah hari kerja yang melelahkan, Palu punya itu. Belum lagi Lore Lindu yang tidak jauh, kalau kamu tipe yang suka kabur ke alam di akhir pekan. Dan orang-orangnya—meski butuh waktu untuk benar-benar masuk ke lingkaran mereka—kalau sudah masuk, mereka sungguh-sungguh. Bukan teman yang hanya ada saat senang.
Itu yang membuat Palu tidak bisa langsung dicoret dari daftar. Tapi tetap saja, ada beberapa hal yang bikin perantau mikir dua kali sebelum memutuskan lama-lama di sini.
Trans Palu sudah ada, tapi motor tetap terasa wajib
Saya harus jujur dulu di sini supaya tidak dituduh menyebar hoaks: Palu sudah punya Trans Palu. Bahkan awal 2026 ini, Pemkot Palu baru saja meresmikan rute-rute terbaru bus tersebut, dengan cakupan yang diklaim menjangkau kawasan permukiman, pusat pemerintahan, fasilitas pendidikan, hingga pusat ekonomi kota. Bagus. Ini perkembangan yang nyata dan perlu diapresiasi.
Tapi, dan ini “tapi” yang besar—bagi perantau baru yang belum hafal medan, Trans Palu masih terasa seperti teman yang baru kenal: belum bisa sepenuhnya diandalkan. Rute bus memang ada, tapi tidak semua titik terjangkau, dan frekuensi keberangkatan belum setaktis TransJakarta atau Trans Semarang yang sudah bertahun-tahun beroperasi.
Kalau kamu tinggal di jalur yang dilalui Trans Palu, beruntunglah. Tapi kalau kos-mu sedikit melenceng dari rute, kamu tetap akan bernegosiasi dengan ojek online—yang coverage-nya di beberapa titik pinggiran juga tidak bisa diandalkan seratus persen. Alhasil, motor di Palu bukan lagi satu-satunya pilihan seperti dulu, tapi tetap terasa seperti pilihan paling aman. Perantau yang datang tanpa kendaraan pribadi masih perlu ekstra sabar dan ekstra riset soal rute sebelum bisa benar-benar santai soal mobilitas harian.
Cuaca panas yang bukan main-main
Palu secara geografis dikepit pegunungan dan berada di lembah. Kombinasi ini menghasilkan sesuatu yang bisa kamu rasakan langsung begitu turun dari pesawat: panas yang menghujam. Palu adalah salah satu kota terpanas di Indonesia, bukan berdasarkan drama, tapi berdasarkan data. Suhu bisa mencapai 36-38 derajat Celsius di siang hari, dan angin kencang yang jadi ciri khas kota ini bukannya mendinginkan—malah terasa seperti kamu berdiri di depan pengering rambut raksasa.
Bagi perantau dari Jawa yang terbiasa dengan hawa sejuk Malang atau Bandung, atau bahkan dari daerah pantai sekalipun, panas Palu itu berbeda level. Bukan cuma panas biasa. Ini panas yang bikin kamu minum air 3 liter sehari tapi tetap haus, panas yang bikin baju kerja kamu basah sebelum sampai di kantor, panas yang pelan-pelan menggerus semangat merantaumu satu tetes keringat demi satu tetes keringat.
Satu-satunya hiburan dari panas ini: sore hari di tepi Teluk Palu. Anginnya berubah jadi ramah, dan langitnya sering oranye dengan cara yang terasa tidak adil. Terlalu indah untuk kota yang seharian membuat kamu tersiksa.
Pilihan hiburan dan pusat perbelanjaan yang terbatas
Setelah seminggu kerja keras, wajar kalau perantau butuh tempat untuk sekadar healing. Nonton film, jalan-jalan ke mall, atau duduk di kafe yang estetik sambil pura-pura produktif. Di Palu, pilihan untuk itu tidak sepanjang yang kamu bayangkan. Mall besar yang representatif baru ada satu dua, dan pilihan brand-nya tidak sekaya kota metropolitan.
Bioskop ada, tapi jumlahnya terbatas dan film yang tayang kadang sudah ketinggalan beberapa minggu dari kota lain. Kafe? Ada, dan beberapa cukup bagus. Tapi kalau kamu sudah kunjungi semua dalam sebulan, sisanya hanya pengulangan.
