Sebagai orang yang membagi separuh usia di Semarang dan sisanya di Jogja, saya sukses menjadi manusia dengan dua mode yang saling bertolak belakang. Bertahun-tahun menyelami kehidupan di dua kota ini membuat saya fasih bicara banter ala orang pesisiran, tapi juga tetap mampu berbasa-basi halus khas rakyat keraton.
Masalahnya, memindahkan kebiasaan dari satu kota ke kota lainnya ternyata nggak gampang. Ada ego dan rutinitas yang saling tabrak di tengah jalan.
Memang, secara geografis, jarak Semarang-Jogja itu cuma terpaut dua jam perjalanan. Tapi urusan kebiasaannya masyarakatnya, perbedaan tersebut bisa terasa sejauh bumi dan langit.
BACA JUGA: 3 Hal yang Membuat Mahasiswa Semarang Iri dengan Mahasiswa Jogja
#1 Bukan arah mata angin, orang Semarang suka memakai istilah atas dan bawah untuk navigasi
Bagi warga Jogja, petunjuk jalan ala orang Semarang bisa bikin pusing tujuh keliling. Persoalannya, orang Jogja itu beruntung karena punya Gunung Merapi di utara dan Pantai Parangtritis di selatan sebagai jangkar navigasi yang absolut. Sementara itu, masyarakat Semarang nggak punya anugerah alam yang sebegitu ikoniknya untuk menjadi patokan.
Solusinya, warga Kota Atlas punya inisiatif membagi kota jadi dua kawasan sederhana, Semarang Atas dan Bawah. Nyatanya, hidup terasa jauh lebih praktis kalau cukup arah tujuan jalannya menanjak atau menurun, nggak perlu pusing mencari di mana posisi matahari terbit.
Sialnya, waktu kebiasaan ini saya bawa ke Jogja, warga lokal malah mengira saya mau ekspedisi naik gunung. Atau malah mengira saya mau berenang ke pantai.
#2 Lumpia bukan sekadar camilan di Semarang, ada pakem untuk memakannya
Menikmati lumpia di Semarang bukan sekadar urusan mengunyah gorengan. Namun, sebuah perjamuan sakral yang punya standar ketat. Ada pakem yang mengharuskan hadirnya saus kental manis gurih, daun bawang utuh, serta cabai rawit sebagai pendamping wajib.
Lumpianya sendiri berbentuk besar, disajikan dalam sebuah piring dengan plating cantik, lengkap dengan garpu dan pisau. Kalau membawanya pulang, biasanya ada wadah besek untuk menyimpan.
Saat jadi warga Jogja sementara, saya menemukan kasta lumpia itu setara dengan gorengan biasa. Bentuknya kecil dan ada di gerobak pinggir jalan.
Pengemasannya cukup dengan kantong kertas atau plastik, nggak jauh beda kalau beli tempe atau pisang goreng. Cara makannya pun langsung dilahap, nggak perlu pisau buat memotong.
Jangan pula berharap ada daun bawang. Masih untung kalau penjualnya menyelipkan cabai hijau, khas pendamping gorengan. Bagi orang Jogja, perlakuan terhadap lumpia semacam ini mungkin biasa. Namun bagi saya, tindakan tersebut sama saja seperti “penistaan kuliner” terhadap panganan legendaris ibu kota Jawa Tengah.
#3 Menenteng tas belanja dari rumah bakal dikira kampanye pelestarian alam di Jogja
Warga Semarang punya kedisiplinan buat bawa tas belanja sendiri kalau mau ke supermarket, bahkan minimarket. Aturan yang sudah mengakar selama tahunan ini akhirnya membentuk refleks kolektif. Anehnya, saat menerapkan tradisi ini di Jogja, saya sering merasa jadi alien yang tersesat di toko.
Di Kota Gudeg, plastik masih sering menjadi kawan akrab. Orang yang membawa tas belanja sendiri terkadang dipandang dengan tatapan heran. Seolah, saya sedang berperan jadi aktivis lingkungan yang sedang melakukan aksi demonstrasi peduli bumi.
#4 Menyebut martabak manis sebagai Kue Bandung bikin penjualnya di Jogja bingung
Meskipun konon martabak manis asalnya dari Bangka Belitung, lidah warga Semarang sudah mematenkan nama jajanan tersebut selama puluhan tahun sebagai Kue Bandung, tanpa boleh didebat. Menyebutnya sebagai martabak manis malah bikin orang Semarang tampak seperti sedang berakting jadi anak Jakarta yang sok kota.
Lucunya, bukannya mendapatkan pesanan, saya malah disambut dengan tatapan kosong atau koreksi yang nadanya sedikit menggurui. Bahwa menu tersebut bernama martabak manis atau terang bulan ketika jajan di Jogja.
Padahal, memesannya dengan julukan Terang Bulan, seakan membuat saya sedang menyiapkan sesajen untuk upacara khusus saat bulan purnama.
Betapapun janggalnya saya saat berusaha melebur di Jogja, perbedaan frekuensi inilah yang sebenarnya membuat identitas saya tetap menyala. Setiap kota punya logika dan cara masing-masing untuk menyederhanakan hidup bagi warganya. Percaya saja, di balik setiap kebiasaan yang tampak aneh bagi orang luar, selalu ada alasan yang masuk akal bagi mereka yang menjalaninya.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Hal-hal yang Lumrah di Jogja, tapi Tidak Biasa di Semarang
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
