Kita sepakat sulit ngasih 2 ribu ke tukang parkir dan pak ogah, apalagi yang nggak mau kerja. Tapi kalau kerjanya bagus, well, oke-oke saja kan?
In this economy, dua ribu rupiah itu berharga, apalagi di Jakarta. Bisa buat beli sebutir telur di warung Madura. Kalau ditabung dengan rajin, mungkin bisa buat beli rumah.
Sayangnya, ada orang (sok) bijak yang bilang kalau kehilangan dua ribu rupiah nggak akan membuatmu miskin. Iya sih, cuma tergantung dulu buat apanya. Kalau diperuntukkan untuk orang yang nggak layak, kan bikin nggak ikhlas. Apalagi, buat bayar tukang parkir liar dan Pak Ogah yang nggak ada fungsinya.
Pelit? Nggak juga. Saya ikhlas-ikhlas saja ngasih tukang parkir dan Pak Ogah selama mereka ada gunanya. Pertanyaannya, seperti apa sih tukang parkir “yang kerja”?
#1 Tukang parkir yang kelihatan kerjanya
Saya pernah lihat di media sosial, ada tukang parkir yang rela modal kantung plastik. Tanpa diminta, ia membungkus helm pengendara motor dengan plastik. Kalau-kalau hujan, helm pemotor aman dan minim basah. Nah, kalau yang kayak gitu, barulah saya ikhlas banget.
Tapi, pengalaman kita selama ini kan nggak begitu. Boro-boro ketemu yang model begitu, yang kerja sesuai jobdesc aja jarang.
Parkir sendiri, usaha mengeluarkan kendaraan sendiri. Tukang parkir baru muncul dan menagih uang saat kita terlihat mau pergi. Mau nggak ngasih, mukanya pada sangar-sangar. Daripada ribut, biarin deh dua ribu rupiah saya melayang. Cuma kalau ditanya ikhlas, kayaknya sulit.
Pak Ogah juga banyak yang kerjanya cuma mejeng di jalan pertigaan dan perempatan. Sedikit pun nggah bisa ngatur jalan. Cuma modal bungkus snack dibalik. Kalau nggak, mereka pakai kaleng bekas cat ukuran kecil sambil digoyang-goyang dan disodorkan ke pengendara.
BACA JUGA: Melacak Sejak Kapan Profesi Tukang Parkir yang Nyebelin itu Ada di Indonesia
#2 Mangkal di tempat yang memang dibutuhkan
Bukan mendukung dua pekerjaan ini, tapi jujur, kadang keberadaan mereka berguna. Banyak jalan pertigaan dan perempatan di Jakarta yang terbantu dengan keberadaan Pak Ogah.
Kawasan tempat tinggal saya banyak toko. Sudah pasti, banyak tukang parkirnya. Yang saya lihat, tukang parkir yang ada membantu banget kendaraan yang mau parkir dan keluar parkiran. Biar nggak bentrok antara yang mau keluar parkiran dan kendaraan yang ada di jalan raya.
Selama mangkal di tempat yang memang butuh peran tukang parkir dan Pak Ogah, saya rasa sah-sah saja. Berarti mereka bisa memanfaatkan kondisi untuk cari rezeki. Apalagi kalau seolah sudah dapat izin tak tertulis dari warga sekitar. Kalau mangkalnya di tempat yang sepi kendaraan, trus jelas-jelas ada tulisan parkir gratisnya, itu mah pemerasan.
#3 Bantu seberangi orang tanpa diminta
Menjadi pejalan kaki di Jakarta, agak bahaya. Banyak pengendara yang nggak mau ngalah. Apalagi, pas mau menyeberang. Makanya kalau ada orang random yang bantu saya menyeberang di jalanan, saya terharu.
Pas tinggal di kawasan Pondok Bambu, Jakarta Timur, ada satu Pak Ogah yang biasa saya lihat. Dia biasa bantu atur lalu lintas di perempatan dekat SPBU. Nggak cuma jadi Pak Ogah buat dapat duit, saya perhatikan dia selalu bantu orang di sekitarnya yang mau menyeberang. Bahkan, saya pernah ketemu dia bukan di tempat mangkalnya. Saya mau menyeberang buat jalan pulang ke rumah. Tanpa basa-basi, dia langsung bantu.
Beberapa kali juga saya pernah dibantu menyeberang oleh tukang parkir sekitar. Meskipun nggak sempat ngasih duit, rasanya saya ikhlas kalau mereka dapat uang dari pekerjaan mereka itu. Soalnya berdasarkan pengalaman saya, cukup jarang orang yang mau bantu penyeberang di Jakarta ini.
Sebenarnya nggak baik membiasakan diri ngasih duit ke tukang parkir liar dan Pak Ogah. Nanti, mereka makin menjamur. Cuma biar bagaimanapun, saya masih sering lemah hati. Apalagi, kalau lihat tukang parkir dan Pak Ogah yang ada faedahnya. Bukan yang malah malak berkedok tukang parkir dan Pak Ogah. Yang kayak gitu mah harusnya musnah aja.
Penulis: Arsyindah Farhan
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 5 Tips Ampuh Menghindari Tukang Parkir di Indomaret
