Setiap bulan Agustus, kampung-kampung di Indonesia mendadak berubah menjadi panitia besar. Orang yang biasanya sulit diajak kerja bakti tiba-tiba rajin menghadiri rapat. Grup WhatsApp RT yang sebelas bulan hanya berisi informasi orang meninggal atau menjenguk tetangga yang sakit, mendadak ramai membahas lomba Agustusan.
Saya tentu senang melihat antusiasme itu. Agustusan memang bukan sekadar soal hadiah. Yang dicari adalah kebersamaan, guyub, dan alasan untuk membuat warga keluar rumah.
Akan tetapi, karena terlalu sering dijadikan tradisi, ada beberapa lomba yang sebenarnya sudah layak ditiadakan. Bukan karena tidak seru, tapi karena efek sampingnya atau mudaratnya lebih besar daripada manfaatnya.
#1 Sepak bola, mini soccer, dan futsal, lomba yang terlalu gampang mengubah tetangga jadi musuh
Saya heran mengapa panitia agustusan selalu memasukkan sepak bola atau turunannya sebagai cabang lomba. Padahal, olahraga ini adalah paket lengkap penyebab keributan.
Namanya juga sepak bola, kontak fisik tidak mungkin dihindari. Sedikit tersenggol langsung merasa dilanggar. Sedikit salah mengambil keputusan, wasit langsung dituduh berat sebelah. Penonton yang semula hanya membawa kopi mendadak berubah menjadi komentator profesional yang merasa lebih paham daripada pelatih tim nasional.
Lucunya, yang diperebutkan paling-paling hanya piala dan uang pembinaan yang bahkan belum cukup untuk membeli ban motor baru. Tapi tensinya seperti final Liga Champions.
Kalau sudah begini, panitia bukan lagi sibuk membagikan hadiah, tapi sibuk melerai dua kubu yang sama-sama mengaku dizalimi wasit.
Kalau memang ingin olahraga, kenapa tidak voli saja? Tidak ada kontak fisik langsung dalam voli. Net menjadi pembatas agar pemain tidak saling senggol. Adu mulut masih mungkin terjadi, tapi setidaknya peluang adu pukul jauh lebih kecil. Tujuan Agustusan itu mempererat hubungan warga, bukan menambah daftar orang yang saling diam saat berpapasan di jalan.
#2 Lomba agustusan membuat gapura itu mahal, melelahkan, cepat dilupakan, dan berakhir jadi sampah
Saya selalu kagum melihat kreativitas warga ketika membuat gapura. Bambu, tripleks, styrofoam, cat, sampai lampu warna-warni bisa disulap menjadi gerbang yang megah.
Sayangnya, kemegahan itu umurnya lebih pendek daripada semangat olahraga setelah tahun baru.
Begitu juri selesai menilai, gapura perlahan memasuki masa pensiun. Cat mulai kusam, bambu mulai melengkung, hiasan mulai copot satu per satu.
Tidak sampai beberapa bulan, gapura itu berubah menjadi bangunan yang lebih mirip proyek mangkrak daripada simbol kemerdekaan. Jadinya sampah juga.
Yang lebih menyedihkan, biaya pembuatannya sering kali mencapai jutaan rupiah. Padahal uang sebanyak itu bisa dipakai banyak hal lain seperti memperbaiki pos ronda, membeli alat kebersihan, menambah lampu penerangan jalan, atau membeli perlengkapan untuk kegiatan warga yang manfaatnya terasa sepanjang tahun.
Jangan sampai kita terlalu bersemangat membuat pintu masuk kampung terlihat megah, sementara jalan di belakang gapura masih berlubang.
#3 Lomba agustusan dengan gerakan yang sensual
Ini mungkin yang paling membingungkan. Masih saja ada panitia yang menganggap permainan akan semakin lucu jika peserta dipaksa melakukan gerakan yang mengarah pada hal-hal sensual. Misal, memecahkan balon yang diletakkan di belakang peserta perempuan lalu dipecahkan oleh peserta laki-laki dengan posisi yang membuat penonton salah fokus karena mirip doggy style.
Selalu saja panitia bersembunyi di balik kata “cuma hiburan” ketika dikritik soal lomba agustusan macam ini. Padahal, hiburan tidak harus membuat seperti itu. Agustusan adalah acara masyarakat. Anak-anak menonton. Orang tua ikut menyaksikan. Bahkan, kakek-nenek biasanya duduk paling depan sambil menikmati jalannya lomba.
Masih banyak kok permainan yang sama-sama mengundang tawa tanpa membuat peserta salah tingkah. Balap bakiak, estafet air, memasukkan paku ke botol, atau lomba-lomba sederhana lain sudah terbukti mampu menghibur warga selama puluhan tahun.
Ingat, agustusan adalah perayaan kemerdekaan, bukan audisi membuat penonton menahan tawa karena merasa canggung.
Dan, lomba agustusan bukan dinilai dari seberapa heboh teriakan penontonnya atau seberapa mahal dekorasinya. Ukurannya sederhana saja, setelah acara selesai, apakah warga menjadi semakin akrab atau justru saling menyimpan kesal.
Kalau jawabannya yang kedua, mungkin memang sudah waktunya beberapa jenis lomba kita merdekakan dari daftar kegiatan agustusan.
Penulis: Supriyadi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Karang Taruna Organisasi Paling Sial Saat Agustusan, Bakal Kerja Keras dan Banyak Dihujat Warga.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
