3 Kesalahpahaman Orang Jakarta Saat Melihat Demak: Dikira Membosankan dan Hampir Tenggelam

5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup Mojok.co

5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup (dinkominfo.demakkab.go.id)

Bagi sebagian besar warga Jakarta, peta Indonesia di dalam kepala mereka itu isinya kalau nggak Jabodetabek, Bandung, Jogja, ya Bali. Di luar zona itu, blur. Pokoknya daerah lain dianggap pedalaman yang tidak punya eksistensi. Apalagi Demak, makin mereka nggak paham.

Pengalaman ini saya rasakan sendiri sejak resmi jadi pekerja kantoran di ibu kota. Di divisi tempat saya bekerja, saya adalah spesies langka yang memegang rekor sebagai “Orang Demak Pertama” yang pernah mereka temui seumur hidup. Asli, sampai bingung saya harus tersanjung atau sedih mendengarnya.

Menariknya, pengetahuan orang Jakarta tentang Demak itu cuma mentok kalau nggak sejarah masa lalu tentang Kerajaan Demak, Raden Patah, Wali Songo, Masjid Agung, ya bencana masa kini alias rob Pantura.

Gara-gara berita rob Sayung sering seliweran di media sosial, pemikiran teman-teman kantor saya langsung lompat ke kesimpulan yang radikal. Di kepala mereka, Demak itu bukan lagi sekadar wilayah bersejarah, tapi sudah resmi bermutasi jadi Atlantis versi kearifan lokal yang seluruh wilayahnya tenggelam di bawah air laut.

Ironisnya, itu belum semua. Masih banyak kekagetan orang Jakarta pada Demak yang bikin saya, ikutan heran serta miris di waktu yang sama.

Culture shock orang Jakarta saat tahu Demak nggak punya mal

Sebelum membahas soal air, puncak komedi pertama dari ketidaktahuan orang Jakarta adalah bagaimana mereka mengukur standar peradaban sebuah kota dari jumlah mal, bioskop, dan supermarket besarnya.

Mereka kaget setengah mati saat mengetahui bahwa di Demak tidak ada mal, tidak ada XXI besar (adanya bioskop kecil yang sepi banget), bahkan supermarket gede yang menjamur di ibu kota tempat biasa mereka menghabiskan uang pas gajian pun absen dari kabupaten ini. Bagi warga Jakarta yang kalau gabut sedikit langsung melipir ke Grand Indonesia atau PIM, fakta ini memicu rasa iba yang luar biasa.

Mereka langsung membayangkan betapa merana dan membosankannya masa muda saya di sana. Mereka tidak tahu saja kalau hiburan orang Demak itu ya cukup nongkrong di Alun-alun, minum wedang ronde, atau berburu kuliner di Pecinan. Tak punya mal bukan berarti kami kesepian.

Dikira seluruh kabupaten sudah berubah jadi waterboom

Nah, setelah tahu Demak nggak punya mal, ditambah sering melihat berita tentang parahnya rob di Sayung, imajinasi orang Jakarta ini makin liar. Mereka mengira rob di Demak itu sifatnya masif, merata, dan adil ke seluruh kecamatan.

Setiap kali musim hujan tiba atau pas ada berita air laut pasang, kubikel saya langsung ramai. Pertanyaan yang muncul bukan lagi soal kerjaan, melainkan pertanyaan-pertanyaan ajaib. “Eh, lu kalau mudik ke rumah emang nggak harus naik perahu karet?”

Mereka mikirnya begitu saya turun dari bus Shantika atau Muji Jaya pas mudik, saya kudu langsung ganti moda transportasi pakai jet ski buat sampai ke rumah.

Saya sampai lelah menjelaskan kalau yang parah itu di daerah pesisir seperti Sayung yang memang sudah jadi rawa permanen, sedangkan kecamatan lain yang jauh dari wilayah Sayung ya masih aman-aman saja, masih menapak tanah yang kering. Tapi ya namanya orang Jakarta, sekali mereka lihat video truk tenggelam di Pantura, di pikiran mereka seluruh kabupaten Demak langsung otomatis berubah jadi lautan.

Dikira nggak punya tempat wisata, padahal wisata kami levelnya spiritual

Miskonsepsi selanjutnya muncul karena orang Jakarta mengira tempat wisata itu jenisnya cuma ada dua: kalau nggak pantai estetik ala Bali, ya theme park modern berbayar mahal. Jadi, begitu tahu di Demak nggak ada jenis itu, mereka langsung menyimpulkan kalau kota kami ini miskin tempat liburan. Ya, walaupun terkadang sebagai anak muda saya merasa demikian sih.

Tapi mereka nggak tahu aja kalau pariwisata di Demak itu vibe-nya tenang, spiritual, dan berada di level yang berbeda. Di saat warga Jakarta harus menabung berbulan-bulan demi bisa liburan ke luar negeri, orang-orang dari berbagai penjuru pulau justru rela menyewa bus pariwisata berhari-hari demi dapat berkunjung ke Demak. Sebab bagi sebagian besar orang, wisata religi di Demak itu punya magnet yang magis.

Wisata andalan kami adalah berziarah ke Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu hingga napak tilas ke Masjid Agung Demak. Bagi orang Jakarta, wisata macam ini mungkin kedengaran aneh dan absurd. Tapi bagi kami, perputaran ekonomi dari jutaan jemaah ziarah yang datang tiap tahunnya itu membuat roda ekonomi kota kami tetap berdenyut.

Itulah hal-hal tentang Demak yang bikin orang Jakarta heran. Ya begitulah efek Jakartasentris dalam kehidupan, kalau beda dikit, langsung iba. Padahal ya, benar, hahaha.

Penulis: Septianic Tyas
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Alasan Kenapa Saya Tidak Betah Tinggal di Demak

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version