4 Makanan dari Daerah Lain yang Ngalahin Popularitas Makanan Daerah Sendiri – Terminal Mojok

4 Makanan dari Daerah Lain yang Ngalahin Popularitas Makanan Daerah Sendiri

Artikel

Ketimbang makanan atau minuman yang lagi bernama kebarat-baratan yang lagi ngehits sekarang, saya lebih suka makanan tradisional/makanan khas daerah di Indonesia. Rasanya beda aja gitu. Mungkin gara-gara selama saya hidup makan makanan Indonesia terus kali yak, jadi lidahnya nolak kalo dikasih makanan yang kebarat-baratan.

Saya bahas begitu, kalian langsung komen begini jangan-jangan, “Iya enakan masakan tradisional lah, la wong makan-makanan ala barat enggak pernah.”

Ckckck seenaknya aja. Iya sih saya katrok, eh bukan katrok, tepatnya sih enggak punya duitan, tapi saya pernah kok mencicipi makanan hits kebarat-baratan yang kalian gandrungi itu. Dan emang beneran rasanya menurut saya kadang nggak karuan. Saya curiga sebenarnya kalian juga ngerasain hal yang sama, tapi menipu diri sendiri dengan bilang makanan itu enak soalnya harganya mahalll.

Ha sudahlah malah terpancing emosi saya. Oh iya, ngomong-ngomong soal makanan asli Indonesia itu beragam lo. Ada nih yang hobi membawa makanan daerah aslinya ke daerah lain yang mereka jadikan tempat untuk merantau. Sampai-sampai makanan yang mereka bawa mengalahkan makanan daerah aslinya. Atau malahan kadang anak cucunya yang tidak tahu, menganggap itu makanan asli daerahnya, padahal itu makanan dari daerah lain.

Sering saya waktu PPL menjumpai anak-anak menjawab pertanyaan apa saja makanan khas Solo? Tidak sedikit dari mereka yang menyebut makanan dari luar Solo. Mau tahu apa saja makanan yang sering anak-anak sebut itu? Makanan itu sekaligus mewakili perasaan saya dan teman-teman lainnya yang memang mengamini kalau makanan pendatang kadang lebih enak ketimbang makanan asli daerah saya sendiri.

Baca Juga:  Melestarikan “Orang Pintar” Setara dengan Melestarikan Budaya

1. Nasi Padang

Di kota saya yang sudah saya sebut di atas. Banyaknya warung makan nasi padang melebihi warung-warung makanan asli di kota saya. Hampir di setiap saya hendak pergi ngapeli kekasih saya, saya selalu menemukan etalase dengan tatanan piring di tumpuk dan ada stiker rumah padang, dan ada pula tulisan “Nasi padang murah” di bawahnya—di setiap pinggir jalan. Ciri khas warung nasi padang di kota saya seperti itu.

Lalu apa saya sudah pernah mencicipi? Jangan tanya wong saya sendiri suka makan, ya pasti sudah pernahlah. Biasanya saya suka dikasih rendang sapinya yang nendang. Nyam, nyam, bahas makanan begini bawaannya laper.

Oh iya, ada mitos lagi. Konon katanya nasi pandang itu kalau dibawa pulang lebih banyak porsinya ketimbang makan di tempat. Saya sih sudah pernah membuktikannya, memang benar porsinya lebih banyak. Apa filosofinya?

Menurut keterangan dari teman saya, pada jaman dulu—jaman penjajah, hanya kolonial-kolonial Belanda yang diperbolehkan makan di warung-warung nasi padang. Terlebih lagi, para penjual nasi padang yang merupakan orang pribumi memberi harga mahal dan menyedikitkan porsinya.

Pribumi yang dipaksa kerja rodi hanya diperbolehkan membungkus makanan. Makanya acapkali ada pembeli asli pribumi, penjual akan melebihkan porsinya. Porsinya dua sampai tiga kali lipat dari porsi biasa. Hal itu bertujuan agar teman-temannya yang lain menjadi kenyang. Terlepas benar atau tidaknya, saya tidak tahu pasti, mungkin hanya orang padang yang mengerti akan hal ini.

Baca Juga:  Telkomnet Instan, Layanan Internet 'Lemot' yang Populer pada 2000-an

2. Sate Ayam Madura

Madura memang dijuluki orang perantau. Karena di setiap wilayah di Indonesia selalu ada orang Madura. Biasanya nih, menurut survei saya sendiri di daerah saya tentunya, kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai penjual sate ayam dan potong rambut. Mungkin ada yang berprofesi lain juga, ada yang jualan nasi goreng atau menjadi guru, tentara dokter atau yang lainnya.

Lah sate ayam Madura ini memang menjadi makanan favorit yang diidam-idamkan. Bahkan salah satu makanan yang banyak dicari di daerah saya. Enak juga sih rasanya kalau saya bisa menilai. Oh iya, biasanya mereka berpasangan. Yang perempuan biasanya jualan dengan memikul taplak memakai kepalanya, sedangkan yang laki-laki membawa gerobak berbentuk perahu dan bunyinya “klinting, klinting, klinting.”

3. Pempek Palembang

Pempek Palembang juga sudah merajai di daerah saya. dengan inovasinya yang beraneka ragam, makanan tersebut mampu menghipnotis elemen masyarakat di daerah saya. Cielah pakai eleman segala bahasanya.

Mulai dari pempek kapal selam, pempek biasa hingga yang lainnya. sebagai penikmat makanan, saya mengacungkan jempol pada makanan ini.

4. Siomay dan Batagor Bandung

Makanan ini bahkan sudah diakui menjadi makanan daerah saya karena beberapa orang asli daerah sini bisa membuatnya. Siomay dan batagor Bandung ini memang menyita perhatian bagi penikmat makanan. Apalagi seperti yang pernah saya bahas di tulisan lalu tentang 4 bahan makanan yang paling cocok dengan lidah orang jawa, semua makanan yang berbahan bakso menjadi favorit, salah satunya Siomay dan Batagor.

Baca Juga:  Banalitas Pedagang Makanan yang Tak Memakai Daun Pisang

BACA JUGA Makanan yang Sering Menimbulkan Perdebatan di Medsos dan tulisan Muhammad Khairul Anam lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.