Untungnya, Palu punya pengganti hiburan yang tidak bisa dibeli di mall mana pun: pantainya gratis, jalur sepedanya mulai tertata di beberapa ruas, dan kuliner lokalnya—kaledo, sup ikan Palu, uta dada—adalah argumen kuat untuk bertahan sedikit lebih lama. Kalau kamu bisa menggeser definisi “hiburan” dari gedung ber-AC ke tepi teluk, Palu sebenarnya tidak semembosankan yang terlihat di atas kertas.
BACA JUGA: Culture Shock Orang Jawa yang Merantau ke Sulawesi
Trauma gempa yang masih membekas dan nyata
Ini hal yang sering tidak dibahas terang-terangan, tapi saya rasa penting untuk jujur. Gempa 2018 meninggalkan luka yang dalam di Palu. Bukan hanya pada bangunan dan infrastruktur, tapi pada psikologi kolektif kota ini.
Beberapa perantau yang saya kenal mengaku bahwa rasa waswas soal gempa susulan tidak pernah benar-benar hilang, terutama bagi mereka yang belum terbiasa tinggal di daerah rawan gempa. Ini bukan berarti Palu berbahaya untuk ditinggali sekarang. Kota ini sudah banyak berbenah, dan warganya pun sudah sangat tangguh menghadapi kenyataan ini.
Justru dari situlah salah satu hal terkuat dari Palu muncul: ketangguhan warganya bukan retorika, melainkan sesuatu yang kamu lihat langsung dalam cara mereka bangkit, membangun ulang, dan tetap tertawa. Itu sesuatu yang tidak bisa kamu pelajari di kota mana pun yang tidak pernah diuji seberat ini.
Tapi bagi perantau baru yang datang dari daerah minim risiko bencana, butuh waktu dan adaptasi psikologis yang tidak bisa dianggap enteng. Ada momen di mana gempa kecil terjadi tengah malam, dan kamu yang baru datang sebulan langsung panik sementara tetangga sebelah kamar malah melanjutkan tidurnya.
Resiliensi itu bisa dibangun. Tapi untuk sebagian orang, ini menjadi pertimbangan serius yang mempengaruhi keputusan untuk menetap atau tidak.
Jaringan pertemanan yang sulit ditembus
Orang Palu ramah. Tapi ada perbedaan antara ramah dan mudah dimasuki.
Perantau yang datang tanpa jaringan awal akan merasakan betapa padatnya ikatan komunitas lokal di sini. Pergaulan sosial banyak dibangun di atas fondasi keluarga besar, suku, dan asal kampung yang sama. Bukan berarti orang luar dikucilkan—sama sekali tidak. Tapi untuk benar-benar masuk ke dalam lingkaran pertemanan yang hangat dan akrab, butuh waktu lebih dari sekadar saling follow Instagram.
Yang menarik—dan ini sisi baiknya—kalau kamu sudah masuk, mereka tidak setengah-setengah. Diajak makan bareng tanpa alasan, dikenalkan ke saudara-saudaranya yang jumlahnya seperti tidak ada habisnya, dan diperlakukan seperti orang yang sudah lama dikenal. Pertemanan di Palu itu mahal di awal, tapi kalau sudah dapat, rasanya seperti investasi yang tiba-tiba memberikan return berlipat.
Masalahnya, untuk sampai ke titik itu, bulan-bulan pertama bisa terasa sangat sepi—bahkan di tengah kota yang sebetulnya tidak terlalu besar.
Beginilah Palu
Jadi begitulah Palu. Kota yang tidak sempurna, tapi juga tidak pantas diabaikan begitu saja. Dia panas, tapi punya teluk yang bisa menebus itu semua menjelang sore. Hiburannya terbatas, tapi kuliner lokalnya adalah alasan yang cukup untuk tidak buru-buru pindah. Trans Palu-nya sedang berbenah, ketangguhan warganya nyata, dan biaya hidupnya adalah salah satu yang paling bersahabat di antara kota-kota sekelas.
Kalau kamu perantau yang sedang mempertimbangkan Palu, jangan datang dengan ekspektasi Jakarta atau Surabaya. Datanglah dengan ekspektasi yang lebih jujur—kota yang sedang tumbuh, dengan segala susah-senangnya yang masih dalam proses. Siapa tahu kamu malah betah, dan akhirnya jadi orang yang menulis artikel tentang betapa Palu sebenarnya tidak seburuk yang dipikirkan orang.
Penulis: Muhammad Syafrial
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Dari Bilik ke Bilik: Ketika Anak SMP Hilang Keperjakaan Bersama PSK di Kota Palu (1994-1996)
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













