3 Program TV Saat Sahur yang Sungguh Bikin Kangen. #TakjilanTerminal32 – Terminal Mojok

3 Program TV Saat Sahur yang Sungguh Bikin Kangen. #TakjilanTerminal32

Artikel

Muhammad Arsyad

Belakangan di Terminal Mojok lagi campaign Takjilan Terminal. Isinya semua tentang Ramadan, mulai dari pop kultur, iklan, sampai acara khas Ramadan. Ngomongin acara khas Ramadan, nggak lengkap kalau nggak ngomongin soal program TV saat sahurnya. Ada beberapa program TV saat sahur sahur yang sungguh ngangenin. Saya berani bertaruh bahwa acara-acara sahur berikut ini jauh lebih ngangenin daripada sinetron PPT yang ceritanya muter-muter gitu doang.

#1 Saatnya Kita Sahur

Kamu pernah dengar acara ini? Memang, dulu kalau ingatan saya tidak berkhianat, waktu masih SD, program TV saat sahur didominasi program komedi. Pelopornya kalau tidak salah, program Sahur Kita yang tayang di SCTV sekitar 90-an. Mengenai detail acaranya, saya kurang, wong tahun segitu saya baru lahir. Intinya acara lawak.  

Beberapa tahun setelah itu, muncul lagi acara-acara sahur yang konsepnya (hampir) mirip Sahur Kita. Salah satu yang terkenal Saatnya Kita Sahur. Nah, kalau yang ini saya termasuk penikmatnya. Program Saatnya Kita Sahur tayang perdana medium 2000-an, tepatnya 2007 menurut Wikipedia.

Dulu, saya rela bangun cepat buat sahur, eh nggak ding, tapi buat nonton almarhum Olga Syahputra di Saatnya Kita Sahur. Sungguh itu acara yang bikin sahur keluarga saya lebih berwarna, ketimbang hari ini. Betapa saya dan ibu saya ngakak bareng menonton tingkah kocak Olga, Komeng, dan Adul.

Saya rasa pada masa itu belum ada yang bisa menandingi lucunya trio Komeng, Olga, dan Adul. Ini kalau zaman segitu Cing Abdel sudah jadi juri, pasti dikasih No Debat itu. Pasalnya, sumpah lucu banget.

Biasanya dibikin semacam komedi situasi. Komeng sebagai orang dewasa dan Adul sebagai anak kecil yang sok-sokan polos. Sementara Olga sebagai hantu, kadang perempuan penggoda yang justru sering dikerjain Komeng. Gaya melawak yang dibawakan, ya, untuk ukuran sekarang pasti bakal ditegur KPI berkali-kali.

Yhaa gimana ya. Kadang Olga tampil seolah-olah menjadi cewek. Dan setiap kali Olga muncul itu auranya sudah menggembirakan. Baru keluar satu kata saja sudah lucu. Apalagi kalau sudah saling ejek sama Adul, dan dikepruk sterofoam sama Komeng.

#2 Yuk Kita Sahur

Jika RCTI pantas disematkan sebagai televisi dengan segudang sinetron, Trans TV—sebelum ratingnya anjlok dan diserbu program pemutaran film—layak disebut sebagai televisi dengan segudang acara komedi situasi atau sketsa. Kita tentu ingat acara Extravaganza. Nah itu salah sketsa populer yang pernah tayang di Trans TV.

Maka dalam urusan program sahur pun tak jauh-jauh dari format sketsa atau komedi situasi. Buktinya setelah Saatnya Kita Sahur kandas, muncul acara Yuk Kita Sahur yang formatnya mirip. Program Yuk Kita Sahur atau YKS ini pertama kali tayang pada 2013. Waktu itu saya masih awal-awal SMA kayaknya.

SKS dan YKS, kedua-duanya mengandalkan Olga Syahputra buat ujung tombak kelucuan. Ya, walaupun ada pelawak lain, sih. Tapi tetap Olga yang bisa bikin acara itu lucu.

Tanpa Olga, program TV YKS mungkin bakal hambar. Sebab, nggak ada yang dikerjain. Selain itu, yang membedakan YKS dengan acara sahur sebelumnya, yaitu kehadiran Cinta Laura yang tentu saja mengubah mindset penonton kala itu.

