Salah satu konsekuensi menjadi lulusan Ilmu Perpustakaan adalah saya jadi punya dua pekerjaan sekaligus: membela profesi pustakawan dari stereotip masyarakat, dan mengelus dada melihat tingkah sebagian sesama alumninya.
Sudah dua tahun saya menyandang gelar S.IP sekaligus bekerja sebagai pustakawan sekolah. Harusnya saya bangga. Ilmu, gelar, dan pekerjaan saya berada di jalur yang sama. Sayangnya, rasa bangga itu belakangan agak tergerus—bukan karena orang mengira pustakawan cuma tukang jaga buku, melainkan karena ulah orang-orang yang justru pernah belajar di jurusan yang sama.
Lulusan Ilmu Perpustakaan meremehkan Pustakawan Jalur Diklat
Saya sering melihat alumni Ilmu Perpustakaan yang menganggap posisi pustakawan semestinya diisi oleh lulusan Ilmu Perpustakaan saja. Seolah-olah orang yang masuk lewat jalur diklat cuma pemain cadangan yang kebetulan ikut pertandingan.
UU Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan mengakui dua jalur untuk menjadi pustakawan: pendidikan formal dan diklat. Artinya, negara sendiri tidak pernah menganggap profesi ini sebagai hak eksklusif lulusan Ilmu Perpustakaan saja. Siapa pun bisa menjadi pustakawan selama syaratnya terpenuhi.
Konsekuensinya, lulusan ilpus tidak hanya bersaing dengan sesama alumni, tetapi juga dengan pustakawan jalur diklat. Dan, jujur saja, di lapangan tidak selalu lulusan ilpus yang unggul.
Di lapangan, tidak sedikit alumni ilpus yang kalah saing. Mereka beranggapan bahwa seharusnya sarjana ilmu perpustakaan lah yang mengisi posisi kosong pustakawan. Sebagian merasa lebih berkompeten dibandingkan non-ilpus yang latar pendidikannya bukan perpustakaan.
Padahal, jika bicara skill, belum tentu jebolan ilpus bisa lebih jago dari yang non-ilpus. Mereka yang menjadi pustakawan jalur diklat, bisa jadi jauh lebih terampil soal pekerjaan di lapangan. Mereka juga bisa menguasai skill yang dipunya lulusan ilpus seperti penomoran klasifikasi.
Merasa jago cuma karena gelar itu bikin malu. Takutnya, pas masuk dunia kerja, yang kelihatan justru banyak nggak bisanya.
Bangga memamerkan ketidakmampuan sendiri
Nomor dua ini masih ada sangkut pautnya dengan sikap nomor satu. Karena terlanjur merasa spesial, sebagian lulusan Ilmu Perpustakaan malah dengan bangga memamerkan hal-hal yang mestinya bikin kita belajar lebih rendah hati. Niatnya menunjukkan superioritas akademik, malah mempertontonkan kelemahan diri sendiri. Salah satu yang sering dibahas itu tentang klasifikasi DDC.
Dan, jujur saja, saya pun belum sepenuhnya mahir mengklasifikasikan semua subjek dengan DDC. Bedanya, saya memilih menganggapnya sebagai pekerjaan rumah, bukan sebagai alasan untuk merasa lebih unggul dari orang lain.
Saya merasa malu sekali, ketika baca postingan yang senada begini: “Saya saja lulusan Ilmu Perpustakaan belum mahir klasifikasi, apalagi yang cuma ikut diklat.”
Lah, kalau empat tahun kuliah saja belum bisa, bukankah itu mestinya jadi alasan untuk lebih rendah hati? Entah sejak kapan ‘ketidakmampuan’ berubah menjadi bukti superioritas akademik. Logikanya mirip orang yang bilang, “Saya lulusan sekolah memasak saja masih sering gosong bikin nasi, apalagi yang belajar otodidak.”
Merasa cukup dengan skill kuliahan di Ilmu Perpustakaan
Penyakit lain yang saya lihat adalah perasaan bahwa empat tahun kuliah sudah cukup untuk menghadapi dunia kerja. Seolah-olah wisuda merupakan garis finis, bukan garis start untuk belajar lebih serius.
Saya punya kenalan, lulusan ilpus yang kelewat percaya diri. Saya akui orangnya pintar dan pekerja keras, tapi untuk waktu lama dia belum diterima kerja juga. Jujur, saya sendiri merasa heran. Namun, keheranan saya sirna ketika melihat cover letter, dan resume yang dia pakai melamar.
Resume dan cover letternya berantakan. Tidak sesuai dengan posisi yang dilamar, minim capaian, dan terasa seperti dibuat dengan asumsi bahwa gelar sarjana sudah cukup menjadi nilai jual utama.
Di lain kesempatan, saya pernah menjumpai lulusan Ilmu Perpustakaan yang public speakingnya masih berantakan; dan nggak tahu caranya mengembangkan program di perpustakaan.
Jujur saja, saya juga pernah melakukan kesalahan yang nomor 3 ini terutama bagian public speaking. Saya merasa ilmu yang saya pelajari di kampus sudah lebih dari cukup dan tidak perlu belajar hal lain. Padahal, perkuliahan cuma memberikan dasar-dasarnya saja. Alhasil, dunia kerja menyadarkan saya dengan cara paling tidak enak dan bikin malu seumur hidup.
Hanya tiket masuk dunia kerja, bukan medali
Pada akhirnya, gelar Sarjana Ilmu Perpustakaan hanyalah tiket masuk dunia kerja, bukan medali yang membuat kita otomatis lebih unggul dari orang lain. Jadi, daripada sibuk meremehkan pustakawan jalur diklat, memamerkan ketidakmampuan sendiri, atau merasa cukup dengan ilmu kampus, mungkin kita perlu lebih banyak belajar dan sedikit menurunkan ego.
Toh, pengunjung perpustakaan tidak pernah bertanya kita lulusan mana atau masuk lewat jalur apa. Mereka cuma ingin dibantu menemukan buku, informasi, atau dilayani sepenuh hati. Dan untuk urusan itu, ego akademik seringkali tidak berguna dibanding kemauan untuk terus belajar.
Penulis: Maulana Hasan
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
