Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

3 Dosa Menyebalkan dari Guru Bahasa Indonesia Saat Mengajar

Ade Vika Nanda Yuniwan oleh Ade Vika Nanda Yuniwan
15 Maret 2023
A A
3 Dosa Menyebalkan dari Guru Bahasa Indonesia Saat Mengajar (Unsplash)

3 Dosa Menyebalkan dari Guru Bahasa Indonesia Saat Mengajar (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Sehemat ingatan, menjadi guru sama sekali nggak pernah terlintas dalam benak saya, apalagi menjadi guru Bahasa Indonesia. Dulu, menurut saya, guru Bahasa Indonesia adalah pekerjaan yang sedikit sia-sia karena kita mengajarkan bahasa nasional yang sebenarnya kita bisa pelajari di mana saja dan kapan saja.

Namun, anggapan di atas menjadi berkebalikan dengan apa yang saya lakukan saat ini. Tidak dinyana, akhirnya saya berani juga mengambil keputusan untuk menjadi guru Bahasa Indonesia. 

Profesi ini mendadak menjadi profesi yang sangat menantang. Menurut pengalaman saya, sering terjadi sebagian guru Bahasa Indonesia (nggak semua ya gaes) menormalisasi kesalahan-kesalahan yang bisa memengaruhi keberhasilan pembelajaran.

#1 Tidak membiasakan penggunaan Bahasa indonesia secara tepat

Saya menyadari jika keberhasilan kelas Bahasa Indonesia nggak sepenuhnya tentang teori, tapi juga tentang praktik. Salah satu praktiknya ya sudah pasti penggunaan dalam kehidupan sehari-hari secara tepat dan aplikatif.

Sayangnya, penggunaannya aplikatif belum sepenuhnya dilakukan oleh guru dan siswa. Masing sering terjadi guru Bahasa Indonesia mencampurkan bahasa daerah yang akhirnya malah menimbulkan ambiguitas, terutama pada siswa. Padahal, niat hati masuk kelas biar mahir berbahasa Indonesia, malah belajar bahasa campuran alias campur kode. Gimana bisa dapat kosakata yang baru dan banyak kalau begini?

#2 Monoton dan tekstual

Saya nggak menyalahkan guru Bahasa Indonesia yang pusat pembelajarannya ada pada teks dan buku pelajaran. Tapi setidaknya, guru seperti ini nggak melupakan kalau keterampilan bahasa nggak hanya membaca dan menulis saja, tapi ada menyimak dan berbicara.

Kedua keterampilan dasar berbahasa itu sering dilupakan seolah-olah pembelajarannya cukup membaca, menelaah, dan menulis teks saja. Padahal, jauh daripada itu, pembelajaran Bahasa Indonesia juga melatih siswa dalam memahami apa yang mereka simak dan menyampaikan informasi apa yang mereka pahami kepada orang lain.

Selain menjadikan teks dan buku sebagai bahan ajar utama, sebagian guru Bahasa Indonesia kurang menguasai medan pembelajaran. Alhasil, model pembelajaran seolah-olah memiliki pakem yang nggak bisa diimprovisasi sama sekali. 

Baca Juga:

Guru Agama Katolik, Pekerjaan dengan Peluang Menjanjikan yang Masih Kurang Dilirik Orang

20 Kata Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda yang Penulisan dan Bunyinya Sama, tapi Maknanya Jauh Berbeda

Padahal ya, menjadi guru itu bebas berkreasi apalagi kita hidup dan mengajar di zaman Mas Menteri Nadiem Makarim menjabat. Siapa yang masih asing dengan Kurmer? Iya yang katanya bebas mengajar dan belajar itu lho. Nyatanya pengesahan Kurmer nggak bikin semua guru sadar betapa bebasnya kita mengkreasikan bahan dan kegiatan belajar siswa.

#3 Lupa tentang literasi

Belajar Bahasa Indonesia berarti belajar literasi. Kegiatan literasi yang bisa dilakukan dalam sangat beragam, bahkan guru Bahasa Indonesia bisa menjadi fasilitator dan role model yang sesuai untuk siswa. Bayangkan saja jika siswa belajar literasi langsung dari pengalaman guru. Pembelajaran ini sudah pasti memberi kesan yang dalam bagi mereka dan sesuatu yang berkesan sudah pasti akan diingat selamanya.

