Informasi
ADVERTISEMENT

4 kosakata ngapak khas Slawi yang membuat orang Blora salah sangka

4 kosakata ngapak khas Slawi yang membuat orang Blora salah sangka

Sebagai orang Blora, ada beberapa kosakata ngapak khas Slawi yang sering bikin saya salah paham

Kemampuan memahami bahasa Ngapak, jujur saja, bukan perkara mudah bagi saya. Njelimet, malah. Sebagai orang Blora, sejak kecil saya memang sudah kadung akrab dengan bahasa Jawa di ujung timur Jawa Tengah.

Sementara bahasa Ngapak nyaris tidak pernah melintas dalam percakapan sehari-hari saya. Karena itu, ketika menikah dan mulai sering ngobrol dengan mertua yang merupakan warga lokal Slawi, saya baru sadar bahwa meskipun sama-sama bahasa Jawa bukan berarti selalu memiliki arti yang sama dan bahkan belum tentu mudah dimahami.

Memang masih ada beberapa kata yang masih memiliki kemiripan. Namun, banyak pula kosakata yang terdengar familiar tetapi ternyata punya maksud berbeda dari yang saya kira. Di situlah saya beberapa kali salah menangkap pembicaraannya.

Dari pengalaman ngobrol dengan keluarga mertua itulah saya menemukan beberapa kosakata Ngapak khas Slawi yang sempat membuat saya salah sangka sebagai orang Blora. Bukan, bukan karena bahasanya sulit, tetapi karena beberapa katanya terdengar seperti memiliki makna yang sudah saya kenal. Berikut empat di antaranya.

Teyeng, ternyata bukan cuma tentang besi yang berkarat

Kata pertama dalam bahasa ngapak yang bagi saya mempunyai makna ganda dan bahkan sampai sekarang masih membuat senyum-senyum ketika mendengarnya adalah teyeng. Bagi orang Blora seperti saya, teyeng ya sesederhana besi yang sudah berkarat. Tidak ada tafsir lain. Pokoknya sesuatu yang tadinya mengilap, kemudian berubah kecokelatan, keropos, dan mulai dimakan usia karena terlalu lama terpapar air dan udara, wis kui titik.

Namun, di Slawi, teyeng ternyata punya dua makna. Makna pertama sama seperti yang saya pahami di Blora, sedangkan makna keduanya justru berarti bisa atau mampu. Jadi, ketika ada orang berkata, “Nyong ora teyeng, koen bae yak,” maksudnya bukan “Saya tidak berkarat, kamu saja,” melainkan “Saya tidak bisa, kamu saja yak.”

Belih bukan berarti boleh

Kata ngapak selanjutnya adalah belih. Saya tidak sedang typo. Memang pengucapan dan penulisannya belih, bukan boleh. Ketika pertama kali mendengarnya, saya juga sempat mengira kata ini hanya bentuk penyesuaian lidah orang Slawi ketika mengucapkan “boleh”.

Ternyata dugaan saya amat keliru. Di Slawi, belih justru berarti enggak atau tidak, yang dalam bahasa Jawa Blora lebih dekat dengan kata ora. Jadi, saran saya jangan buru-buru mengiyakan ketika mendengar kata belih, karena bisa jadi lawan bicara sebenarnya sedang bertanya atau menyatakan sesuatu yang justru berkebalikan dengan dugaan kita.

Misalnya ketika orang Slawi berkata, “Koen gelem iki apa belih?” Maksudnya adalah, “Kamu mau ini apa enggak?” Bagi mereka yang baru pertama mendengar kata ini, saya yakin kata belih awalnya terdengar seperti boleh dan bisa saja respon yang diambil malah keliru. Meskipun terdengar cuma beda satu huruf, tetapi kalau salah menangkap makna, jawabannya kan bisa ikut salah arah juga to?

Mbajor, bahasa ngapak yang maknanya tidak sopan

Kata ketiga yang juga unik adalah mbajor. Saya bahkan kesulitan mencari padanan kata ini dalam bahasa Jawa yang biasa saya gunakan di Blora, karena saya baru pertama kali mendengarnya ketika istri sedang bercanda dengan salah seorang kerabatnya. Karena penasaran, saya pun bertanya, “Mbajor itu apa?” Jawaban yang saya terima justru membuat saya bingung: “Nggak sopan.”

Saya sempat terdiam beberapa detik. Dalam kepala saya langsung muncul pertanyaan, memang saya tadi bertanya apa sampai dianggap tidak sopan? Padahal saya cuma bertanya arti sebuah kata. Saya bahkan mencoba mengingat-ingat percakapan sebelumnya, barangkali ada ucapan saya yang tanpa sadar kelewat batas.

Melihat saya kebingungan, istri kemudian menjelaskan dengan kalimat yang lebih lengkap bahwa mbajor dalam ngapak itu artinya tidak sopan, bukan berarti saya yang tidak sopan. Barulah saya paham letak salah tafsirnya. Spontan untuk mencairkan suasana yang sempat hening saya pun tertawa, diikuti pula oleh kerabat yang ada di situ.

Waduke, bahasa ngapak nggak ada hubungannya dengan danau buatan apalagi bendungan

Kata keempat dalam bahasa ngapak khas Slawi adalah waduke. Tapi tunggu jangan buru-buru memaknai waduke sebagai danau buatan apalagi bendungan, karena memang nggak ada hubungannya. Kata ini pertama kali saya ketahui saat membuka isi komentar di reels Mojok yang berisi tulisan saya sendiri soal bayangan slow living di Slawi ketika sudah punya cukup tabungan dan menua nanti.

Dalam beberapa komentar kata waduke ini sering dilontarkan, karena saya penasaran saya scroll balasan komentar itu dan saya menemukan ada menjawab kurang lebih bergini “berbeda pandangan boleh saja tapi gunakan kalimat yang sopan”. Dari ketikan itu saya jadi tau bahwa waduke ini kalimat yang kurang sopan atau kurang pantas diucapkan.

Lantas saya mengonfirmasi ke istri saya bahwa memang benar kalimat waduke ini bermakna umpatan yang umum dan biasa digunakan guyonan. Mendengar pernyataan itu saya langsung berpikir ulang kalau ingin bercanda dengan mertua, jangan sampai saya bilang “Waduke bledos”. Bukan tak mungkin sandal jepit melayang ke muka saya.

Yah, itulah beberapa kosakata Ngapak khas Slawi yang sampai sekarang masih saya ingat dan sempat saya salah pahami. Dan kalau dalam pembahasan artikel ini saya masih kurang tepat memaknasi kata-kata teyeng, belih, atau mbajor, ya tolong dibantu luruskan ya. Atau barangkali ada kata khas ngapak Slawi bisa ditambahkan saja lewat artikel, biar saya juga belajar. Cekap lan maturnuwun, kasuwun temenan ya um.

Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Logat Tegal Bukan Produk Hiburan, Jadi Tolong Jangan Olok-Olok Kami ketika Lagi Ngobrolin Hal-Hal Serius!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Oktober 2026 oleh .

Dimas Junian Fadillah

Magister Administrasi Publik, tertarik menulis isu lokal, politik dan kebijakan publik.