Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

3 Hal Lumrah bagi Pengemudi Jakarta, tapi Tidak Lumrah Dilakukan di Jogja

Raynal Payuk oleh Raynal Payuk
2 Desember 2020
A A
Ritual Memutari Ring Road Jogja, Wahana Pelepas Galau ala Muda-mudi Setempat terminal mojok.co

Ritual Memutari Ring Road Jogja, Wahana Pelepas Galau ala Muda-mudi Setempat terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Saat pertama kali masuk universitas di kota Jogja, hal pertama yang bikin saya kaget adalah betapa tertibnya pengendara motor dan mobil di Jogja. Walau makin hari, teman kuliah saya yang memang warga lokal selalu mengeluh bahwa jalanan kota ini makin semrawut, ada perasaan bahwa sekacau-kacaunya jalanan Jogja, masih lebih mending dari Jakarta. Saya sebagai pengemudi Jakarta saksinya.

Mungkin bisa dibilang “cultural shock”, tapi setelah beberapa tahun kuliah di sini, saya sadar gaya mengemudi ala orang ibu kota nggak bisa diterapkan di Jogja. Dari situ saya lihat ada tiga hal yang bisa dibilang lumrah bagi pengemudi Jakarta, tapi bisa membuatmu diliatin sama pengemudi lainnya kalau hal “lumrah” itu dilakukan di Jogja.

#1 Helm hukumnya wajib

Kita semua tahu bahwa berdasarkan peraturan, helm itu wajib dipakai semua pengendara motor, baik pengemudi Jakarta, Jogja, dan di mana pun seluruh Indonesia. Cuma kalau meminjam bahasa anak Fakultas Hukum, itu das sollen–nya atau hukum tertulisnya saja. Das sein atau praktiknya, imbauan menggunakan helm di Jakarta lebih seperti sebuah panduan.

Kalau jaraknya jauh dan masih siang hari di mana kemungkinan razia polisi tinggi, hampir semua orang pakai helm. Namun, mulai masuk magrib saja, jumlah pengemudi Jakarta tanpa helm sudah bertambah. Masuk jalan raya yang lebih kecil lagi, kemungkinan bisa ketemu triple kill alias anak muda bonceng tiga tanpa helm. Fenomena yang belum pernah saya lihat di Jogja, tapi sering terjadi di jalanan kampung Jakarta.

Beda sama di Jogja, mau jarak dekat atau tengah malam pun, kebanyakan pengemudi motor tetap pakai helm. Alasan cuma ke minimarket atau panas nggak berlaku di sini. Bahkan saya sempat kena peringatan saat keluar ke minimarket pukul 23.00 tanpa pakai helm. Peringatan bukan dari polisi tentunya, tapi malah dari tukang parkirnya.

#2 Berhenti pada tempatnya dan jalan pada waktunya

Saya masih ingat pengalaman pertama saya hampir ditilang adalah saat saya dihampiri polisi yang menegur bahwa saya berhenti di zebra cross waktu lampu merah. Boro-boro berhenti di zebra cross, pengemudi motor Jakarta berhenti bisa di depan lampu merah. Belum lagi semakin lama lampu merahnya, pasti ada satu pengemudi motor makin maju ke tengah perempatan, diikuti sepuluh lebih motor lainnya. Bahkan di beberapa perempatan yang terkenal lampu merahnya lama seperti di Raden Intan, Jakarta Timur, setengah badan perempatan jalan bisa penuh puluhan motor.

Beda di Jogja, pengemudi bukan hanya berhenti di belakang zebra cross, tapi di belakang zona khusus sepeda kalau ada. Saya saja harus membiasakan mundur beberapa centimeter saat saat berhenti di lampu merah, maklum terbiasa kebablasan. Belum lagi membiasakan bahwa lampu kuning berhenti artinya baru bersiap untuk berjalan. Kalau di Jakarta, itu mah artinya antara langsung tancap gas atau tarik gas lebih dalam lagi.

Oh dan walau ada flyover, belum pernah saya lihat ada yang berhenti buat jualan kopi pakai motor dan melayani orang nongkrong malam minggu dari atas jembatan layang. Kira-kira bagaimana rasanya kalau jembatan layang Lempuyangan dijadikan tempat nongkrong kayak jembatan layang Klender ya?

Baca Juga:

Kuliah di Jakarta: Sebuah Anomali di Tengah Pemujaan Berlebihan terhadap Jogja dan Malang

Jangan Mencari Peruntungan dengan Kerja di Jakarta, Saya Cari Magang di Sini Saja Susah, Sekalinya Dapat Tidak Digaji dan Dijadikan Tenaga Gratisan

#3 No salip menyalip club

Sekarang waktunya ngomongin pengemudi mobil. Walau gak punya mobil sendiri di sini, beberapa kali saya ikut kendaraan teman sekampus saya. Bisa diperhatikan pengendara mobil di Jogja cenderung enggan menyalip kendaraan lain. Kayaknya memang budaya ewuh pakewuh ala Jogja bisa dilihat sampai di jalan raya. Pengemudi Jakarta mah nggak gitu.

