Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

4 Hal yang Membuat Bekerja dengan Sistem Kekeluargaan Tidak Selalu Menyenangkan

Iim Halimatus Sadiyah oleh Iim Halimatus Sadiyah
6 September 2020
A A
4 Alasan Seseorang Menanyakan Pekerjaan Orang Lain Saat Ngumpul
Share on FacebookShare on Twitter

Kamu pasti pernah menemui penawaran kerja dengan sistem kekeluargaan? Atau kamu sendiri sedang bekerja di tempat yang mengagung-agungkan sistem ini? Akhir-akhir ini entah kenapa banyak yang menawarkan pekerjaan dengan sistem kekeluargaan. Mungkin karena dianggap efektif membuat pekerja betah dan nyaman dengan pekerjaannya.

Berdasarkan pengalaman pribadi dan teman yang pernah merasakan bekerja dengan sistem kekeluargaan, ternyata capek hati juga lama-lama bekerja seperti ini. Apalagi kalau kamu tipe orang yang tidak enakan, ya sudah pasrah. Mau menolak tidak enak, melawan apalagi.
Karena pengalaman setiap orang berbeda-beda, jadi mari kita fokus saja ke pengalaman tidak enaknya bekerja dengan sistem kekeluargaan. Kalau kamu masih merasa enak dengan sistem ini, ya selamat. Semoga tidak mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan.

Pertama, tidak jelasnya tugas pokok dan fungsi alias tupoksi. Sebenarnya sih ada tupoksi, tapi ya sebatas ada saja buat catatan. Nyatanya, hampir semua pekerjaan dikerjakan. Bukan sok hebat, tapi karena terpaksa saja lantaran tidak ada lagi yang mengerjakan. Belum lagi kalau tim kalian ramping, harus siap dengan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan dua sampai empat orang, justru kalian kerjakan sendirian.

Salah satu teman yang berprofesi sebagai guru dan tidak mau saya sebutkan namanya pernah curcol masalah pekerjaannya. Dengan jiwa menggebu-gebu dia bilang begini:

“Masalah piket di sekolah nih ya, kepala sekolah pernah bilang kalau sekolah kita ini kan sistemnya kekeluargaan, jadi yang lagi enggak sibuk mohon dibantu untuk piketnya. Padahal, jadwal piket sudah ada. Ujung-ujungnya enggak ada yang piket karena sok sibuk semua.”

Kedua, sering dihantui pekerjaan di manapun dan kapanpun tanpa mengenal apa itu hari libur. Saya yakin bekerja secara profesional tidak luput dari gangguan macam ini, lalu apa kabar dengan kami-kami yang bekerja secara kekeluargaan?

Seolah hidup kami dihabiskan untuk bekerja. Malam membahas kerjaan, yang harusnya kami habiskan waktu untuk rebahan. Bahkan diajak ngopi di luar jam kerja, tetap saja membahas kerjaan. Oh, sungguh atasan kami tidak membiarkan waktu kami terbuang sia-sia. Ingin menolak atau mengabaikan, tapi tidak semudah itu. Yang ada malah disindir.

“Eh si anu, kalau libur pasti susah dihubungi. Di-chat sama sekali enggak direspon.”

Baca Juga:

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

Bekerja Sampai Lelah Tidak Pernah Sepadan, tapi Berhenti Bekerja Tidak Membawa Damai

Iyalah enggak direspon, sudah berprasangka buruk duluan. Pasti mau membahas kerjaan. Belum apa-apa malas duluan jadinya. Padahal belum tentu membahas pekerjaan. Saking seringnya diganggu sampai memilih pura-pura tidak tahu. Oh Tuhan, izinkan saya menikmati waktu libur tanpa gangguan pekerjaan.

Ketiga, sedikit-sedikit muncul kalimat, “Kan kita keluarga.” Kalimat andalan yang dikeluarkan untuk melakukan pembelaan, meminta suatu, atau sebatas menenangkan tim yang sedang uring-uringan.

“Kan sesama keluarga harus saling membantu. Bisa kan bantu mengerjakan ini dan itu?”

“Kita bekerja dengan sistem kekeluargaan, wajarkan kalau saling membantu untuk keberhasilan bersama?”

“Selama ini kita anggap kamu keluarga lho, eh kamu malah sulit dimintai tolong. Jangankan itu, kalau libur saja susah dihubungi.”

