Sebagai kota yang sama-sama jadi tujuan kuliah, Malang dan Jogja selalu dipadati oleh para mahasiswa tiap tahunnya. Baik itu mahasiswa lokal yang berasal dari Malang/Jogja sekitarnya, hingga mahasiswa pendatang. Mereka akan menjadi manusia-manusia yang paling banyak kita temui di jalan hingga di warung-warung kopi. Seakan-akan mahasiswa adalah wajah kota.
Secara wilayah, Malang dan Jogja sebenarnya mirip. Sama-sama so called erat kaitannya dengan pendidikan, dan sama-sama erat kaitannya dengan wisata. Karakter penduduk lokalnya juga nggak beda jauh. Termasuk karakter dan kebiasaan mahasiswa yang tinggal di sana, yang juga banyak kemiripannya.
Mahasiswa Malang dan Jogja sama-sama suka nongkrong, sama-sama suka ngopi. Mahasiswa Malang dan Jogja sama-sama suka makanan murah. Mereka juga sama-sama suka cari hiburan, entah itu main ke alam, keliling kota, atau nonton konser. Rasa-rasanya susah untuk mencari perbedaan antara keduanya.
Namun, susah bukan berarti nggak ada. Bagaimanapun juga, mahasiswa Malang dan Jogja itu punya kebiasaan yang berbeda. Kota tempat tinggal dan masyarakatnya saja berbeda, masa iya kebiasaan mahasiswanya nggak berbeda? Makanya, tulisan ini akan membahas beberapa perbedaan kebiasaan mahasiswa Malang dan Jogja, baik itu mahasiswa lokal atau mahasiswa perantau.
Kalau mahasiswa Jogja nongkrongnya di angkringan, mahasiswa Malang di warung STMJ
Mahasiswa Malang dan Jogja memang sama-sama suka nongkrong. Sebelum kuliah nongkrong, pulang kuliah juga nongkrong. Mereka bisa dan biasa nongkrong berjam-jam, bahkan dari petang sampai nyaris pagi. Meskipun sama-sama suka nongkrong, mahasiswa Malang dan Jogja punya kebiasaan nongkrong di tempat yang berbeda. Beda tempat tujuan, lah.
Jika mahasiswa Jogja nongkrongnya di angkringan, maka mahasiswa Malang nongkrongnya di warung STMJ. Meskipun sama-sama tempat nongkrong, kedua tempat ini cukup berbeda. Angkringan terlalu banyak yang dijual. Mulai dari wedangan panas dan minuman dingin, nasi kucing hingga sate-satean. Sedangkan warung STMJ, ya cuma jual STMJ. Paling sama kopi dan teh. Makanannya pun cuma roti bakar sama pisang goreng. Secara harga, satuannya memang lebih murah di angkringan. Tapi kalau ditotal habisnya ya bisa mirip atau lebih murah di STMJ.
Baik angkringan dan warung STMJ ini sama-sama menjadi kekhasan dan identitas dua daerah tersebut. Kedua tempat itu juga jadi favorit para mahasiswa. Ya meskipun secara popularitas global, warung STMJ memang masih kalah populer dari angkringan.
Mahasiswa Jogja lebih meromantisasi tempat kuliahnya
Mahasiswa Jogja, apalagi mahasiswa rantau, sering sekali meromantisasi Jogja. Banyak banget konten hingga testimoni mahasiswa Jogja yang menganggap Jogja itu indah, tenang, romantis, bla bla bla. Padahal kenyataannya nggak gitu juga. Jogja masih kacau soal sampah, lalu lintasnya semrawut, dan masih banyak kejahatan yang terjadi.
Sementara itu Malang itu juga punya keindahannya tersendiri. Hawa sejuk khas pegunungan, arsitektur kota di beberapa tempat yang indah, biaya hidup tergolong murah dengan UMK yang jauh lebih tinggi dari Jogja, dan masih banyak yang lainnya. Semua itu sebenarnya layak diromantisasi seperti Jogja.
