Belakangan ini tetangga-tetangga saya punya topik obrolan yang menarik. Mereka, termasuk saya juga sebenarnya, menyadari bahwa makin banyak pendatang yang bermukim di Jogja. Bukan hanya dari daerah lain di Indonesia, melainkan juga pendatang dari luar negeri yang ikutan tinggal di Kota Pelajar.
Daerah tempat tinggal kami dulunya sepi, hanya dihuni oleh orang yang lahir dan besar di Jogja. Tapi sekarang kami mulai dikelilingi oleh bangunan kos yang dihuni pendatang, mulai dari mahasiswa hingga karyawan.
Kami nggak bertanya-tanya mengapa mereka memilih Kota Istimewa sebagai tempat merantau. Toh kami yang sudah tinggal di sini sejak lahir pun masih menetap di sini. Kami paham betul Jogja itu unggul dalam banyak hal (kecuali UMR-nya yang masih segitu-segitu aja), apalagi kalau membicarakan privilege yang dirasakan ketika tinggal di sini.
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya sekaligus obrolan tetangga, mari kita telaah apa saja privilege yang ditawarkan Jogja, khususnya yang jarang dibahas di media sosial.
#1 Warga Jogja nggak akan membiarkan kanan-kirinya kelaparan
Kalau boleh mendeskripsikan warga Jogja, mungkin sifat guyub, gotong royong, dan peduli menjadi beberapa dari ratusan karakter yang bisa saya sebutkan. Saya adalah saksi betapa perhatiannya warga pada tetangga dan sanak saudaranya, apalagi yang rumahnya bersebelahan dan tiap hari bercengkerama.
Warga Jogja itu begitu punya rezeki lebih sedikit saja pasti langsung berbagi dengan kanan-kirinya. Misalnya, ada keluarga yang baru saja panen beras atau masak dalam jumlah banyak. Tanpa berharap imbalan, mereka akan berbagi kepada tetangganya. Sejak dulu kebiasaan ini sudah dilakukan oleh warga, bahkan masih berlanjut di ekonomi sekarang yang lagi carut-marut.
Selain itu, masjid di Jogja bukan hanya digunakan sebagai tempat ibadah maupun belajar mengaji. Masjid juga ikut mensejahterakan jemaahnya, minimal dengan nggak membiarkan jemaahnya kelaparan. Masjid-masjid mengelola kas dan infak lalu memanfaatkannya untuk memberikan menu buka puasa maupun Jumat berkah.
#2 Pendidikan bagus dan warganya pun berpendidikan
Semua orang sudah tahu bahwa Jogja menyandang titel sebagai Kota Pendidikan dengan sekolah dan kampus yang berdiri di mana-mana. Tapi bukan hanya soal jumlah institusi pendidikannya yang banyak, melainkan juga sudah sejak lama berinvestasi pada pendidikan.
Misalnya di Kota Jogja, ada Kartu Menuju Sejahtera (KMS) yang bertujuan untuk membuka akses pendidikan bagi siswa miskin. Saat pendaftaran SMP dan SMA, umumnya siswa dengan KMS memiliki kuota khusus, berbeda dengan siswa reguler. Siswa KMS juga mendapatkan bantuan biaya pendidikan.
Terus, siswa reguler dapat apa? Siswa reguler yang berprestasi dapat beasiswa yang berasal dari Dana Istimewa (Danais). Kalau saya dulu, distribusi beasiswanya dilakukan per kalurahan. Jadi, akses pendidikan untuk siswa KMS dan reguler sama-sama terbuka. Jogja nggak perlu nunggu viral dulu baru dikasih bantuan maupun beasiswa.
Dari pemerataan akses pendidikan ini, saya rasa Jogja sudah mulai memanen hasilnya. Misalnya dari segi Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Jogja mendapatkan skor sangat tinggi, yaitu 82,48 pada tahun 2025. Skor ini jauh melampaui IPM Indonesia yang skornya 75,90. Oh ya, IPM ini merupakan indikator untuk mengukur kualitas hidup dan keberhasilan pembangunan berdasarkan dimensi umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standard hidup layak.
#3 Citra orang Jogja = sopan dan bertata krama
Privilege yang satu ini mungkin sangat jarang dibahas, tapi saya mengalaminya secara langsung. Jogja itu punya image yang sangat baik lho di mata orang dari daerah lain. Citra ini terbentuk berkat perpaduan pendidikan di Jogja yang mantap, budaya Jawanya yang kental, dan masyarakatnya yang toleran.
Saya baru menyadari ketika berada di luar negeri dan bertemu banyak mahasiswa dari berbagai daerah, mahasiswa yang berasal dari Jogja itu lebih disegani. Saya yang juga berasal dari Jogja pun ikut merasakan atmosfer tersebut. Ketika saya tanyakan kepada salah satu dari mereka, rupanya ia senantiasa menganggap orang dari Jogja itu sopan dan bertata krama, sehingga dirasa nggak baik kalau baru awal kenal sudah diajak celelekan.
BACA JUGA: Jogja Itu Indah asalkan Kamu Nggak Keluar Rumah
#4 Nggak kurang soal wisata
Tinggal di Jogja artinya everyday is holiday. Bukan hanya bermakna bahwa tinggal di sini membuka peluang untuk slow living, tapi sini memang nggak pernah ngebosenin soal tempat wisatanya. Andaikan bosan dengan satu tempat wisata, kita bisa ke tempat lain yang vibes-nya mirip maupun berbeda.
Di Jogja semua hal bisa kita temukan. Wisata alam, mulai dari gunung, pantai, hutan, goa, air terjun, dan masih banyak lagi, semua ada di Jogja. Tempat wisata edukasi anak, tempat healing-nya mahasiswa kalcer, hingga tempat wisata sejarah bisa kita temukan. Belum lagi tempat wisata berbasis keviralan di media sosial yang kian menjamur pun ada juga di sini.
Jujur saja, saya baru menyadari tempat wisata Jogja se-unlimited itu ketika presentasi tentang kampung halaman di kelas bahasa Turki. Dalam presentasi itu saya pengin menunjukkan hal-hal ikonik dari Jogja. Tapi sewaktu membahas bagian wisatanya, duh, saya bingung. Saking banyaknya tempat wisata yang keren dan wajib dikunjungi!
Kalau ada pertanyaan, apa bedanya tinggal di Jogja dengan di tempat lain? Jelas berbeda, apalagi jika kita membicarakan privilege yang dimiliki penduduknya. Banyak privilege yang dirasakan oleh orang Jogja, dan empat hal yang sudah saya sebutkan tadi itu contoh-contohnya.
Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 5 Bukti Jogja Tempat Paling Layak Ditinggali sampai Tua
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