Bagaimana tidak, wong Cinta Laura saat itu kan termasuk artis yang kecantikannya paripurna. Berwajah bule dan kalau ngomong itu nginggris banget. Namun, dia mau-mau saja tuh ngelawak.

Bahkan sampai wajahnya cemong pun mau. Saya ingat adegan saat Wendy Cagur, Olga, dan Cinta Laura sedang main tebak-tebakan kalau tidak salah. Betapa Cinta Laura kok ya mau dikerjain Wendy. Apa pun yang dijawab selalu salah dan berakhir mukanya belepotan

Sayangnya, acara YKS ini banyak menuai kritikan dan teguran, terutama dari KPI. Beberapa kali YKS dianggap melanggar aturan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). YKS pun nggak bertahan lama, dan akhirnya cuma tayang satu season doang.

Namun YKS sukses melahirkan satu tren khusus. Tren tarian yang dinamakan Joget Caisar yang membahana itu. Goyangan Caisar berhasil bikin YKS tetap tayang, tapi dengan format lain: Yuk Keep Smile. Hingga pada akhirnya juga sampai difilmkan segala.

#3 Jazirah Islam

Baca Juga:  Mengatasi Konflik Kepentingan ala Jaksa Pinangki vs Jaksa Hwang Shi Mok

Biasanya setelah sahur saya tidak langsung tidur seperti hari ini. Pasalnya, dulu sepanjang sahur hingga sehabis subuh, acara-acara di televisi itu layak disebut tontonan nggak kayak sekarang. Jazirah Islam di Trans 7 adalah program Ramadan yang selalu saya tonton habis Subuh.

Betapa saya diajak untuk mengenal bagaimana seorang muslim hidup di negara-negara yang bukan mayoritas Islam. Misalnya kehidupan seorang muslim di Brazil. Negeri sepak bola itu ternyata terdapat beberapa komunitas muslim.

Dini Fitria, host program ini, mengajak pemirsa untuk mengetahui bagaimana muslim menjadi minoritas. Betapa indahnya kehidupan jika kita menonton Jazirah Islam. Di negara-negara yang notabene bukan mayoritas muslim, justru orang-orang non-muslim memperlakukan muslim dengan baik dan ramah sebagaimana mestinya. Hal ini sungguh kontradiktif dibandingkan di Indonesia yang sesama muslim saja saling mencurigai.

Tampak dalam salah satu episodenya, di Masjid Abu Bakar, salah satu masjid terbesar di Sao Paulo, Brazil terdapat kursus bahasa Arab. Jelas karena Brazil itu bukan negara Islam, dan kamu tentu tahu sendiri Sao Paulo di televisi dan film kayak gimana, kursus tersebut justru banyak diisi oleh non-muslim. Mereka tertarik belajar bahasa Arab supaya bisa membaca Al-Quran dengan benar.

Andai saja acara Jazirah Islam itu tayang lagi, mungkin Indonesia—yang mayoritas Islam itu—akan lebih banyak diisi orang ramah. Tidak ada lagi konflik horizontal. Dan tidak ada lagi pendakwah yang… ah, sudahlah.

Mengharapkan program-program tersebut memang susah. Ibarat menanti Persip Pekalongan juara Copa Del Rey, wong masuk Piala Menpora saja nggak. Acara TV sahur dulu dan sekarang sungguh berparak.

Program TV saat sahur hari ini lebih membosankan, kalau nggak sinetron ya acara talkshow yang garing. Jadi, wajar saja kalau saya sekarang lebih milih tidur setelah sahur, daripada ngaji. Eh.

*Takjilan Terminal adalah segmen khusus yang mengulas serba-serbi Ramadan dan dibagikan dalam edisi khusus bulan Ramadan 2021.

Baca Juga:  Walau Sering Dihujat, 'Suara Hati Istri' Menyadarkan Saya tentang Banyak Hal

Sumber Gambar: YouTube Khazanah Trans7 Official

BACA JUGA Betapa Menjengkelkan Orang yang Bangunin Sahur Pakai Sound System dengan Volume Kencang. #TakjilanTerminal21 dan tulisan Muhammad Arsyad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
2


Komentar

Comments are closed.