Tapi mahasiswa Malang, baik lokal maupun rantau, memilih nggak melakukannya. Malang nggak perlu dan nggak butuh diromantisasi. Toh, di balik keindahannya, Malang masih banyak masalah yang harus diselesaikan. Mahasiswa pasti tahu apa saja masalah-masalahnya. Jadi, buat apa meromantisasi kota ketika masalahnya masih belum tuntas?
Mahasiswa rantau di Malang lebih gampang misuh ketimbang mahasiswa rantau Jogja
Saya itu percaya sekali bahwa salah satu cara paling mudah untuk mengenalkan bahasa sebuah daerah kepada pendatang adalah mengenalkan dulu kata-kata kotor atau makiannya. Itu jadi pintu masuk yang sekilas memang nggak sopan, tapi harus diakui cukup berhasil.
Itulah yang terjadi di Malang. Untuk mengenalkan bahasa Malangan, mahasiswa lokal Malang kerap mengajari mahasiswa rantau untuk misuh terlebih dahulu. Asalkan sudah bisa ngomong “jancok” dengan baik, maka akan lebih mudah belajar bahasa malangan. Itu yang dulu saya lakukan kepada teman-teman kampus saya yang berasal dari luar Malang. Imbasnya memang mahasiswa rantau di Malang jadi lebih mudah misuh.
Apakah mahasiswa rantau Jogja juga seperti itu? Tentu saja. Kita mungkin sering lihat banyak mahasiswa perantau yang diajari cara ngomong “segawon” atau “asu”. Bedanya, “segawon” dan “asu” itu nggak sepopuler “jancok”. Secara makna juga nggak sekaya “jancok”. Misuh “jancok” di Malang itu kayak jadi identitas. “Jancok” itu kondimen obrolan, sekaligus jadi tanda keakraban. “Segawon” dan “asu” levelnya belum sekaya itu.
Makanya, mahasiswa rantau di Malang bisa lebih leluasa dan lebih bebas misuh ngomong “jancok” ketimbang mahasiswa rantau di Jogja.
Mahasiswa Jogja lebih bisa menerima tradisi
Kalau boleh bilang, Malang itu sebenarnya nggak kalah-kalah banget dalam hal seni dan tradisi dengan Jogja. Kalau mau ngulik, Malang itu punya banyak sekali seni dan tradisi yang khas dan menarik. Bedanya, seni dan tradisi di Malang nggak terpasarkan dengan baik, sehingga penerimaannya juga kurang baik. Beda dengan Jogja yang mampu memasarkan seni dan tradisi mereka.
Imbasnya, para mahasiswa di Malang jadi berjarak dengan seni dan tradisi Malang. Mereka masih susah untuk menerima bahwa Malang punya Wayang Topeng Malangan dan Bantengan. Bahkan masih banyak mahasiswa yang menganggap seni dan tradisi di Malang ini adalah hal yang norak, kampungan, dan ketinggalan zaman. Akhirnya, partisipasi mahasiswa untuk hal seni dan tradisi ya terbatas untuk mahasiswa seni saja. Di luar itu sangat jarang.
Ini jelas beda dengan bagaimana penerimaan mahasiswa Jogja terhadap seni dan tradisi. Dari pembacaan saya, seni dan tradisi di Jogja kayak mudah banget masuk ke kalangan mahasiswa. Para mahasiswa Jogja seakan juga nggak malu untuk meng-embrace aspek seni dan tradisi yang mungkin bukan milik mereka. Rasanya, hampir nggak ada mahasiswa Jogja yang menganggap seni dan tradisi sebagai hal norak, kampungan, dan ketinggalan zaman.
Itulah 4 perbedaan kebiasaan mahasiswa Malang dan Jogja. Jujur, mencari perbedaan kebiasaan keduanya adalah tugas sulit. Sebab secara umum, kebiasaan mereka mirip. Baik-baiknya mirip, bandel-bandelnya juga mirip. Tapi ya syukurlah saya bisa nemu perbedaannya, walau nggak banyak.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Bukan Jogja, Bukan Surabaya, apalagi Jember, Sebenar-benarnya Kota Pelajar Adalah Malang!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