Masalahnya, saya sering dipaksa bantu meski jelas kerjaan sendiri saja belum selesai. Sedangkan kalau pekerjaan sendiri sudah selesai lebih rawan disuruh bantu yang lain. Bukannya enggak mau bantu lho, ya. Hmmm…

Keempat, tidak punya kehidupan pribadi. Karena bekerja dengan sistem keluarga, jadi siapapun yang terlibat didalamnya adalah keluarga. Kalau ada masalah, ya diselesaikan secara keluarga alias mau tahu sampai akar-akarnya. Termasuk ikut campur ke ranah pribadi.

Saking layaknya keluarga, apa yang menjadi urusan pribadi sering dibawa-bawa ke pekerjaan. Disuruh cerita setiap ada masalah. Dicarikan solusinya bersama-sama. Tak jarang sampai mengatur lingkaran pertemanan, pakaian, dan makanan.

Rasanya haram bila punya suatu yang kita sembunyikan, punya kebahagiaan lain diluar lingkaran rekan kerja, bahkan punya waktu me time untuk menjaga kewarasan. Bukankah itu semua tanda peduli dan sayang? Tidak beb, kalau peduli dan sayang harusnya dikasih ruang untuk kehidupan pribadi berkembang bukan ikut campur dengan dalih peduli.

Memang tidak semua tempat kerja dengan sistem kekeluargaan melakukan hal-hal yang saya ceritakan di atas dan bisa saja kalian-kalian yang bekerja dengan profesional pun merasakan hal yang sama. Semoga saja kalian selalu bahagia dengan apapun yang sedang kalian kerjakan. Ingat, ada cicilan yang merengek minta dibayarkan. Jadi, semangat bekerja mencari cuan. Jangan lupa, tetaplah menjadi manusia yang bermanfaat bagi kehidupan~

BACA JUGA Empati Warkop Pitulikur dan Fenomena Siswa Belajar Online di Warkop, yang Prihatin Seharusnya Pemerintah atau tulisan-tulisan lainnya di Terminal Mojok.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 6 September 2020 oleh

Tags: kerjapekerjaansistem kerja
Iim Halimatus Sadiyah

Iim Halimatus Sadiyah

Si pecinta kebebasan tapi tahu batasan.

ArtikelTerkait

5 Pekerjaan yang Dianggap Tidak Sesuai dengan Jurusan Ilmu Politik padahal Sangat Masuk Akal

5 Pekerjaan yang Dianggap Tidak Sesuai dengan Jurusan Ilmu Politik padahal Sangat Masuk Akal

9 Oktober 2025
Bersyukurlah ASN Muda yang Dipindah ke IKN

Bersyukurlah ASN Muda yang Dipindah ke IKN

22 April 2023
Meme “Kerja, Kerja, Kerja, Tipes” Itu Sesat, Tidak Sepenuhnya Benar Mojok.co

Meme “Kerja, Kerja, Kerja, Tipes” Itu Sesat, Tidak Sepenuhnya Benar

26 Januari 2024
Percayalah, Naik Jabatan Itu Nggak Enak!

Percayalah, Naik Jabatan Itu Nggak Enak!

17 Januari 2023
Mengintip Bagaimana Operator Line Interaktif Bekerja terminal mojok

Mengintip Cara Kerja Operator Line Interaktif yang Sering Dibilang Jagain Telepon doang

28 Juli 2021
Tokutei Ginou, Alternatif Kerja di Jepang selain Magang Terminal Mojok

Tokutei Ginou, Alternatif Kerja di Jepang selain Magang

15 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ciri Khas 3 Sate Ayam Ponorogo Dilihat dari Daerah Produksinya sate ayam madura

Sate Ponorogo, Sate Terbaik yang Pernah Ada. Sate Madura dan Sate Padang Minggir Dulu Sana ke Pojokan

9 April 2026
Honda Odyssey: Mobil Indah, tapi Jalan Nasibnya Tak Mudah

Honda Odyssey: Mobil Indah, tapi Jalan Nasibnya Tak Mudah

11 April 2026
UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
4 Ciri Nasi Uduk Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Wikimedia Commons)

4 Ciri Nasi Uduk Redflag yang Bikin Kecewa dan Nggak Nafsu Makan

11 April 2026
Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026

Di Jajaran Mobil Bekas, Kia Picanto Sebenarnya Lebih Mending daripada Suzuki Karimun yang Banyak Dipuja-puja Orang

8 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Nekat ke Jakarta Hanya Modal Ambisi sebagai Musisi, Gagal dan Jadi “Gembel” hingga Bohongi Orang Tua di Kampung
  • Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta
  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.