Sayangnya, sebagian guru alpa kegiatan literasi. Literasi hanya sebatas membaca dan menulis selanjutnya, nggak ada pengkategorian level pengembangan keterampilan literasi sebagai bentuk tindakan keberlanjutan literasi dalam kelas. Kalau dulu kita mengenal tipe soal HOTS dalam Kurtilas, dalam Kurmer kita mengenal tipe soal literasi.

Soal literasi memang sangat berkaitan dengan kegiatan menumbuhkan minat siswa kepada bahan bacaan. Tetapi, pada dasarnya, kegiatan literasi adalah kegiatan di mana siswa bisa terbiasa mencari tahu sesuatu karena rasa keingintahuan mereka. Nah, cara menumbuhkan rasa keingintahuan mereka itulah yang menjadi kunci besar kesuksesan pembelajaran literasi.

Kalau sudah memperhatikan “dosa-dosa” di atas, apakah anak didik kita seketika jenius dan mahir? Tentu tidak! Meskipun nggak langsung menjadikan mereka seorang ahli, setidaknya kita, para guru Bahasa Indonesia, sudah berusaha menciptakan kelas semenarik mungkin sehingga membuat kesan baik mata pelajaran ini kepada siswa. Kalau sudah baik, apa yang terjadi selanjutnya? Mereka jadi gemar belajar dan kemahiran berbahasa menjadi sebuah keniscayaan.

Jadi, kalau ada siswa yang belum mahir, mari sama-sama merefleksi dan mengevaluasi diri. Salam bahasa!

Penulis: Ade Vika Nanda Yuniwan

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Jangan Anggap Mudah Bahasa Indonesia kalau Nulis Saja Masih Sering Salah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Maret 2023 oleh

Tags: bahasa indonesiaguruguru bahasa indonesiamata pelajaran bahasa indonesianadiem makarim
Ade Vika Nanda Yuniwan

Ade Vika Nanda Yuniwan

Pekerja literasi yang mencintai buku, anak-anak, dan pendidikan. Suka berdiskusi sambil nulis ringan untuk isu-isu yang di sekelilingnya.

ArtikelTerkait

Pengalaman Guru yang Nggak Bahasa Isyarat Mengajar Murid Tuli Mojok.co

Pengalaman Guru yang Nggak Bisa Bahasa Isyarat Mengajar Murid Tuli

1 November 2023
Pengajar Curhat Oversharing ke Murid Itu Bikin Muak (Unsplash)

Tolong, Jadi Pengajar Jangan Curhat Oversharing ke Murid atau Mahasiswa, Kami Cuma Mau Belajar

30 November 2025
11 Kosakata Sehari-hari yang Sebenarnya Berasal dari Bahasa Belanda Mojok.co

11 Kosakata Sehari-hari yang Sebenarnya Berasal dari Bahasa Belanda

20 Desember 2023
Belajar Sabar Layaknya Nadiem Makarim POP muhammadiyah NU setuju sampoerna terminal mojok.co

Nadiem Makarim, Milenial di Pemerintahan yang Membuat Hidup Orang Miskin Terasa Menjadi Makin Sial

26 Juli 2020
Kosakata Bahasa Tegal yang Susah Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Kosakata Bahasa Tegal yang Susah Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

9 Oktober 2023
golput dan prabowo

Masuknya Prabowo ke Kabinet dan Perkiraan Golput yang Akhirnya Terbukti

22 Oktober 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026
Aturan Kereta Api Bikin Bingung- Bule Tenggak Miras Dibiarkan (Unsplash)

Pengalaman Naik Kereta Api Segerbong dengan Bule yang Membawa Miras Membuat Saya Mempertanyakan Larangan Ini

5 Februari 2026
Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan Mojok.co

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan

6 Februari 2026
4 Aib Guci Tegal yang Membuat Wisatawan Malas ke Sana Mojok.co

Objek Wisata Guci Tegal Harus Bangkit karena Kabupaten Tegal Tak Ada Apa-Apanya Tanpa Guci

2 Februari 2026
Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

31 Januari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.