3 Hal yang Akan Saya Rindukan dari Stasiun Gambir

3 Hal yang Akan Saya Rindukan dari Stasiun Gambir

3 Hal yang Akan Saya Rindukan dari Stasiun Gambir (Karuniaagustantini via Shutterstock.com)

Beberapa hari ini, Stasiun Gambir jadi buah bibir di media sosial. Pasalnya, stasiun yang selama ini jadi salah satu pintu masuk dan pintu keluar Jakarta tak lagi menerima layanan kereta jarak jauh, dan dialihkan ke Manggarai.

Sebagai salah satu perantau yang pernah bekerja di Jakarta, pastinya saya akan sangat kangen dengan keberadaan Stasiun Gambir. Gimana nggak kangen, Stasiun Gambir adalah saksi bagaimana susahnya saya saat pertama kali menghadiri wawancara kerja setelah saya baru lulus kuliah. Banyak suka dukanya. Selain itu, ada sejumlah hal yang akan saya rindukan dari Stasiun Gambira.

#1 Monas

Hal utama yang akan saya rindukan adalah Monumen Nasional alias Monas. Monumen yang dibangun untuk mengenang mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda ini telah menjadi icon Ibukota Jakarta selama puluhan tahun.

Bagi orang luar Jakarta seperti saya, bisa menginjakkan kaki di Monas adalah salah satu hal yang harus saya lakukan ketika bekerja atau berlibur di Jakarta karena sejak kecil, saya hanya bisa melihat Monas lewat surat kabar, televisi, maupun internet.

Saat saya bekerja di Jakarta, Monas bukanlah sebuah bangunan tanpa arti bagi saya maupun jutaan perantau lainnya yang mengadu nasib di Jakarta. Monas seolah-olah jadi sosok yang mengucapkan selamat datang pada saya saat baru saja turun dari kereta Argo parahyangan. Monas juga seolah-olah jadi sosok yang mengucapkan selamat tinggal pada saya saat saya pulang ke Bandung.

“Kan tetep bisa liat Monas, Bang. Tinggal ngojek aja ke sono.” Ya iya, tapi kan beda rasanya kalau turun langsung dari Gambir getooo.

#2 Jalan-jalan sekitar Stasiun Gambir

Hal kedua yang akan saya rindukan adalah sejumlah objek wisata Jakarta yang ada di sekitaran Stasiun Gambir seperti Lapangan Banteng, Galeri Nasional Indonesia, Perpustakaan Negara Indonesia, hingga Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta. Sering kali, saya sengaja datang ke Stasiun Gambir beberapa jam lebih awal dari waktu keberangkatan supaya saya bisa mengunjungi tempat-tempat tersebut.

Saya juga pernah memesan tiket menuju Bandung pada pukul 7 petang atau 9 malam biar saya bisa langsung pulang ke Bandung sepulang kerja, nggak tahunya saya bisa pulang dari kantor lebih awal. Jadinya saya bisa jalan-jalan ke tempat-tempat tersebut deh sambil menikmati suasana ibukota dengan segala serba-serbinya. Daripada bengong di stasiun?

Nah, jika operasional Stasiun Gambir sebagai sentra pelayanan kereta jarak jauh sudah benar-benar dipindahkan ke Stasiun Manggarai, saya jadi tidak bisa mengunjungi tempat-tempat yang saya sebutkan di atas. Jadinya saya bakal kangen banget dengan tempat-tempat tersebut.

“Kan bisa ngojek ke…”

IYA, TAU, TAPI VIBES-NYA BEDA, MALIIIH.

#3 Romantisme Gambir

Hal ketiga sekaligus hal terakhir yang akan saya rindukan tentu saja romantisme Stasiun Gambir itu sendiri. Gambir adalah saksi kekasih yang melepas kepergian yang dicinta, dan orang tua melepas anak merantau. Momen-momen itu, amat berharga. Meski menyakitkan, namun terlalu indah untuk dilupakan. Gambir, adalah tempat merawat kenangan.

Saya juga akan rindu dengan kucing-kucing di Stasiun Gambir yang entah kenapa selalu menyambut saya ketika saya baru saja tiba dari Bandung. Saya memang nggak bisa bahasa kucing, tapi kayaknya mereka memang menyambut saya. Atau memang mereka sengaja minta makanan sama saya karena saya kebetulan bawa makanan di dalam tas? Entahlah. Semoga kucing-kucing di Stasiun Gambir sehat selalu.

Selain itu, nggak akan ada lagi berita tahunan yang isinya selalu sama, yakni, “Keruwetan Stasiun Gambir menjelang Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru”

Itulah tiga hal yang akan saya rindukan dari Stasiun Gambir. Bagi seperti saya, Stasiun Gambir bukanlah stasiun biasa. Stasiun ini bahkan lebih berkesan untuk saya dibandingkan Stasiun Bandung. Gambir, bagi saya, adalah Stasiun King’s Cross. Dan saya adalah Harry Potter dalam karangan saya sendiri.

Mudah-mudahan, nantinya Stasiun Manggarai bisa melayani penumpang kereta dengan lebih baik lagi. Saya pun setuju dengan perpindahan kereta jarak jauh ke Stasiun Manggarai, dengan catatan, PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) dan pihak yang diamanahi untuk mengurusi hal tersebut bisa memastikan bahwa seluruh fasilitasnya sudah siap. Seperti loket pembelian tiket, peron, toilet, food court, ruang laktasi, masjid, dan terutama, parkiran dan akses jalannya. Sebab akses jalan ke Stasiun Manggarai tidak sebesar akses jalan ke Stasiun Gambir. Jangan sampai malah nambah ruwet ibu kota yang sebentar lagi bakalan pindah.

Akhir kata, goodbye, Gambir!

Penulis: Raden Muhammad Wisnu
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Klaten, Kota Indah yang (Sialnya) Terjepit Jogja dan Solo

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.
Exit mobile version