Kontras dengan bapak saya yang suka nyalip di jalan raya Jakarta, bahkan jika ada lebih dari 2 mobil di depan, gas saja. Lebih hebat lagi teman saya yang dari Sumatera. Saat pengemudi Jogja jarang membunyikan klakson, dengan beraninya dia menekan tombol klakson setiap mau menyalip. Gara-gara hal tersebut, saya sampai menolak naik mobil saat dia supirnya dan menyarankan motor sebagai moda transportasi yang lebih cocok bagi penikmat salip-menyalip.

Pengalaman ini membuat saya sadar bahwa efek peer pressure di jalan raya sama tingginya kayak di SMA. Kalau satu pengendara nggak pakai helm di area tersebut, yang lainnya ikut-ikutan. Satu orang maju ke tengah perempatan saat lampu merah, dan puluhan pengemudi lainnya ikut. Ada mobil satu nyalip, mobil dan motor lainnya ikut nyalip di belakang.

Akibat berkendara di Jogja, gaya berkendara saya juga jadi lebih halus dan tertib karena tekanan dari sesama pengemudi motor. Efek positifnya tentu membuat saya lebih sadar akan tata tertib lalu lintas. Cuma efek negatifnya, setiap balik ke Jakarta dan nongkrong bareng teman, saya merasa jadi yang paling lelet pas diajak jalan hehehe.

BACA JUGA 3 Rekomendasi Anime untuk Penonton Dewasa yang Bakal Mengubah Konsepsimu dan tulisan lainnya dari Raynal Arrung Bua.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 2 Desember 2020 oleh

Tags: Jakartalalu lintas
Raynal Payuk

Raynal Payuk

Mantan Pers Kampus Dalam Pencarian Jati Diri dan Pekerjaan. Saat ini menjadi seorang pemikir yang sedang berusaha memecahkan paradoks tertua umat manusia

ArtikelTerkait

Pemda Karawang Sadarlah, Daerah Kalian Juga Mulai Tenggelam seperti Jakarta! Mojok.co

Pemda Karawang Sadarlah, Daerah Kalian Juga Mulai Tenggelam seperti Jakarta!

19 November 2023
5 Alasan Masuk Akal untuk Tidak Tinggal di Jakarta

5 Alasan Masuk Akal untuk Tidak Tinggal di Jakarta

9 Agustus 2022
ondel-ondel

Ondel-Ondel dan Riwayatnya Kini

12 September 2019
Tidak Semua Setan Betah di Kota Jakarta, Tidak Semua Malaikat Nyaman di Jogja mojok.co/terminal

Tidak Semua Setan Betah di Kota Jakarta, Tidak Semua Malaikat Nyaman di Jogja

16 Maret 2021
Mentang-mentang Semarang Sebelahan sama Venus, Bukan Berarti Orang Semarang Kebal dengan Panas Heatwave yang Sedang Menyerang jakarta

Belasan Tahun Tinggal di Semarang, Saya Kira Jakarta Lebih Panas Udaranya, Ternyata Semarang Masih Lebih Panas!

6 Juli 2024
Stasiun Gondangdia Damai, Beda dengan Stasiun KRL Jabodetabek Lain yang seperti Neraka Mojok.co

Stasiun Gondangdia Damai, Beda dengan Stasiun KRL Jabodetabek Lain yang seperti Neraka

20 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Film Horor “Songko” Memberi Kesegaran yang Menakutkan (Unsplash)

Film Horor “Songko” Memberi Kesegaran yang Menakutkan dari Cerita Rakyat Minahasa dan Membebaskan Kita dari Kebosanan Horor Jawa

23 April 2026
Pemkab Bangkalan Madura Hanya Omong Kosong Mau Bikin Kabupaten Ini Layak Anak, Nggak Layak Sama Sekali! sumenep, pamekasan

Menerka Alasan Bangkalan akan Terus Berada di Bawah Sumenep dan Pamekasan, padahal Kawasannya Masuk Kota Metropolitan

28 April 2026
Satria FU Sudah Tak Pantas Disebut Motor Jamet, Yamaha Aerox lah Motor Jamet yang Sebenarnya

Alasan Mengapa Satria FU Masih Digandrungi ABG di Madura, Membuat Pria Lebih Tampan dan Bikin Langgeng dalam Pacaran

23 April 2026
Purwokerto Dipertimbangkan Orang Kota untuk Slow Living, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru Mojok.co

Purwokerto Jadi Tempat Slow Living Orang Kota, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru

22 April 2026
Pengeluaran Tak Terduga setelah Menikah, Bikin Pusing dan Hampir Berutang Tiap Bulan Mojok.co

Pengeluaran Tak Terduga setelah Menikah, Bikin Pusing dan Hampir Berutang Tiap Bulan

24 April 2026
Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

27 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma
  • YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal
  • Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita
  • Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara
  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
  • Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.